Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Gloria Jean Watkins, yang lebih dikenal dengan nama pena bell hooks, adalah seorang pemikir feminis, kritikus budaya, dan intelektual publik Amerika Serikat yang memberikan kontribusi besar terhadap teori feminis, kajian ras, kelas, pendidikan, dan politik budaya. Pemikirannya menempati posisi yang unik karena secara konsisten menggabungkan analisis teoritis dengan komitmen etis dan pedagogis yang kuat. Bell hooks menulis dengan gaya yang dapat diakses tanpa kehilangan kedalaman konseptual, dan menjadikan pengalaman hidup—khususnya pengalaman perempuan kulit hitam—sebagai sumber refleksi kritis terhadap struktur dominasi dalam masyarakat modern.
Daftar Isi
Gloria Jean Watkins lahir pada 25 September 1952 di Hopkinsville, Kentucky, Amerika Serikat, dan meninggal dunia pada 15 Desember 2021. Ia tumbuh dalam konteks segregasi rasial di Amerika Serikat bagian selatan, sebuah pengalaman yang sangat membentuk kesadaran politik dan intelektualnya sejak usia dini. Nama pena “bell hooks” diambil dari nama nenek buyutnya dan ditulis dengan huruf kecil sebagai sikap simbolik untuk mengalihkan perhatian dari sosok penulis ke gagasan yang disampaikan.
Bell hooks menempuh pendidikan di Stanford University, University of Wisconsin–Madison, dan meraih gelar doktor dari University of California, Santa Cruz. Ia mengajar di berbagai institusi akademik, termasuk Yale University, Oberlin College, dan City College of New York. Selain aktivitas akademik, bell hooks dikenal luas sebagai intelektual publik yang aktif menulis esai, buku, dan kritik budaya yang menjangkau audiens luas, menjadikannya salah satu suara paling berpengaruh dalam feminisme kontemporer.
Bagi bell hooks, feminisme bukan sekadar gerakan untuk kesetaraan gender dalam arti formal, melainkan proyek pembebasan radikal yang bertujuan menghapus segala bentuk dominasi dan penindasan. Ia secara tegas menolak feminisme liberal yang hanya berfokus pada kesetaraan individu perempuan dengan laki-laki dalam struktur yang sudah ada. Menurutnya, feminisme sejati harus bersifat transformasional, menantang sistem patriarki, kapitalisme, dan rasisme secara simultan. Feminisme tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan, tetapi juga sebagai jalan pembebasan bagi semua manusia yang terjebak dalam struktur kekuasaan yang menindas.
Salah satu kontribusi paling penting bell hooks adalah penekanannya pada keterkaitan antara ras, kelas, dan gender dalam analisis penindasan. Ia mengkritik feminisme arus utama yang didominasi oleh pengalaman perempuan kulit putih kelas menengah, karena gagal memahami realitas perempuan kulit hitam dan kelompok marjinal lainnya. Bagi bell hooks, penindasan tidak pernah bekerja secara tunggal; ia selalu beroperasi melalui jaringan relasi sosial yang kompleks. Pendekatan ini menjadikan pemikirannya sebagai fondasi penting bagi teori interseksionalitas dalam feminisme dan kajian kritis.
Bell hooks tidak hanya mengkritik dominasi patriarki atas perempuan, tetapi juga menyoroti dampak destruktif patriarki terhadap laki-laki. Ia berargumen bahwa sistem patriarki membentuk maskulinitas yang menekan ekspresi emosional, empati, dan kerentanan, sehingga merugikan semua pihak. Dengan pendekatan ini, bell hooks membuka ruang dialog yang lebih inklusif dalam feminisme, di mana laki-laki dipandang sebagai subjek yang juga dapat terlibat dalam perjuangan pembebasan, bukan semata-mata sebagai musuh ideologis.
Dalam bidang pendidikan, bell hooks mengembangkan konsep pedagogi transgresif yang terinspirasi oleh pemikiran Paulo Freire. Ia memandang ruang kelas sebagai ruang politik di mana relasi kekuasaan dapat direproduksi atau ditantang. Pendidikan, menurut bell hooks, harus bersifat dialogis, partisipatif, dan berorientasi pada pembebasan, bukan sekadar transmisi pengetahuan. Guru dan murid sama-sama terlibat dalam proses belajar yang kritis dan reflektif, sehingga pendidikan menjadi sarana emansipasi intelektual dan sosial.
Salah satu aspek paling khas dari pemikiran bell hooks adalah penekanannya pada cinta sebagai prinsip etis dan politik. Ia memandang cinta bukan sebagai perasaan sentimental, melainkan sebagai praktik komitmen, tanggung jawab, dan kepedulian yang aktif. Dalam konteks politik pembebasan, cinta menjadi kekuatan yang mampu melawan logika dominasi, kekerasan, dan eksklusi. Dengan mengangkat cinta sebagai kategori teoretis, bell hooks menantang tradisi filsafat politik yang sering memisahkan rasionalitas dari afeksi.
Bell hooks secara konsisten menganalisis budaya populer—film, musik, media massa—sebagai medan penting produksi ideologi. Ia menunjukkan bagaimana representasi ras, gender, dan kelas dalam budaya populer memperkuat atau menantang struktur dominasi. Kritik budaya ini tidak bersifat elitis; sebaliknya, bell hooks menggunakannya sebagai alat pedagogis untuk meningkatkan kesadaran kritis publik luas. Dengan demikian, budaya populer menjadi arena politik yang krusial dalam perjuangan pembebasan.
Bell hooks menekankan pentingnya suara dan bahasa bagi subjek-subjek marjinal. Ia berargumen bahwa berbicara dan menulis dari posisi pinggiran bukan sekadar tindakan ekspresi diri, melainkan tindakan politis yang menantang pusat kekuasaan. Dalam kerangka ini, pengalaman hidup bukan lawan dari teori, melainkan sumber pengetahuan kritis. Pendekatan ini menjadikan tulisan bell hooks kaya secara reflektif sekaligus kuat secara politis.