Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Ibadisme adalah cabang unik dalam Islam yang dikenal karena menekankan toleransi, kesederhanaan, dan integritas moral dalam kehidupan komunitas Muslim. Aliran ini berakar dari Khawarij pada abad pertama Hijriyah, tetapi berbeda secara signifikan karena menolak kekerasan dan ekstremisme. Ibadisme menekankan pentingnya kepemimpinan yang adil, kehidupan sosial yang harmonis, dan keseimbangan antara ibadah formal, akhlak pribadi, dan pelayanan masyarakat. Saat ini, Ibadisme dikenal terutama di Oman, Zanzibar, dan komunitas minoritas di beberapa wilayah Afrika Utara, serta menonjol karena praktik keagamaannya yang moderat dan menekankan kesalehan individu.
Daftar Isi
Ajaran Ibadisme berpusat pada tauhid, keadilan, dan penegakan moralitas. Aliran ini menekankan perlunya seorang imam atau pemimpin komunitas yang dipilih berdasarkan pengetahuan, keadilan, dan integritas moral, bukan sekadar garis keturunan atau kekuasaan politik. Dalam praktik ibadah, Ibadisme mengikuti lima rukun Islam seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi selalu menekankan kesederhanaan, disiplin, dan pengendalian hawa nafsu. Aliran ini menekankan toleransi terhadap perbedaan pendapat, mendorong dialog antara komunitas Muslim maupun dengan non-Muslim, dan menekankan keseimbangan antara ritual, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Ibadisme juga memandang bahwa penyelenggaraan komunitas yang harmonis dan adil merupakan bagian integral dari praktik keagamaan.
Ibadisme muncul pada abad pertama Hijriyah sebagai cabang yang berkembang dari Khawarij, tetapi berbeda dalam sikap terhadap kekerasan dan ekstremisme. Alih-alih menyerukan pemberontakan atau perlawanan bersenjata, kelompok Ibadis menekankan kesalehan individu, pengabdian kepada Allah, dan stabilitas komunitas. Komunitas-komunitas Ibadis awal membentuk pusat-pusat otonom di wilayah Oman, Hadramaut, dan pantai timur Afrika, di mana mereka membangun masyarakat yang menekankan pendidikan agama, hukum Islam, dan struktur sosial yang adil. Sepanjang sejarah, Ibadisme berhasil mempertahankan identitasnya melalui kepemimpinan imamat yang dipilih secara konsensus, pendidikan yang terstruktur, dan organisasi sosial yang disiplin.
Pada era kolonial, Ibadisme menghadapi tekanan dari kekuasaan asing, tetapi tetap bertahan di Oman dan wilayah-wilayah pesisir Afrika Timur, di mana mereka menekankan perdamaian, akhlak, dan solidaritas komunitas. Di era modern, Oman menjadi pusat utama Ibadisme, dengan peran signifikan dalam politik, hukum, dan pendidikan. Komunitas Ibadis di Zanzibar, Libya, dan Algeria juga terus menjaga tradisi moderat mereka, sambil tetap aktif dalam kegiatan sosial dan pengajaran agama, menunjukkan bahwa Ibadisme mampu menggabungkan prinsip-prinsip spiritual dengan realitas kehidupan masyarakat kontemporer.
Tokoh paling awal adalah Abdullah ibn Ibadh, yang menjadi pendiri ideologis aliran ini dan menyusun prinsip-prinsip teologi serta etika komunitas. Sejak itu, para pemimpin Ibadis di Oman dan Afrika Timur memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas komunitas, membangun institusi pendidikan, dan menegakkan hukum Islam yang adil. Selain itu, pemimpin-pemimpin modern Ibadis berperan dalam integrasi pendidikan, sosial, dan politik, menjadikan Ibadisme sebagai contoh Islam moderat yang harmonis dan toleran.