Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Graham Harman adalah seorang filsuf Amerika kontemporer yang dikenal sebagai tokoh sentral dalam pengembangan Object-Oriented Ontology (OOO), sebuah pendekatan metafisik yang menantang dominasi antropo-sentrisme dalam filsafat modern dan kontemporer. Pemikiran Harman menempati posisi penting dalam lanskap filsafat abad ke-21 karena upayanya mengembalikan martabat ontologis benda-benda, objek, dan entitas non-manusia yang selama ini direduksi menjadi sekadar konstruksi kesadaran, bahasa, atau relasi sosial. Dengan gaya spekulatif yang berani dan sistematis, Harman menggabungkan warisan Aristoteles, Heidegger, dan fenomenologi dengan kebutuhan filsafat kontemporer untuk merespons krisis ekologis, teknologi, dan sains modern.
Daftar Isi
Graham Harman lahir pada 21 Mei 1968 di Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan filsafat di Pennsylvania State University, tempat ia menyelesaikan studi doktoralnya dengan disertasi yang berfokus pada pemikiran Martin Heidegger. Sejak awal karier akademiknya, Harman menunjukkan ketertarikan mendalam pada metafisika dan ontologi, bidang yang pada saat itu cenderung terpinggirkan dalam filsafat kontinental yang lebih menekankan bahasa, sejarah, dan kritik ideologi.
Harman kemudian mengajar di berbagai institusi akademik internasional dan lama berafiliasi dengan American University in Cairo, di mana ia mengembangkan sebagian besar gagasan awal Object-Oriented Ontology. Selain aktivitas akademik formal, Harman dikenal sebagai penulis yang produktif dan aktif dalam diskursus filsafat lintas disiplin, termasuk seni, arsitektur, sastra, dan teori media. Ia sering dipandang sebagai figur penghubung antara filsafat akademik dan gerakan intelektual yang lebih luas yang dikenal sebagai speculative realism.
Inti pemikiran Graham Harman adalah Object-Oriented Ontology (OOO), sebuah posisi ontologis yang menegaskan bahwa objek memiliki keberadaan dan realitas yang independen dari relasinya dengan manusia maupun dengan objek lain. Harman menolak pandangan filsafat modern yang mereduksi objek menjadi apa yang tampak bagi kesadaran manusia atau menjadi fungsi dalam jaringan relasi. Baginya, setiap objek—baik manusia, batu, meja, institusi, maupun konsep—memiliki kedalaman ontologis yang tidak pernah sepenuhnya dapat diakses atau dihabiskan oleh relasi apa pun. Dengan demikian, OOO menantang baik idealisme maupun materialisme reduksionis.
Salah satu konsep kunci dalam filsafat Harman adalah gagasan tentang “penarikan” (withdrawal) objek, yang ia kembangkan dari pembacaan kreatif terhadap Heidegger. Harman menafsirkan bahwa objek selalu menarik diri dari akses penuh, baik dalam pengalaman manusia maupun dalam interaksi kausal dengan objek lain. Tidak ada relasi yang mampu mengungkap keseluruhan realitas objek. Konsep ini menegaskan bahwa realitas selalu lebih kaya daripada manifestasinya, dan bahwa metafisika harus mengakui keberadaan lapisan realitas yang tidak terjangkau secara langsung oleh pengalaman atau sains.
Harman secara tajam mengkritik apa yang ia sebut sebagai relasionalisme, yaitu pandangan bahwa entitas hanya ada sejauh mereka berada dalam relasi. Ia berargumen bahwa jika objek sepenuhnya direduksi pada relasi, maka tidak ada alasan untuk berbicara tentang identitas atau keberlanjutan objek. Dengan mempertahankan otonomi objek, Harman menegaskan bahwa relasi selalu bersifat sekunder dan tidak pernah menghabiskan realitas objek itu sendiri. Kritik ini ditujukan baik pada teori sosial, konstruktivisme, maupun pendekatan tertentu dalam filsafat sains dan fenomenologi.
Dalam pemikiran Harman, seni menempati posisi filosofis yang istimewa. Ia berpendapat bahwa pengalaman estetis memungkinkan kita mengintip kedalaman objek tanpa mereduksinya pada fungsi atau makna instrumental. Melalui metafora, ironi, dan ambiguitas, seni memperlihatkan jarak antara objek sebagaimana ia hadir dan objek sebagaimana ia ada. Dengan demikian, estetika bukan sekadar cabang filsafat tambahan, melainkan model penting bagi metafisika itu sendiri. Harman bahkan mengusulkan bahwa estetika adalah “filsafat pertama” karena ia paling setia pada struktur realitas yang tidak pernah sepenuhnya terungkap.
Meskipun sering diasosiasikan dengan speculative realism, Harman menempati posisi yang khas dalam gerakan tersebut. Ia sepakat dengan kritik terhadap korelasionisme—pandangan bahwa kita hanya dapat mengetahui korelasi antara pikiran dan dunia—namun menolak pendekatan materialisme radikal atau naturalisme ekstrem. OOO Harman mempertahankan metafisika spekulatif yang mengakui realitas objek sekaligus keterbatasan akses manusia terhadapnya. Dengan cara ini, ia menawarkan alternatif terhadap baik positivisme ilmiah maupun relativisme postmodern.
Meskipun tidak merumuskan etika normatif secara sistematis, pemikiran Harman memiliki implikasi etis dan ekologis yang signifikan. Dengan mengakui realitas dan otonomi objek non-manusia, OOO menantang etika antropo-sentris dan membuka ruang bagi cara berpikir baru tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan, teknologi, dan entitas non-manusia lainnya. Dalam konteks krisis ekologis, pendekatan ini mendorong penghormatan terhadap dunia sebagai kumpulan entitas yang memiliki keberadaan dan nilai di luar kepentingan manusia semata.
Harman secara konsisten membela relevansi metafisika dalam filsafat kontemporer. Ia menolak anggapan bahwa metafisika telah “mati” atau digantikan oleh analisis bahasa dan kritik sosial. Sebaliknya, ia berargumen bahwa pertanyaan tentang apa yang ada dan bagaimana keberadaan itu bekerja tetap fundamental, terutama dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh teknologi, kecerdasan buatan, dan entitas hibrida. Dengan gaya spekulatif yang serius, Harman menghidupkan kembali metafisika sebagai proyek intelektual yang berani dan relevan.