Dipublikasikan: 19 September 2025
Terakhir diperbarui: 17 November 2025
Dipublikasikan: 19 September 2025
Terakhir diperbarui: 17 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Epicurus adalah seorang filsuf Yunani dari abad ke-4 SM yang mendirikan aliran filsafat Epikureanisme. Ia menekankan pencarian kebahagiaan sejati melalui penghindaran rasa sakit (aponia) dan ketenangan jiwa (ataraxia). Pemikirannya memengaruhi etika, epistemologi, dan filsafat alam di dunia kuno hingga modern.
Daftar Isi
Epicurus lahir pada tahun 341 SM di pulau Samos, sebuah koloni Athena di Laut Aegea. Ia berasal dari keluarga Athena yang sederhana, namun sejak muda sudah tertarik pada filsafat. Pada usia 14 tahun, Epicurus mulai mempelajari gagasan-gagasan Demokritos tentang atomisme, yang kelak sangat memengaruhi filsafatnya.
Sekitar tahun 306 SM, Epicurus mendirikan sekolah filsafat di Athena yang dikenal sebagai The Garden (Kepun). Berbeda dengan Akademi Plato dan Lyceum Aristoteles, The Garden terbuka bagi laki-laki, perempuan, bahkan budak — menjadikannya unik pada masanya.
Epicurus menulis lebih dari 300 karya, tetapi sebagian besar hilang. Pemikirannya bertahan melalui kutipan-kutipan, surat-surat yang masih ada, serta catatan para pengikutnya seperti Lucretius dalam De Rerum Natura.
Ia wafat pada tahun 270 SM setelah menderita sakit kronis, namun tetap mempertahankan ketenangan jiwa hingga akhir hayatnya.
Epicurus mendefinisikan kebahagiaan sejati sebagai kondisi bebas dari kegelisahan batin (ataraxia) dan bebas dari rasa sakit tubuh (aponia). Menurutnya, kebahagiaan bukanlah pencarian kesenangan berlebihan, melainkan pencapaian keadaan damai dan sederhana.
Epicurus mengatakan:
“Pleasure is the absence of pain in the body and of trouble in the soul.” (Letter to Menoeceus)
Epicurus menjelaskan bahwa kesenangan sejati bukanlah kenikmatan berlebihan, tetapi keadaan tenang tanpa penderitaan jasmani maupun batin.
Epicurus mengembangkan teori atomisme dari Demokritos. Ia meyakini bahwa segala sesuatu tersusun dari atom-atom yang bergerak di ruang hampa. Gerakan atom-atom ini kadang menyimpang sedikit (clinamen), memberi ruang bagi kebebasan dan menolak determinisme mutlak.
Epicurus mengatakan:
“The universe is infinite, for that which is finite has an end, and the end is seen against something else.” (Letter to Herodotus)
Epicurus menjelaskan bahwa alam semesta tidak memiliki batas atau akhir; ia abadi, tersusun dari atom dan ruang hampa.
Salah satu tujuan filsafat Epicurus adalah membebaskan manusia dari ketakutan terhadap para dewa dan kematian. Ia menolak gagasan bahwa dewa-dewa terlibat langsung dalam urusan manusia, dan mengajarkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
Epicurus mengatakan:
“Death is nothing to us, for when we exist, death is not present, and when death is present, we no longer exist.” (Letter to Menoeceus)
Epicurus menjelaskan bahwa kematian tidak boleh menakutkan karena tidak ada pengalaman atau kesadaran setelah mati; maka ia bukan penderitaan.
Epicurus menekankan bahwa kebutuhan manusia dapat dibagi menjadi tiga: kebutuhan alamiah dan perlu (seperti makanan dan minuman), kebutuhan alamiah tetapi tidak perlu (seperti makanan mewah), dan kebutuhan kosong (seperti kekuasaan dan kemuliaan). Hanya kebutuhan jenis pertama yang benar-benar membawa kebahagiaan.
Epicurus mengatakan:
“If you wish to make Pythocles rich, do not add to his money but subtract from his desires.” (Vatican Sayings, 25)
Epicurus menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dengan memperbanyak harta, tetapi dengan mengurangi keinginan yang berlebihan.
Bagi Epicurus, persahabatan adalah salah satu sarana paling penting untuk mencapai kebahagiaan. Hidup bersama teman-teman yang dapat dipercaya membawa ketenangan dan rasa aman.
Epicurus mengatakan:
“Of all the things which wisdom provides to make us entirely happy, much the greatest is the possession of friendship.” (Principal Doctrines, 27)
Epicurus menjelaskan bahwa persahabatan sejati adalah karunia terbesar bagi kebahagiaan karena menghadirkan keamanan emosional dan kepercayaan.
Epicurus melihat filsafat bukan sekadar spekulasi teoretis, melainkan sebagai jalan penyembuhan jiwa dari ketakutan dan penderitaan. Filsafat baginya memiliki fungsi terapeutik, seperti obat bagi tubuh.
Epicurus mengatakan:
“Empty is the argument of the philosopher which does not relieve any human suffering.” (Fragmenta)
Epicurus menjelaskan bahwa filsafat sejati harus praktis, membantu manusia mengatasi rasa takut dan menemukan kedamaian batin.
Epikureanisme bersaing dengan Stoisisme dan Skeptisisme sebagai aliran utama filsafat Hellenistik. Berbeda dari Stoisisme yang menekankan hidup selaras dengan alam melalui kebajikan, Epikureanisme lebih menekankan pencapaian ketenangan pribadi melalui kesederhanaan.
Cicero mengatakan:
“The whole life of the wise man is spent in the contemplation of pleasure.” (De Finibus, II.8)
Cicero menjelaskan bagaimana pandangan Epicurus sering disalahpahami sebagai hedonisme vulgar, padahal ia justru menekankan kesederhanaan.
Filsuf Romawi Lucretius (abad ke-1 SM) meneruskan ajaran Epicurus dalam puisinya De Rerum Natura, yang menjadi salah satu sumber utama tentang Epikureanisme.
Lucretius mengatakan:
“We are all sprung from celestial seed, and to heaven all will return.” (De Rerum Natura, II.991)
Lucretius menjelaskan gagasan Epicurus bahwa manusia berasal dari unsur kosmis dan akan kembali ke alam semesta setelah mati.
Pemikiran Epicurus dihidupkan kembali pada masa Renaisans dan Pencerahan. Gagasan atomismenya memberi pengaruh pada ilmu pengetahuan modern, sementara etika kesederhanaannya menginspirasi pemikiran moral.
Thomas Jefferson mengatakan:
“I too am an Epicurean. I consider the genuine doctrines of Epicurus as containing everything rational in moral philosophy.” (Surat kepada William Short, 1819)
Jefferson menjelaskan bahwa ajaran Epicurus tetap relevan sebagai dasar filsafat moral rasional.
Epicurus adalah filsuf yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati diperoleh melalui ketenangan jiwa (ataraxia), bebas dari rasa sakit (aponia), kesederhanaan hidup, dan persahabatan sejati. Ia mengembangkan atomisme sebagai dasar filsafat alam, menolak ketakutan terhadap dewa dan kematian, serta melihat filsafat sebagai terapi jiwa. Pemikirannya tetap berpengaruh dari dunia Yunani-Romawi hingga zaman modern.
Mencapai kebahagiaan sejati melalui ketenangan jiwa dan penghindaran rasa sakit.
Tidak. Ia menekankan kesederhanaan dan pemenuhan kebutuhan dasar, bukan kenikmatan berlebihan.
Karena persahabatan memberikan rasa aman, kebahagiaan, dan ketenangan jiwa.