Gnostisisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Gnostisisme adalah sebuah aliran religius dan filosofis kompleks yang berkembang pada abad pertama hingga ketiga Masehi, ditandai oleh penekanan pada gnosis—pengetahuan rohani yang dianggap sebagai kunci keselamatan. Gnostisisme tidak merujuk pada satu agama tunggal, tetapi merupakan kumpulan tradisi mistik dan metafisik yang memadukan unsur Kristen awal, Yahudi, Helenistik, Persia, dan filsafat Platonik. Para Gnostik percaya bahwa dunia materi adalah hasil ciptaan yang cacat dan bahwa keselamatan dicapai melalui pencerahan batin yang mengembalikan jiwa kepada realitas ilahi yang sejati.

Ajaran Gnostisisme

Ajaran inti Gnostisisme dapat dirangkum dalam beberapa konsep teologis dan kosmologis berikut:

  1. Dualisme Radikal: Roh vs Materi
    Kaum Gnostik meyakini adanya pemisahan tajam antara dunia rohani yang suci dengan dunia materi yang dianggap rendah, gelap, atau korup. Materi dipandang sebagai sumber penderitaan dan keterasingan spiritual.
  2. Allah Transenden yang Tak Terjangkau
    Dalam banyak sistem Gnostik, terdapat Allah yang sepenuhnya transenden, tidak dikenal, dan jauh melampaui dunia ciptaan. Dari Allah ini memancar serangkaian makhluk rohani disebut aeon, yang membentuk Pleroma (kepenuhan ilahi).
  3. Peran Demiurgos
    Dunia materi diciptakan bukan oleh Allah Tertinggi, tetapi oleh Demiurgos, makhluk tingkat lebih rendah yang tidak mengetahui realitas ilahi. Demiurgos sering disamakan dengan YHWH dalam beberapa teks Gnostik, namun ini mencerminkan polemik internal dan bukan pandangan Yahudi atau Kristen arus utama.
  4. Asal-usul Jiwa Manusia
    Manusia memiliki percikan ilahi yang terperangkap dalam tubuh materi. Percikan ini berasal dari Pleroma dan dipanggil untuk kembali ke sumbernya.
  5. Keselamatan melalui Gnosis
    Keselamatan bukan diperoleh melalui iman semata, melainkan melalui gnosis—pengetahuan mistis tentang asal-usul ilahi manusia, struktur kosmos, dan jalan pembebasan.
  6. Kristologi Gnostik
    Banyak Gnostik memandang Yesus sebagai utusan rohani yang datang untuk memberikan gnosis kepada manusia. Dua pandangan umum:
    • Doketisme: Kristus hanya tampak memiliki tubuh manusia.
    • Kristus turun ke atas Yesus: Roh Kristus masuk ke dalam manusia Yesus pada baptisan dan meninggalkannya sebelum penyaliban.
  7. Etika yang Beragam
    Karena materi dianggap tidak bernilai, beberapa kelompok Gnostik bersifat asketis ekstrem, sementara lainnya cenderung antinomian—mengabaikan aturan moral tradisional.
Orang lain juga membaca :  Monotelitisme

Sejarah Perkembangan Gnostisisme

  1. Asal-usul (abad pertama M)
    Gnostisisme muncul hampir bersamaan dengan Kekristenan awal. Beberapa aliran Yahudi, Helenistik, dan mistik Mesir memberi pengaruh besar pada pertumbuhan doktrin-doktrinnya.
  2. Perkembangan pada Abad Kedua
    Gnostisisme mencapai puncaknya, memunculkan berbagai sekte seperti Valentinianisme, Sethianisme, Basilideanisme, dan lain-lain. Pada masa ini, teks-teks Gnostik seperti Injil Tomas dan Injil Yudas mulai disusun.
  3. Penentangan Gereja Perdana
    Para Bapa Gereja seperti Irenaeus, Tertullian, Hippolytus, dan Origen menentang ajaran Gnostik karena dianggap bertentangan dengan Injil dan merusak konsep penciptaan, Kristologi, dan keselamatan.
  4. Penurunan Pengaruh (abad ke-4)
    Setelah Kekristenan menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi, Gnostisisme perlahan menghilang. Namun beberapa bentuknya bertahan dalam kelompok seperti Manikheisme.
  5. Penemuan Naskah Nag Hammadi (1945)
    Penemuan perpustakaan kuno ini di Mesir membuka kembali pemahaman modern tentang Gnostisisme. Teks seperti Gospel of Thomas, Apocryphon of John, dan Gospel of Mary memberi gambaran mendalam mengenai teologi Gnostik.
  6. Kebangkitan Minat Modern
    Pada abad ke-20 dan 21, Gnostisisme dipelajari kembali dalam konteks akademik, psikologis (melalui Carl Jung), dan budaya populer.

Tokoh-Tokoh dalam Gnostisisme

  1. Valentinus (100–160 M) – Teolog Gnostik paling berpengaruh; mengembangkan sistem teologi Valentinian.
  2. Basilides (abad ke-2) – Pemimpin Gnostik Aleksandria dengan kosmologi kompleks.
  3. Marcion (85–160 M) – Meski tidak selalu dianggap Gnostik, ajarannya banyak mempengaruhi dualisme Kristen awal.
  4. Irenaeus dari Lyon – Penentang utama Gnostisisme, sumber informasi penting melalui Against Heresies.
  5. Nag Hammadi Scribes – Para penyalin naskah yang memungkinkan teks-teks Gnostik bertahan hingga kini.

Referensi

  • Ehrman, B. D. (2003). Lost Christianities: The Battles for Scripture and the Faiths We Never Knew. Oxford University Press.
  • Pagels, E. (1979). The Gnostic Gospels. Vintage Books.
  • Layton, B. (1987). The Gnostic Scriptures. Doubleday.
  • King, K. L. (2003). What Is Gnosticism? Belknap Press.
  • Meyer, M. (Ed.). (2007). The Nag Hammadi Scriptures. HarperOne.
Orang lain juga membaca :  Paganisme

Citation

Previous Article

Fundamentalisme

Next Article

Gerakan New Age

Citation copied!