Eutychianisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Eutychianisme adalah sebuah ajaran kristologis yang berkembang pada abad ke-5 M dan dianggap sebagai salah satu bentuk ekstrem dari monofisitisme. Ajaran ini berasal dari Eutyches, seorang biarawan dari Konstantinopel yang menegaskan bahwa setelah inkarnasi, Kristus hanya memiliki satu natur (mia physis) yang merupakan hasil penyatuan natur ilahi yang menelan atau mengungguli natur manusia. Pandangan ini dianggap menyimpang oleh gereja karena memudarkan realitas kemanusiaan Kristus.

Ajaran Eutychianisme

Ajaran-ajaran utama Eutychianisme dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Kristologi Monofisit Ekstrem
    Eutyches mengajarkan bahwa sebelum inkarnasi, Kristus memiliki dua natur: ilahi dan manusia. Namun setelah penyatuan, Ia hanya memiliki satu natur, yaitu natur ilahi yang “menyerap” atau “melarutkan” natur manusia.
    Dengan demikian, kemanusiaan Kristus tidak setara dengan keilahian-Nya.
  2. Penolakan terhadap Dua Natur yang Tak Bercampur
    Ajaran Chalcedon (451 M) menyatakan bahwa Kristus memiliki dua natur, ilahi dan manusia, yang bersatu tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan, dan tanpa pemisahan.
    Eutychianisme menolak ini karena dianggap terlalu dekat dengan Nestorianisme.
  3. Penekanan pada Keilahian Kristus
    Ajaran ini bertujuan mempertahankan supremasi keilahian Kristus, tetapi justru menghilangkan keutuhan kemanusiaan-Nya.
  4. Implikasi Soteriologis
    Jika Kristus tidak memiliki kemanusiaan yang sepenuhnya nyata, maka penebusan dianggap tidak sempurna. Gereja menolak pandangan ini karena bertentangan dengan dasar keselamatan.

Sejarah Perkembangan Eutychianisme

  1. Asal-usul dan Kontroversi (abad ke-5 M)
    Eutyches, seorang archimandrite di Konstantinopel, berusaha menanggapi Nestorianisme yang membagi Kristus menjadi dua pribadi. Tetapi reaksinya terlalu ekstrem sehingga memunculkan doktrin monofisit.
  2. Sinode Konstantinopel (448 M)
    Eutyches dikutuk dan dianggap heretik karena ajarannya melemahkan kemanusiaan Kristus.
    Ia dipandang menyimpang oleh Flavianus, Uskup Konstantinopel.
  3. “Latrocinium Ephesus” atau Konsili Efesus Kedua (449 M)
    Konsili ini, yang dipimpin Dioskorus dari Aleksandria, membatalkan kecaman terhadap Eutyches dan memulihkannya.
    Namun konsili ini kemudian dinyatakan tidak sah oleh gereja universal karena tekanan politik dan kekacauan sidang.
  4. Konsili Khalsedon (451 M)
    Konsili besar ini menegaskan kembali naturalitas ganda Kristus dan secara resmi mengutuk Eutychianisme sebagai bidat.
    Definisi Khalsedon menjadi fondasi kristologi bagi Gereja Katolik, Ortodoks Timur, dan sebagian besar Protestan.
  5. Kemunduran Ajaran (abad ke-6 dan seterusnya)
    Eutychianisme sendiri perlahan menghilang, tetapi kontroversi monofisit berlanjut dan melahirkan tradisi Miaphysit yang masih ada dalam gereja Ortodoks Oriental, meski berbeda dari Eutychianisme ekstrem.
Orang lain juga membaca :  Theravāda

Tokoh-Tokoh Terkait Eutychianisme

  1. Eutyches (378–454) – Biarawan yang menjadi sumber ajaran Eutychianisme.
  2. Flavianus dari Konstantinopel – Tokoh yang pertama mengutuk ajaran Eutyches.
  3. Dioskorus dari Aleksandria – Pendukung Eutyches pada Konsili Efesus Kedua.
  4. Paus Leo I (“Leo Agung”) – Penulis Tome of Leo yang berperan besar dalam Konsili Khalsedon.
  5. Marcianus dan Pulcheria – Kaisar dan Permaisuri Bizantium yang menyelenggarakan Konsili Khalsedon.

Referensi

  • Grillmeier, A. (1975). Christ in Christian Tradition: From the Apostolic Age to Chalcedon. Mowbray.
  • Meyendorff, J. (1989). Imperial Unity and Christian Divisions: The Church 450–680 A.D. St Vladimir’s Seminary Press.
  • Kelly, J. N. D. (1978). Early Christian Doctrines. HarperOne.
  • Chadwick, H. (2001). The Church in Ancient Society. Oxford University Press.
  • Wessel, S. (2018). Leo the Great and the Spiritual Rebuilding of a Universal Rome. Brill.

Citation

Previous Article

Eklesiologi

Next Article

Fideisme

Citation copied!