Dipublikasikan: 14 September 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Dipublikasikan: 14 September 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf Jerman abad ke-19 yang dikenal karena kritik radikalnya terhadap agama, moralitas, dan metafisika Barat. Pemikirannya menekankan gagasan nihilisme, kehendak untuk berkuasa (will to power), Übermensch (manusia unggul), dan kematian Tuhan, yang menjadi dasar bagi banyak perkembangan filsafat kontemporer, termasuk eksistensialisme, postmodernisme, dan teori kritis.
Daftar Isi
Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir pada 15 Oktober 1844 di Röcken, Prusia (sekarang Jerman). Ia berasal dari keluarga Lutheran, ayahnya seorang pendeta yang meninggal saat Nietzsche masih kecil. Pendidikan awalnya ditandai oleh kedisiplinan klasik; ia belajar filologi klasik di Universitas Bonn dan Leipzig.
Pada usia 24 tahun, Nietzsche diangkat menjadi profesor filologi di Universitas Basel, menjadikannya salah satu profesor termuda pada masanya. Namun, kesehatan yang buruk memaksanya pensiun dini pada 1879.
Sepanjang hidupnya, Nietzsche banyak menulis karya filsafat yang radikal, seperti Die Geburt der Tragödie (1872), Also sprach Zarathustra (1883–1885), Jenseits von Gut und Böse (1886), dan Zur Genealogie der Moral (1887).
Tahun-tahun terakhir hidupnya ditandai oleh keruntuhan mental pada 1889. Ia dirawat oleh ibu dan saudara perempuannya hingga wafat pada 25 Agustus 1900 di Weimar. Meski hidup dalam kesendirian dan penderitaan, warisan intelektualnya mengubah wajah filsafat modern.
“Morality is merely the herd-instinct in the individual” (Nietzsche, The Gay Science, hlm. 116).
Konsep kritik moral tradisional pada Nietzsche berfokus pada pembongkaran asumsi bahwa moralitas bersifat universal, abadi, dan rasional.
Nietzsche menunjukkan bahwa moral tradisional—terutama yang diwarisi dari tradisi Kristen dan filsafat Barat—berakar pada insting kawanan yang menekan kehendak individual dan kekuatan hidup.
Moralitas semacam ini lebih berfungsi sebagai sarana penjinakan, yang mengagungkan nilai-nilai kerendahan hati, kepatuhan, dan pengorbanan diri, sambil menolak vitalitas, kekuatan, dan penciptaan nilai baru. Kritik Nietzsche membuka jalan bagi pemahaman bahwa moralitas adalah konstruksi historis dan dapat digugat.
“Morality has been the great antidote to life” (Nietzsche, Twilight of the Idols, hlm. 21).
Konsep moral yang membatasi hidup menjelaskan kritik Nietzsche terhadap sistem moral tradisional yang dianggap menolak kekuatan, kreativitas, dan vitalitas manusia.
Moralitas semacam ini lebih menekankan pada pengendalian diri yang represif, penyangkalan terhadap dorongan alamiah, serta pengagungan nilai-nilai yang melemahkan keberanian untuk hidup secara penuh.
Nietzsche menilai bahwa moral yang dominan dalam tradisi Barat, terutama yang dipengaruhi agama, justru mengekang potensi manusia dan menciptakan rasa bersalah yang berlebihan.
“Master morality values pride and power, while slave morality values kindness, humility, and sympathy” (Nietzsche, On the Genealogy of Morality, hlm. 26).
Konsep moral budak vs moral tuan adalah pembedaan fundamental yang dibuat Nietzsche untuk memahami asal-usul nilai moral. Moral tuan lahir dari kaum yang kuat, mandiri, dan berdaya, yang menegaskan kehidupan melalui keberanian, kehormatan, dan penciptaan nilai.
Sebaliknya, moral budak muncul dari kaum lemah yang merasa tertindas, lalu menciptakan nilai-nilai yang menekankan kerendahan hati, kebaikan, dan kepatuhan. Moral budak berfungsi sebagai strategi untuk membalik nilai tuan, sehingga kekuatan dianggap jahat dan kelemahan dipandang sebagai kebaikan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa moralitas tidak universal, melainkan hasil dari konflik kekuatan historis.
Beberapa poin penting:
Catatan: Dengan membedakan moral budak dan moral tuan, Nietzsche menegaskan bahwa moralitas adalah produk kekuatan historis yang saling bertentangan, bukan kebenaran universal yang netral.
“Nihilism is the radical repudiation of value, meaning, and desirability” (Nietzsche, The Will to Power, hlm. 9).
Konsep nihilisme pada Nietzsche merujuk pada kondisi ketika nilai-nilai tradisional, khususnya yang bersumber dari agama dan metafisika, kehilangan daya ikat dan otoritasnya.
