Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025
Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Etnonasionalisme merupakan ideologi politik yang menegaskan bahwa identitas nasional harus dibangun berdasarkan kesamaan etnis, budaya, dan asal-usul sejarah, bukan sekadar kewarganegaraan hukum. Ideologi ini berasumsi bahwa bangsa (nation) adalah perpanjangan alami dari komunitas etnis (ethnos), sehingga negara ideal adalah negara yang homogen secara etnis. Etnonasionalisme sering kali menjadi kekuatan pendorong pembentukan negara-bangsa modern, namun juga dapat melahirkan konflik, diskriminasi, dan separatisme.
Daftar Isi
Etnonasionalisme dapat didefinisikan sebagai paham yang menempatkan kesetiaan utama individu kepada kelompok etnisnya, yang dianggap sebagai dasar legitimasi politik dan sumber utama identitas nasional.
Gagasan ini berakar pada konsep self-determination (penentuan nasib sendiri) yang berkembang sejak abad ke-19, tetapi memusatkan perhatian pada hak-hak etnis tertentu untuk memiliki negara mereka sendiri.
“A nation is a soul, a spiritual principle… the possession in common of a rich legacy of memories.”
— Ernest Renan, What Is a Nation?, p. 19
Renan menolak pandangan biologis tentang bangsa, tetapi teksnya kemudian sering ditafsirkan ulang oleh etnonasionalis untuk menegaskan pentingnya “warisan budaya bersama.”
Beberapa tokoh penting yang berkontribusi terhadap pembentukan ideologi ini berasal dari berbagai konteks sejarah:
“Ethnonationalism is the emotional attachment to one’s ethnic group as the primary object of political loyalty.”
— Walker Connor, Ethnonationalism: The Quest for Understanding, p. 5
Etnonasionalisme memandang bahwa bangsa sejati hanya dapat lahir dari kesamaan etnis, bahasa, dan budaya.
“Every nation has its center of happiness within itself, as every sphere has its center of gravity.”
— Johann Gottfried Herder, Ideas for the Philosophy of History of Humanity, p. 487
Dalam pandangan ini, pluralitas budaya dalam satu negara dianggap sebagai ancaman terhadap kesatuan nasional.
Salah satu gagasan pokok etnonasionalisme adalah hak kelompok etnis untuk menentukan nasibnya sendiri — termasuk mendirikan negara atau memisahkan diri dari negara lain.
“Each nation has the right to exist and to govern itself according to its own genius.”
— Giuseppe Mazzini, The Duties of Man, p. 98
Konsep ini sering menjadi dasar bagi gerakan separatis di berbagai wilayah dunia, seperti Kurdistan, Catalonia, atau Chechnya.
Etnonasionalisme cenderung menolak multikulturalisme dan kosmopolitanisme, karena dianggap mengancam identitas etnis.
“To mix peoples is to destroy nations.”
— Maurice Barrès, The Faith of France, p. 62
Dalam bentuk ekstrem, pandangan ini dapat bergeser menuju etnosentrisme, diskriminasi, atau bahkan pembersihan etnis.
Etnonasionalisme mengandalkan mitos, simbol, dan narasi sejarah bersama untuk mengukuhkan identitas kolektif.
“Myths, memories, values, and symbols are the essential foundations of national identity.”
— Anthony D. Smith, The Ethnic Origins of Nations, p. 13
Simbolisme ini sering digunakan untuk membangkitkan solidaritas internal, terutama di masa krisis politik atau sosial.
Apakah etnonasionalisme sama dengan nasionalisme biasa?
Tidak. Nasionalisme umum menekankan identitas politik bersama warga negara, sedangkan etnonasionalisme mendasarkan identitas nasional pada kesamaan etnis atau budaya.
Tidak selalu. Dalam konteks kolonialisme, etnonasionalisme pernah menjadi alat pembebasan nasional. Namun, dalam masyarakat multietnis, ideologi ini berpotensi memecah belah.
Ya. Banyak gerakan politik kontemporer masih menggunakan narasi etnonasionalis untuk memperjuangkan otonomi atau menolak globalisasi dan imigrasi.