Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Empu Gandring adalah folklor Jawa yang berwujud legenda historis mitologis, terkenal karena kisah kutukan keris yang berujung pada tragedi kekuasaan dan kekerasan berantai. Cerita ini berakar kuat dalam tradisi lisan dan kronik Jawa, khususnya Pararaton, serta hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai peringatan tentang ambisi, pengkhianatan, dan konsekuensi moral dari tindakan tergesa-gesa. Dalam kajian folklor, Empu Gandring dipahami sebagai figur simbolik yang merepresentasikan relasi antara kekuasaan, teknologi senjata, dan etika, sekaligus menjadi narasi asal-usul legitimasi dan konflik politik di Jawa Timur abad ke-13.
Daftar Isi
Folklor Empu Gandring berkisah tentang seorang empu atau pandai besi sakti bernama Empu Gandring yang hidup pada masa Kerajaan Tumapel. Ia dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam menempa senjata pusaka, khususnya keris, yang dipercaya memiliki daya gaib dan pengaruh spiritual kuat. Seorang bangsawan ambisius bernama Ken Arok memesan keris kepada Empu Gandring dengan tujuan merebut kekuasaan.
Namun, karena pembuatan keris pusaka membutuhkan waktu dan laku spiritual yang panjang, Empu Gandring belum menyelesaikan keris tersebut ketika Ken Arok menuntutnya. Dikuasai amarah dan ambisi, Ken Arok merebut keris yang belum sempurna dan menikam Empu Gandring hingga tewas. Dalam keadaan sekarat, Empu Gandring mengutuk keris itu agar menewaskan tujuh turunan Ken Arok.
Kutukan tersebut terbukti. Keris Empu Gandring kemudian menjadi alat pembunuhan berantai, termasuk membunuh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, serta berbalik menewaskan Ken Arok sendiri dan beberapa penerusnya. Kisah ini menegaskan bahwa kekerasan yang lahir dari ambisi akan menimbulkan lingkaran kehancuran yang sulit dihentikan.
Folklor Empu Gandring termasuk dalam kategori legenda, dengan muatan sejarah mitologis yang kuat. Dalam klasifikasi folklor, cerita ini dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai legenda, kisah Empu Gandring dipercaya memiliki dasar historis simbolik, meskipun diperkaya unsur supranatural dan mitologis.
Folklor Empu Gandring berkembang dalam konteks budaya Jawa yang memandang keris bukan sekadar senjata, melainkan pusaka yang memiliki roh, tuah, dan hubungan spiritual dengan pemiliknya. Dalam kosmologi Jawa, empu dipandang sebagai figur sakral yang menyatukan keterampilan teknis, kekuatan batin, dan kebijaksanaan moral.
Kisah ini juga mencerminkan dinamika politik Jawa Timur pada masa peralihan kekuasaan, di mana legitimasi raja sering kali diperoleh melalui kekuatan, intrik, dan simbol-simbol pusaka. Empu Gandring menjadi simbol peringatan bahwa kekuasaan yang diperoleh melalui kekerasan dan pengkhianatan akan membawa akibat buruk, tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi keturunannya.
Folklor Empu Gandring memiliki makna dan fungsi penting dalam tradisi budaya Jawa, antara lain:
Empu Gandring adalah seorang empu atau pandai besi legendaris dalam folklor Jawa, yang terkenal karena kisah keris kutukannya. Ia dikenal sebagai pembuat keris sakti yang kemudian menjadi pusat konflik tragis dalam cerita Ken Arok.
Kisah kutukan Empu Gandring bermula ketika ia dibunuh oleh Ken Arok menggunakan keris yang belum selesai ditempa. Sebelum meninggal, Empu Gandring mengutuk keris tersebut agar membawa kematian berantai, termasuk bagi Ken Arok dan keturunannya, sehingga keris itu menjadi simbol tragedi dan balas dendam dalam folklor Jawa.
Empu Gandring penting karena kisahnya mengandung nilai moral tentang kesabaran, ambisi, dan konsekuensi dari kekerasan. Cerita ini juga mencerminkan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap benda pusaka, kekuatan spiritual, dan hubungan antara kekuasaan serta karma.