Nihilisme muncul karena keyakinan lama yang menopang moralitas dan makna hidup dianggap runtuh, sementara nilai baru belum tercipta.
Nietzsche melihat nihilisme sebagai ancaman sekaligus peluang: ancaman karena dapat membawa keputusasaan, tetapi juga peluang karena membuka ruang bagi penciptaan nilai-nilai baru yang menegaskan kehidupan.
“God is dead. God remains dead. And we have killed him.” (Nietzsche, The Gay Science, hlm. 125).
Ungkapan “Tuhan telah mati” bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan diagnosis kultural dan filosofis. Nietzsche menggunakannya untuk menggambarkan runtuhnya kepercayaan pada Tuhan sebagai fondasi moralitas, kebenaran, dan makna dalam peradaban Barat.
“Kematian Tuhan” berarti hilangnya titik acuan absolut yang selama ini menopang sistem nilai tradisional. Kondisi ini membawa krisis makna (nihilisme), tetapi sekaligus membuka ruang bagi manusia untuk menciptakan nilai-nilainya sendiri tanpa bergantung pada otoritas transenden.
Beberapa poin penting:
Catatan: Pernyataan “Tuhan telah mati” adalah simbol runtuhnya otoritas nilai absolut dalam budaya Barat, yang memaksa manusia untuk menemukan dan menciptakan makna hidup secara mandiri.
“There are no eternal facts, just as there are no absolute truths” (Nietzsche, Human, All Too Human, hlm. 16).
Konsep hilangnya nilai absolut menandai gagasan Nietzsche bahwa tidak ada lagi landasan tetap atau universal yang dapat dijadikan sumber kebenaran maupun moralitas. Nilai-nilai tradisional yang dahulu dianggap abadi, khususnya yang berakar pada agama dan metafisika, kehilangan legitimasi dalam dunia modern.
Kehilangan ini memunculkan tantangan besar: manusia harus berhadapan dengan relativitas nilai dan ketiadaan acuan tunggal. Namun, bagi Nietzsche, hilangnya nilai absolut juga membuka ruang bagi penciptaan nilai-nilai baru yang lebih menegaskan kehidupan.
Beberapa poin penting:
Catatan: Hilangnya nilai absolut menegaskan bahwa kebenaran dan moralitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan konstruksi yang dapat dipertanyakan dan diciptakan ulang.
“The noble type of man experiences himself as determining values; he does not need approval; he judges, ‘what is harmful to me is harmful in itself’” (Nietzsche, On the Genealogy of Morality, hlm. 260).
Konsep menciptakan nilai yang baru merupakan respons Nietzsche terhadap nihilisme dan runtuhnya nilai absolut. Jika moralitas tradisional tidak lagi memiliki legitimasi, maka manusia dituntut untuk tidak sekadar menerima kekosongan, tetapi aktif melahirkan nilai-nilai baru yang menegaskan kehidupan.
Proses ini bukan sekadar mengganti isi moral lama, melainkan suatu tindakan kreatif radikal yang menolak kepatuhan buta dan mengafirmasi kekuatan, vitalitas, serta potensi manusia. Dengan demikian, penciptaan nilai baru adalah jalan keluar dari krisis nihilisme menuju bentuk eksistensi yang lebih otentik.
Beberapa poin penting:
Catatan: Menciptakan nilai yang baru berarti menolak kepatuhan terhadap nilai lama dan membuka kemungkinan hidup yang lebih autentik, kreatif, dan menegaskan eksistensi manusia.
“This world is the will to power—and nothing besides!” (Nietzsche, The Will to Power, hlm. 550).
Konsep kehendak untuk berkuasa (will to power) adalah salah satu ide sentral Nietzsche dalam memahami kehidupan dan eksistensi. Nietzsche menolak pandangan bahwa tujuan utama manusia adalah kebahagiaan atau kelangsungan hidup semata.
Sebaliknya, ia melihat bahwa dorongan fundamental dalam kehidupan adalah kehendak untuk mengekspresikan, mengembangkan, dan memperluas kekuatan.
Kehendak ini bukan sekadar dominasi atas orang lain, tetapi lebih pada dorongan kreatif untuk menegaskan eksistensi, melampaui batas, dan menciptakan nilai-nilai baru.
“My idea is that every specific body strives to become master over all space and to extend its force (—its will to power:); and it continually encounters similar efforts on the part of other bodies and ends by coming to an arrangement (‘union’) with those of them that are sufficiently related to it” (Nietzsche, The Will to Power, hlm. 339).
Menurut Nietzsche, dorongan dasar manusia bukanlah mencari kebahagiaan atau sekadar bertahan hidup, melainkan menguasai, menciptakan, dan menegaskan diri.
Dorongan ini terwujud dalam will to power, yakni kecenderungan mendasar untuk memperluas kekuatan, menata ulang dunia sesuai perspektifnya, serta mengekspresikan kreativitas.
