Dipublikasikan: 23 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 23 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Icarus adalah tokoh folklor dan mitologi Yunani Kuno yang dikenal luas sebagai simbol ambisi manusia, kebebasan, dan tragedi akibat kesombongan. Kisah Icarus, yang terbang terlalu dekat dengan matahari menggunakan sayap buatan, telah menjadi salah satu narasi mitologis paling berpengaruh dalam kebudayaan Barat. Dalam kajian folklor, cerita Icarus dipahami sebagai mitos didaktis yang mengajarkan batasan manusia, hubungan antara pengetahuan dan etika, serta konsekuensi dari pelanggaran terhadap tatanan kosmis.
Daftar Isi
Folklor Icarus berpusat pada hubungan antara Icarus dan ayahnya, Daedalus, seorang pengrajin dan arsitek jenius Athena. Daedalus terkenal karena kecerdasannya, namun kecerdasan itu pula yang menjerumuskannya ke dalam konflik politik. Ia dan putranya kemudian dipenjarakan di Labirin Kreta oleh Raja Minos agar tidak dapat melarikan diri dan membocorkan rahasia bangunan tersebut.
Untuk melarikan diri, Daedalus menciptakan sepasang sayap dari bulu burung yang direkatkan dengan lilin. Ia memperingatkan Icarus agar tidak terbang terlalu rendah, karena uap laut akan memberatkan sayap, dan tidak terlalu tinggi, karena panas matahari akan melelehkan lilin. Pada awalnya, pelarian itu berhasil, dan Icarus merasakan kebebasan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Namun, mabuk oleh kegembiraan dan rasa kuasa atas langit, Icarus mengabaikan nasihat ayahnya dan terbang semakin tinggi. Panas matahari melelehkan lilin pada sayapnya, bulu-bulu terlepas, dan Icarus jatuh ke laut hingga tewas. Daerah tempat ia jatuh kemudian dikenal sebagai Laut Icarian. Tragedi ini menutup kisah pelarian tersebut dan menjadi peringatan abadi tentang batasan manusia.
Folklor Icarus termasuk dalam kategori mitos, karena berkaitan dengan figur semi-legendaris, tatanan kosmis, dan pesan moral universal. Dalam klasifikasi folklor, kisah Icarus dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai mitos, cerita ini tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai sarana refleksi moral dan filosofis.
Folklor Icarus berkembang dalam kebudayaan Yunani Kuno yang sangat menghargai rasio, keterampilan, dan pencarian pengetahuan, namun juga menekankan konsep sophrosyne, yaitu pengendalian diri dan keseimbangan. Kisah ini mencerminkan ketegangan antara inovasi manusia dan hukum alam yang tidak boleh dilanggar.
Dalam konteks budaya Yunani, mitos Icarus sering dikaitkan dengan konsep hubris, yaitu kesombongan manusia yang menantang tatanan ilahi. Cerita ini menjadi peringatan bahwa kemampuan teknologis dan kecerdasan tidak boleh dilepaskan dari kebijaksanaan moral. Pengaruh folklor Icarus meluas hingga sastra, seni rupa, filsafat, dan psikologi modern sebagai metafora kegagalan akibat ambisi berlebihan.
Folklor Icarus memiliki makna dan fungsi yang luas dalam tradisi budaya dan pemikiran manusia, antara lain: