Raymond Kelvin Nando — Equivocation Fallacy adalah kekeliruan penalaran yang muncul ketika sebuah kata atau frasa digunakan dengan dua makna berbeda dalam satu argumen, sehingga menghasilkan kesimpulan yang tampak logis padahal sebenarnya menyesatkan karena bergantung pada ambiguitas bahasa.
Daftar Isi
Pengertian Equivocation Fallacy
Equivocation Fallacy adalah kesalahan logika yang terjadi ketika sebuah istilah dipakai secara bergeser antara dua atau lebih makna tanpa disadari atau tanpa diberitahukan, sehingga argumen tampak valid padahal bergantung pada permainan kata. Fallacy ini sering muncul dalam debat publik, humor, retorika persuasif, maupun dalam teks filosofis ketika istilah abstrak digunakan tanpa kejelasan definisi.
Ciri-Ciri Equivocation Fallacy
- Menggunakan satu kata yang memiliki dua makna berbeda dalam argumen.
- Pergeseran makna terjadi secara halus dan tidak disadari.
- Kesimpulan tampak mengikuti premis, tetapi secara semantik tidak konsisten.
- Berbasis pada ambiguitas linguistik, bukan logika substansial.
- Dapat muncul dalam istilah umum seperti “hak”, “keadilan”, “bebas”, atau “alami”.
Contoh Equivocation Fallacy
- “Hanya manusia yang punya reason. Kucing bukan manusia. Jadi kucing tidak punya alasan untuk bertindak.” Kata reason pertama berarti rasionalitas, kedua berarti alasan tindakan.
- “Semua cahaya itu ringan karena tidak berat.” Kata “ringan” bergeser makna dari tidak memiliki massa ke makna metaforis.
- “Hukum harus ditaati. Maka hukum alam juga harus ditaati secara moral.” Kata “hukum” bergeser dari aturan normatif ke deskripsi fenomena alam.
Cara Menghindari Equivocation Fallacy
- Definisikan istilah penting secara eksplisit sebelum berargumen.
- Periksa apakah suatu kata digunakan secara konsisten dalam seluruh premis.
- Klarifikasi istilah yang memiliki banyak makna dalam bahasa sehari-hari.
- Minta lawan bicara menjelaskan maksud kata jika muncul potensi ambiguitas.
- Gunakan contoh konkret untuk membedakan makna, terutama dalam diskursus abstrak.
FAQ
Mengapa Equivocation Fallacy umum terjadi dalam diskusi filosofis?
Karena filsafat sering memakai istilah abstrak yang memiliki banyak interpretasi, sehingga risiko pergeseran makna lebih tinggi.
Apakah equivocation fallacy selalu disengaja?
Tidak. Banyak terjadi secara tidak sadar akibat kebiasaan bahasa, namun bisa juga dipakai sengaja untuk retorika manipulatif.
Bagaimana membedakan equivocation fallacy dari amphiboly fallacy?
Equivocation fallacy terjadi pada satu kata bermakna ganda, sedangkan amphiboly fallacy muncul dari struktur kalimat yang ambigu.
Referensi
- Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to logic. Routledge.
- Hurley, P. J. (2015). A concise introduction to logic. Cengage Learning.
- Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach. Cambridge University Press.