Dalam pandangan ini, kehidupan adalah arena dinamika kekuatan, di mana individu berusaha menegaskan eksistensinya melalui penciptaan nilai dan tindakan kreatif.
Beberapa poin penting:
Catatan: Bagi Nietzsche, inti kehidupan adalah dorongan untuk menguasai, mencipta, dan menegaskan diri, yang terwujud dalam ekspresi will to power sebagai prinsip dasar eksistensi.
“I teach you the Übermensch. Man is something that shall be overcome. What have you done to overcome him?” (Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, hlm. 12).
Konsep Übermensch atau manusia unggul merupakan gambaran ideal Nietzsche tentang sosok yang mampu melampaui keterbatasan manusia pada umumnya.
Übermensch bukan sekadar manusia kuat secara fisik, melainkan individu yang berani menciptakan nilai-nilai baru setelah runtuhnya nilai absolut tradisional.
Ia menegaskan kehidupan, menerima dunia sebagaimana adanya, dan tidak terjebak dalam moral kawanan. Übermensch adalah simbol transendensi manusia atas nihilisme, karena ia menjadi pencipta makna yang otonom.
“The higher type of man… is the meaning of the earth. Let your will say: the Overman shall be the meaning of the earth!” (Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, hlm. 13).
Konsep ini menggambarkan sosok individu yang tidak lagi terikat pada moral lama yang lahir dari tradisi agama maupun metafisika, tetapi berani melampauinya untuk menciptakan nilai yang baru.
Bagi Nietzsche, individu semacam ini adalah perwujudan Übermensch, yaitu manusia yang menjadikan dirinya sumber makna dan tidak mencari legitimasi dari otoritas eksternal.
Dengan menolak moral kawanan, ia menegaskan kehidupan melalui kebebasan kreatif dan keberanian untuk memberi arah baru bagi eksistensi.
Beberapa poin penting:
Catatan: Individu yang mampu melampaui moral lama dan menciptakan nilai baru adalah sosok Übermensch, manusia yang menegaskan hidup melalui kebebasan kreatif dan penciptaan makna yang orisinal.
“The Übermensch is the meaning of the earth. Let your will say: the Übermensch shall be the meaning of the earth!” (Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, hlm. 14).
Konsep sosok kreator dan penegas kehidupan merujuk pada figur manusia yang tidak sekadar menerima nilai lama, melainkan menciptakan nilai baru sekaligus menegaskan kehidupan secara utuh.
Sosok ini mewujud dalam gagasan Übermensch Nietzsche, yang menolak nihilisme dan kepatuhan pasif, lalu menggantinya dengan keberanian untuk berkarya, memberi arah, dan mengafirmasi kehidupan apa adanya, termasuk penderitaan.
Ia adalah kreator karena melahirkan nilai-nilai baru, sekaligus penegas kehidupan karena tidak mencari penghiburan transenden, melainkan menerima realitas dunia dengan penuh keberanian.
Beberapa poin penting:
Catatan: Sosok kreator dan penegas kehidupan adalah figur Übermensch yang berani mencipta nilai baru sekaligus menegaskan eksistensi dengan menerima kehidupan secara total.
“What if some day or night a demon were to steal after you… and say to you: This life as you now live it and have lived it, you will have to live once more and innumerable times more… Would you not throw yourself down and gnash your teeth and curse the demon who spoke thus? Or have you once experienced a tremendous moment when you would have answered him: You are a god and never have I heard anything more divine.” (Nietzsche, The Gay Science, hlm. 341).
Konsep eternal recurrence atau kekembalian abadi adalah gagasan eksistensial yang menguji sikap manusia terhadap kehidupannya. Nietzsche membayangkan kemungkinan bahwa seluruh kehidupan, dengan segala suka dan dukanya, harus dijalani berulang kali dalam siklus tanpa akhir.
Pertanyaan utamanya: apakah seseorang akan mengutuk kehidupan jika harus mengulanginya, atau justru merayakannya dengan penuh afirmasi? Bagi Nietzsche, hanya individu yang mampu menerima kehidupan sepenuhnya—termasuk penderitaan—yang dapat menjawab tantangan ini dengan ya.
“This life, as you now live it and have lived it, you will have to live once more and innumerable times more…” (Nietzsche, The Gay Science, hlm. 341).
Konsep ide pengulangan abadi menyatakan bahwa kehidupan, dengan segala suka dan dukanya, harus dijalani terus-menerus dalam siklus tak berkesudahan.
Nietzsche menghadirkan gagasan ini bukan sebagai teori kosmologis, melainkan sebagai ujian eksistensial: apakah seseorang dapat menerima hidupnya apa adanya jika harus mengulanginya selamanya.
