Dipublikasikan: 13 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 27 November 2025
Dipublikasikan: 13 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 27 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Ekologisme merupakan ideologi politik dan sosial yang menempatkan kelestarian ekologis sebagai inti dari tatanan moral, ekonomi, dan politik. Ia lahir sebagai reaksi terhadap modernitas industri yang dianggap menempatkan manusia di atas alam, serta mengabaikan keseimbangan ekosistem. Sebagai ideologi, ekologisme berupaya menata kembali hubungan antara manusia dan dunia non-manusia dalam kerangka etika yang holistik dan berkelanjutan.
Daftar Isi
Ekologisme dapat didefinisikan sebagai pandangan ideologis yang menempatkan keberlanjutan ekologis dan kesetaraan antarspesies sebagai dasar kehidupan sosial dan politik.
Sejak munculnya krisis lingkungan global pada paruh kedua abad ke-20, ekologisme berkembang melampaui sekadar gerakan konservasi. Ia menjadi kritik terhadap paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat nilai moral.
“The smaller we come to feel ourselves compared to the mountain, the nearer we come to participating in its greatness.”
— Arne Næss, Ecology, Community and Lifestyle, p. 29
Pemikiran ekologis menolak pandangan bahwa alam hanyalah sumber daya. Sebaliknya, ekologisme menegaskan bahwa semua makhluk memiliki nilai intrinsik yang harus dihormati.
Tokoh-tokoh penting dalam pengembangan ideologi ekologisme antara lain Arne Næss, Murray Bookchin, James Lovelock, dan Rachel Carson.
“Freedom is not license, but the realization of ecological potential.”
— Murray Bookchin, The Ecology of Freedom, p. 46
Arne Næss memperkenalkan deep ecology, yang menolak dominasi manusia atas alam dan menekankan kesetaraan ekologis. Murray Bookchin mengembangkan social ecology, yang melihat krisis lingkungan sebagai hasil dari hierarki sosial.
“The entire range of life forms constitutes a single living entity capable of manipulating the Earth’s atmosphere to suit its overall needs.”
— James Lovelock, Gaia: A New Look at Life on Earth, p. 10
Rachel Carson menjadi pelopor kesadaran ekologis modern melalui Silent Spring, yang mengekspos bahaya pestisida dan menantang logika kemajuan industri.
“The ‘control of nature’ is a phrase conceived in arrogance, born of the Neanderthal age of biology and philosophy.”
— Rachel Carson, Silent Spring, p. 297
Deep Ecology adalah aliran filsafat lingkungan yang menolak pandangan antroposentris dan menegaskan bahwa manusia hanyalah satu unsur dari jaringan kehidupan yang luas, sehingga alam tidak boleh dipandang sekadar sebagai sumber daya melainkan sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik—nilai yang melekat pada keberadaannya sendiri, bukan karena manfaatnya bagi manusia; dari sini, Deep Ecology menekankan kesetaraan ekologis antar makhluk hidup, interdependensi seluruh komponen alam, serta kebutuhan untuk mengubah nilai dan gaya hidup manusia menuju kesederhanaan dan penghormatan yang lebih dalam terhadap biosfer, sambil menegaskan bahwa merusak alam bukan hanya tindakan yang merugikan secara ekonomi, tetapi pelanggaran moral terhadap hak alam untuk hidup dan berkembang.
Deep ecology menolak pandangan antroposentris dan menegaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki nilai moral yang sama, terlepas dari manfaatnya bagi manusia.
“All living beings have intrinsic value, regardless of their usefulness to human purposes.”
— Arne Næss, Ecology, Community and Lifestyle, p. 31
Prinsip ini menuntut perubahan radikal dalam kesadaran dan perilaku manusia: dari dominasi menjadi harmoni ekologis.
