Fasisme

Raymond Kelvin Nando — Fasisme merupakan ideologi politik otoritarian yang menekankan nasionalisme ekstrem, ketaatan mutlak terhadap negara atau pemimpin, serta penolakan terhadap liberalisme dan sosialisme. Ideologi ini tumbuh pada awal abad ke-20 di Eropa, terutama melalui kepemimpinan Benito Mussolini di Italia, dan kemudian memengaruhi rezim totaliter lain seperti Adolf Hitler di Jerman. Fasisme memandang negara sebagai entitas organik yang lebih penting daripada individu, dan menuntut pengorbanan pribadi demi kekuatan kolektif nasional.

Pengertian Fasisme

Fasisme dapat didefinisikan sebagai ideologi nasionalis otoritarian yang menolak kebebasan individual dan menekankan hierarki, kedisiplinan, serta kultus terhadap kekuasaan dan pemimpin.

Istilah fascismo berasal dari bahasa Italia fascio yang berarti “ikat” atau “bundel,” melambangkan persatuan kekuatan di bawah satu kepemimpinan tunggal. Fasisme muncul sebagai reaksi terhadap krisis sosial, ekonomi, dan politik pasca–Perang Dunia I, serta ketakutan terhadap komunisme dan disintegrasi nasional.

“Everything in the State, nothing outside the State, nothing against the State.”
— Benito Mussolini, The Doctrine of Fascism, p. 13

Bagi kaum fasis, negara adalah tujuan tertinggi dan individu hanyalah instrumen bagi kejayaannya.

Tokoh Fasisme

Tokoh utama fasisme adalah Benito Mussolini, pendiri Partai Fasis Nasional Italia dan penguasa Italia pada 1922–1943.

“Fascism is a religion. The twentieth century will be known in history as the century of Fascism.”
— Benito Mussolini, Speech at the Chamber of Deputies, 1925

Selain Mussolini, Giovanni Gentile, seorang filsuf idealis Italia, memainkan peran penting dalam merumuskan doktrin filosofis fasisme.

“The State is the actuality of the ethical Idea. It exists not for men, but men exist for the State.”
— Giovanni Gentile, The Philosophy of Fascism, p. 8

Dalam konteks Jerman, Adolf Hitler mengembangkan bentuk ekstrem fasisme melalui ideologi Nazisme, yang menambahkan unsur rasialisme biologis dan antisemitisme sebagai dasar legitimasi politiknya.

“The individual is nothing; the Volk is everything.”
— Adolf Hitler, Mein Kampf, p. 379

Prinsip dan Gagasan Utama Fasisme

Kultus Negara dan Pemimpin

Fasisme menempatkan negara dan pemimpin sebagai pusat kehidupan politik dan moral. Individu harus tunduk sepenuhnya pada kehendak kolektif.

“For the Fascist, everything is in the State, and nothing human or spiritual exists outside the State.”
— Benito Mussolini, The Doctrine of Fascism, p. 14

Kultus terhadap pemimpin (Il Duce di Italia, Führer di Jerman) menciptakan model politik karismatik yang menuntut ketaatan total.

Orang lain juga membaca :  Etnofasisme

Nasionalisme Ekstrem dan Mitos Kebangsaan

Fasisme membangun identitas nasional melalui mitos kejayaan masa lalu dan ancaman terhadap “musuh internal” atau eksternal.

“The greatness of a nation is measured not by its comfort, but by its sacrifice.”
— Benito Mussolini, Speech in Naples, 1922

Nasionalisme fasis bukan sekadar cinta tanah air, tetapi keyakinan bahwa bangsa tertentu memiliki takdir sejarah untuk menguasai.

Anti-Liberalisme dan Anti-Komunisme

Fasisme menolak demokrasi liberal, pluralisme, dan individualisme karena dianggap melemahkan solidaritas nasional.

“Democracy is beautiful in theory; in practice, it is a fallacy.”
— Benito Mussolini, Speech at Milan, 1924

Fasisme juga memusuhi sosialisme dan komunisme karena menolak perjuangan kelas serta menuntut kesatuan organik bangsa di atas konflik sosial.

Militerisme dan Kekerasan sebagai Nilai Moral

Bagi kaum fasis, perang dan kekerasan bukan kejahatan, melainkan ekspresi tertinggi dari vitalitas bangsa.

“War alone brings up to its highest tension all human energy and puts the stamp of nobility upon the peoples who have the courage to meet it.”
— Benito Mussolini, The Doctrine of Fascism, p. 15

Kekerasan dianggap perlu untuk membentuk manusia baru — disiplin, loyal, dan heroik.

Korporatisme dan Ekonomi Terpimpin

Dalam sistem ekonomi fasis, kepemilikan pribadi tetap ada tetapi diarahkan untuk kepentingan negara melalui model korporatisme. Negara mengatur hubungan antara buruh, pengusaha, dan negara sebagai satu kesatuan harmonis.

“The Fascist State organizes the nation, but leaves a sufficient margin of liberty to the individual.”
— Giovanni Gentile, The Philosophy of Fascism, p. 10

Model ini bertujuan untuk menggantikan konflik kelas dengan kolaborasi di bawah kendali negara.

FAQ

Apakah fasisme menolak kapitalisme?

Fasisme tidak menolak kapitalisme, tetapi mengendalikannya melalui negara. Ia menentang baik kapitalisme laissez-faire maupun sosialisme revolusioner.

Apakah fasisme masih ada di era modern?

Meskipun tidak ada rezim yang secara eksplisit menyebut dirinya fasis, banyak gerakan politik kontemporer yang menampilkan ciri-ciri fasis: otoritarianisme, nasionalisme ekstrem, dan intoleransi terhadap perbedaan.

Referensi

  • Mussolini, B. (1932). The Doctrine of Fascism. Florence: Vallecchi Editore.
  • Gentile, G. (1935). The Philosophy of Fascism. Rome: Istituto Italiano di Cultura.
  • Hitler, A. (1925). Mein Kampf. Munich: Franz Eher Verlag.
  • Payne, S. G. (1995). A History of Fascism, 1914–1945. Madison: University of Wisconsin Press.
  • Griffin, R. (1993). The Nature of Fascism. London: Routledge.
  • Eatwell, R. (2003). Fascism: A History. London: Chatto & Windus.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Elitisme

Next Article

Ekofasisme