Dengan demikian, pengulangan abadi menuntut afirmasi total terhadap eksistensi, di mana individu ditantang untuk berkata “ya” kepada kehidupan dalam segala aspeknya, tanpa penolakan atau penyesalan.
Beberapa poin penting:
Catatan: Ide pengulangan abadi menantang manusia untuk menerima hidup dalam segala aspeknya, seakan-akan harus dijalani terus-menerus tanpa akhir, sebagai bentuk afirmasi tertinggi terhadap eksistensi.
“There are no facts, only interpretations” (Nietzsche, Nachlass, 1886, hlm. 7[60]).
Konsep perspektivisme menyatakan bahwa tidak ada kebenaran tunggal dan absolut; yang ada hanyalah interpretasi dari berbagai sudut pandang. Nietzsche menolak gagasan objektivitas murni dalam pengetahuan, karena setiap pemahaman selalu terbentuk dari perspektif tertentu yang dipengaruhi oleh kondisi historis, budaya, dan biologis.
Dengan demikian, kebenaran bersifat relatif terhadap posisi pengamat, dan memahami dunia berarti mengakui keragaman perspektif yang tak pernah bisa direduksi menjadi satu titik pandang final.
“Against positivism, which halts at phenomena—’There are only facts’—I would say: no, facts is precisely what there is not, only interpretations” (Nietzsche, Nachlass, 1886, hlm. 7[60]).
Gagasan tidak ada kebenaran tunggal menolak pandangan bahwa realitas dapat dipahami melalui satu kebenaran universal yang final. Nietzsche menegaskan bahwa semua pengetahuan selalu lahir dari perspektif tertentu, sehingga kebenaran hanyalah hasil dari proses interpretasi.
Hal ini membuat klaim tentang kebenaran tunggal menjadi ilusi metafisik. Sebaliknya, dunia dipahami melalui beragam sudut pandang yang saling bersinggungan, bertentangan, dan membentuk pemahaman yang dinamis serta relatif.
Beberapa poin penting:
Catatan: Tidak ada kebenaran tunggal berarti bahwa yang disebut “kebenaran” selalu merupakan interpretasi dari perspektif tertentu, sehingga bersifat relatif dan terbuka pada perbedaan tafsir.
“There are no facts, only interpretations” (Nietzsche, Nachlass, 1886, hlm. 7[60]).
Gagasan tidak ada fakta, hanya interpretasi menekankan bahwa yang kita sebut “fakta” tidak pernah murni atau netral, melainkan selalu dimediasi oleh perspektif pengamat. Nietzsche menolak pandangan positivis yang menganggap fakta sebagai kenyataan objektif yang bebas dari tafsir.
Setiap pengamatan, pengetahuan, atau pengalaman manusia dibentuk oleh konteks biologis, historis, dan budaya, sehingga fakta selalu merupakan konstruksi interpretatif, bukan entitas absolut.
Beberapa poin penting:
Catatan: Nietzsche menegaskan bahwa fakta hanyalah interpretasi dari sudut pandang tertentu, sehingga realitas selalu dibaca melalui lensa subjektif dan kontekstual.
Nietzsche mengkritik moralitas Kristen sebagai moralitas budak (Sklavenmoral), yang mengagungkan kelemahan, kerendahan hati, dan penyangkalan diri. Sebaliknya, ia menekankan moralitas tuan (Herrenmoral) yang berakar pada kekuatan, kreativitas, dan afirmasi kehidupan.
Dalam Die Geburt der Tragödie, Nietzsche menafsirkan seni Yunani kuno sebagai pertemuan dua kekuatan: Apollonian (ketertiban, rasionalitas) dan Dionysian (kekacauan, ekstasi). Seni tragis lahir dari ketegangan keduanya, mencerminkan dinamika kehidupan itu sendiri.
Seperti yang ia katakan:
“Nur als ästhetisches Phänomen ist das Dasein und die Welt ewig gerechtfertigt.” — “Hanya sebagai fenomena estetis, keberadaan dan dunia dapat dibenarkan.” (Die Geburt der Tragödie, 1872, hlm. 52)
Friedrich Nietzsche adalah filsuf yang membuka jalan bagi kritik modern terhadap agama, moral, dan metafisika. Dengan gagasan kehendak untuk berkuasa, kematian Tuhan, Übermensch, dan kekekalan kembalinya segala sesuatu, ia menantang manusia untuk hidup tanpa ilusi metafisis dan menciptakan makna sendiri. Pemikirannya tetap menjadi pusat perdebatan dalam filsafat, seni, dan teori budaya.
Itu adalah metafora tentang runtuhnya fondasi religius dan moral dalam dunia modern.
Übermensch adalah manusia unggul yang mampu menciptakan nilai-nilai baru setelah runtuhnya nilai tradisional.
Karena ia menyingkap krisis nihilisme dalam modernitas, meski ia juga menawarkan jalan keluar melalui penciptaan nilai baru.