Dipublikasikan: 15 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Dipublikasikan: 15 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Gilles Deleuze adalah filsuf Prancis abad ke-20 yang dikenal karena filsafat poststrukturalis dan kontribusinya dalam metafisika, estetika, filsafat politik, dan teori sastra. Ia mengembangkan pemikiran yang radikal tentang perbedaan, pengulangan, dan relasi antar-konsep yang menantang tradisi filsafat Barat yang menekankan identitas dan kategorisasi tetap. Deleuze terkenal karena kolaborasinya dengan Félix Guattari, terutama melalui karya-karya seperti Anti-Oedipus dan A Thousand Plateaus, yang membentuk fondasi penting bagi filsafat kontemporer, teori kritis, dan pemikiran sosial.
Daftar Isi
Gilles Deleuze lahir pada 18 Januari 1925 di Paris, Prancis, dan meninggal pada 4 November 1995 di Paris. Ia menempuh pendidikan di Universitas Sorbonne, di mana ia mempelajari filsafat dan mendapat pengaruh dari Henri Bergson, Friedrich Nietzsche, dan Baruch Spinoza. Deleuze mengajar di berbagai institusi Prancis, termasuk Universitas Paris VIII, tempat ia menjadi figur sentral dalam pengembangan pemikiran poststrukturalis dan filsafat kontemporer.
Deleuze dikenal sebagai tokoh intelektual yang produktif dan eksperimental, sering memadukan filsafat klasik dengan teori kontemporer, seni, dan ilmu sosial. Meskipun karya-karyanya dianggap sulit dan kompleks, pemikirannya memberikan pengaruh besar dalam berbagai disiplin, termasuk studi sastra, filsafat politik, psikoanalisis, dan teori budaya.
Deleuze mengembangkan filsafat perbedaan (difference) dan pengulangan (repetition) sebagai inti pemikirannya. Ia menolak logika identitas tradisional yang menekankan kesamaan dan kategori tetap. Menurut Deleuze, realitas lebih baik dipahami melalui perbedaan yang dinamis, variasi, dan proses yang selalu berubah. Pengulangan bukan sekadar replikasi, tetapi memungkinkan munculnya variasi dan inovasi dalam eksistensi. Konsep ini menekankan bahwa pengalaman, realitas, dan kreativitas selalu dalam gerak dan tidak dapat dikurung dalam struktur tetap.
Deleuze menolak pemahaman ontologi yang monolitik atau hirarkis. Ia mengembangkan konsep multiplicity, yaitu realitas terdiri dari jaringan elemen yang heterogen, saling berhubungan, dan tidak dapat direduksi menjadi satu entitas tunggal. Multiplikitas ini memungkinkan pemikiran tentang identitas, subjek, dan struktur sosial secara fleksibel dan non-linear. Ontologi Deleuze menekankan hubungan, perubahan, dan transformasi sebagai prinsip dasar eksistensi.
Deleuze dan Guattari mengembangkan proyek kolaboratif yang radikal dalam dua volume: Anti-Oedipus dan A Thousand Plateaus. Mereka menganalisis kapitalisme sebagai sistem yang terstruktur melalui aliran kekuasaan, produksi keinginan, dan mekanisme sosial yang menindas kreativitas individu. Deleuze dan Guattari menggunakan konsep “schizoanalysis” untuk menggambarkan potensi pembebasan dari struktur represif melalui pengalihan aliran keinginan, kreativitas, dan relasi sosial yang non-hierarkis. Pendekatan ini menawarkan kerangka analisis kritis terhadap ekonomi politik, psikologi, dan budaya kontemporer.
Dalam A Thousand Plateaus, Deleuze dan Guattari memperkenalkan konsep rhizome sebagai model organisasi non-hierarkis dan non-linear. Rhizome menolak struktur pohon yang terpusat dan berakar tunggal, dan menekankan jaringan, konektivitas, dan potensi tak terbatas. Konsep ini diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari teori sosial hingga studi budaya, dan menggambarkan cara-cara baru dalam memahami relasi, identitas, dan penyebaran ide tanpa pusat atau otoritas tetap.
Deleuze menaruh perhatian besar pada seni dan estetika sebagai sarana untuk memahami pengalaman dan realitas. Ia menekankan peran seni dalam menciptakan “konsep-konsep baru” dan membuka kemungkinan bagi pemikiran alternatif terhadap struktur sosial dan kultural. Film, musik, dan seni visual dianggap sebagai medan untuk eksperimen konseptual, di mana persepsi, emosi, dan pengalaman dapat diubah melalui bentuk, ritme, dan intensitas.
Deleuze menolak gagasan subjek tunggal dan tetap. Ia melihat subjek sebagai hasil relasi sosial, aliran kekuasaan, dan interaksi intensitas yang selalu berubah. Pandangan ini menekankan proses produksi identitas, desentralisasi kekuasaan, dan pentingnya kreativitas dalam pembentukan diri. Pemikiran ini memberi kontribusi besar bagi teori kritis, feminisme, studi postkolonial, dan teori queer.
Pemikiran politik Deleuze menekankan pembebasan dari struktur represif, termasuk negara, institusi, dan norma sosial yang mengekang. Ia mendorong eksperimen sosial, hubungan horizontal, dan inovasi budaya sebagai bentuk resistensi terhadap otoritas yang mengekang. Filsafat Deleuze membuka ruang bagi pendekatan radikal terhadap perubahan sosial dan politik yang berpusat pada kreativitas, kerjasama, dan pluralitas.
Gilles Deleuze adalah filsuf Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai tokoh penting dalam filsafat kontemporer dan pascastrukturalisme. Ia banyak menulis tentang metafisika, perbedaan, kreativitas, serta berkolaborasi dengan Félix Guattari.
Gagasan utama Deleuze mencakup konsep perbedaan dan pengulangan, becoming (menjadi), serta penolakan terhadap pemikiran yang bersifat hierarkis dan representasional. Bersama Guattari, ia mengembangkan gagasan seperti rizoma, hasrat, dan kritik terhadap struktur kekuasaan yang kaku.
Pemikiran Gilles Deleuze berpengaruh luas karena menawarkan cara berpikir alternatif yang menekankan proses, kreativitas, dan pluralitas. Gagasannya memengaruhi filsafat, seni, sastra, studi budaya, hingga teori sosial kontemporer.