Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2025
Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Gandhisme merupakan ideologi politik, sosial, dan moral yang berakar pada ajaran Mahatma Gandhi, tokoh utama perjuangan kemerdekaan India. Ideologi ini menekankan ahimsa (tanpa kekerasan), satyagraha (kekuatan kebenaran), dan swadeshi (kemandirian ekonomi) sebagai dasar perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan. Gandhisme tidak hanya berfungsi sebagai strategi politik, tetapi juga sebagai filsafat hidup yang mengajarkan kesederhanaan, spiritualitas, dan tanggung jawab moral dalam membangun masyarakat yang damai dan adil.
Daftar Isi
Gandhisme dapat didefinisikan sebagai filsafat moral dan politik yang menekankan kebenaran, non-kekerasan, dan keadilan sosial sebagai jalan menuju kebebasan manusia.
Ideologi ini muncul di India pada awal abad ke-20, di tengah perjuangan melawan kolonialisme Inggris. Bagi Gandhi, revolusi sejati tidak dapat dicapai melalui kekerasan, tetapi melalui transformasi moral dan spiritual individu dan masyarakat.
“Ahimsa is the highest duty. Even if we cannot practice it in full, we must try to understand its spirit and refrain as far as humanly possible from violence.”
— Mahatma Gandhi, Collected Works of Mahatma Gandhi, Vol. 75, p. 312
Kutipan ini menegaskan bahwa prinsip utama gandhisme bukan hanya menolak kekerasan secara fisik, tetapi juga menolak kebencian, eksploitasi, dan penindasan dalam bentuk apa pun.
“My life is my message.”
— Mahatma Gandhi, The Story of My Experiments with Truth, p. 489
Ahimsa adalah inti dari seluruh ajaran Gandhi. Ia meyakini bahwa kekerasan hanya melahirkan kebencian baru, sedangkan tanpa kekerasan melahirkan kesadaran dan kebenaran moral.
“Non-violence is the greatest force at the disposal of mankind.”
— Mahatma Gandhi, Harijan, 1936, p. 12
Bagi Gandhi, tanpa kekerasan bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan spiritual yang dapat menaklukkan kekuasaan tanpa menumpahkan darah.
Satyagraha berarti “berpegang teguh pada kebenaran.” Dalam konteks politik, ia menjadi bentuk perlawanan sipil yang didasarkan pada moralitas dan kesadaran, bukan pada kebencian.
“Satyagraha is not physical force. It is soul force or truth force.”
— Mahatma Gandhi, Young India, 1924, p. 18
Prinsip ini digunakan Gandhi dalam berbagai gerakan, seperti Salt March (1930) dan boikot terhadap produk Inggris, sebagai bentuk perlawanan damai terhadap kolonialisme.
Swadeshi menekankan penggunaan produk lokal dan pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai sarana mencapai kebebasan politik dan moral.
“The salvation of India lies in the revival of the village industries.”
— Mahatma Gandhi, Hind Swaraj, p. 87
Gandhi menolak kapitalisme dan industrialisasi besar-besaran, karena dianggap merusak tatanan sosial dan mengasingkan manusia dari komunitasnya.
Sarvodaya berarti “kesejahteraan bagi semua.” Prinsip ini menegaskan bahwa kebebasan sejati harus mencakup keadilan sosial, kesetaraan ekonomi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
“The good of the individual is contained in the good of all.”
— Mahatma Gandhi, Constructive Programme: Its Meaning and Place, p. 5
Gagasan ini kemudian dikembangkan oleh Vinoba Bhave dan Jayaprakash Narayan sebagai dasar gerakan sosial pascakemerdekaan India.
Gandhisme menekankan pentingnya hidup sederhana dan mengendalikan keinginan duniawi. Kesederhanaan dianggap sebagai bentuk pembebasan dari kerakusan dan ketergantungan material.
“There is enough for everyone’s need, but not for everyone’s greed.”
— Mahatma Gandhi, Young India, 1929, p. 276
Bagi Gandhi, kesederhanaan adalah praktik spiritual dan politik untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Tidak. Prinsip gandhisme seperti tanpa kekerasan dan keadilan sosial telah menginspirasi tokoh dunia seperti Martin Luther King Jr., Nelson Mandela, dan Aung San Suu Kyi.
Gandhisme berakar pada nilai-nilai spiritual Hindu dan Jain, tetapi bersifat universal dan dapat diterapkan dalam konteks apa pun, tanpa memandang agama.
Tidak sepenuhnya. Gandhi menolak modernisasi yang eksploitatif dan materialistis, tetapi mendukung kemajuan yang berpihak pada manusia, moralitas, dan lingkungan.