Social Ecology, sebuah aliran pemikiran yang dipelopori oleh Murray Bookchin, berangkat dari gagasan bahwa krisis lingkungan pada dasarnya merupakan cerminan dan konsekuensi dari hierarki serta dominasi sosial di dalam masyarakat; menurut pandangan ini, kerusakan alam bukan terutama karena teknologi atau jumlah penduduk, melainkan karena struktur sosial yang menanamkan pola dominasi—manusia atas manusia—yang kemudian diperluas menjadi dominasi manusia atas alam, sehingga untuk mengatasi masalah ekologis secara mendalam diperlukan transformasi sosial yang menyingkirkan hierarki yang menindas, membangun masyarakat yang egaliter, demokratis, dan berorientasi pada kerja sama, sebab hanya dalam masyarakat yang bebas dari dominasi sosial hubungan manusia dengan alam dapat pulih, tidak lagi berbasis eksploitasi tetapi pada rasa saling keterkaitan dan tanggung jawab ekologis.
Menurut Bookchin, krisis ekologis bersumber dari struktur sosial yang menindas, bukan sekadar dari teknologi atau pertumbuhan ekonomi.
“The domination of nature by man stems from the very real domination of human by human.”
— Murray Bookchin, Post-Scarcity Anarchism, p. 55
Ekologisme, dalam arti ini, tidak bisa dipisahkan dari perjuangan sosial. Pembebasan alam bergantung pada pembebasan manusia dari sistem hierarkis yang eksploitatif.
Hipotesis Gaia, yang dikembangkan oleh James Lovelock dan Didac Margulis pada 1970-an, menyatakan bahwa Bumi berfungsi sebagai suatu sistem hidup yang terpadu, di mana makhluk hidup, atmosfer, lautan, dan daratan saling berinteraksi membentuk mekanisme pengatur diri (self-regulating) yang menjaga kondisi planet tetap stabil dan layak huni; dalam pandangan ini, kehidupan bukan sekadar penumpang pasif di Bumi, tetapi turut secara aktif mengubah dan menyesuaikan lingkungan—misalnya dalam pengaturan suhu, komposisi kimia atmosfer, dan keseimbangan ekosistem—sehingga Bumi dapat dipahami layaknya sebuah organisme raksasa yang mempertahankan keseimbangan internalnya melalui proses-proses biolog
James Lovelock dalam Gaia Hypothesis menggambarkan bumi sebagai organisme hidup yang mengatur dirinya sendiri.
“The Earth system behaves as a single, self-regulating organism composed of physical, chemical, biological, and human components.”
— James Lovelock, Gaia: A New Look at Life on Earth, p. 22
Keseimbangan ekologis, menurutnya, adalah hasil dari interaksi kompleks antar unsur alam — bukan ciptaan manusia, melainkan mekanisme alami bumi untuk mempertahankan kehidupan.
Ekologi Politik adalah pendekatan yang menelaah hubungan antara kekuasaan, ekonomi, dan lingkungan dengan menekankan bahwa persoalan ekologis tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik serta distribusi kekuasaan di masyarakat, sementara Keadilan Lingkungan berfokus pada bagaimana dampak kerusakan lingkungan—seperti pencemaran, bencana ekologis, atau perebutan sumber daya—sering kali menimpa kelompok rentan, miskin, dan terpinggirkan secara tidak proporsional; bersama-sama, kedua perspektif ini menunjukkan bahwa degradasi lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau ilmiah, tetapi juga persoalan keadilan sosial, karena kebijakan, kepentingan ekonomi, dan struktur kekuasaan menentukan siapa yang menikmati manfaat pembangunan dan siapa yang menanggung risikonya, sehingga solusi ekologis harus mencakup perubahan sistemik, penguatan hak masyarakat lokal, partisipasi publik dalam pengambilan keputusan, serta distribusi manfaat dan beban lingkungan yang lebih adil.
Ekologisme juga berakar pada perjuangan keadilan ekologis, yang menentang eksploitasi lingkungan dan ketimpangan global.
“The environmental crisis is a symptom of a deeper crisis of justice and democracy.”
— Vandana Shiva, Earth Democracy, p. 23
Ekologisme politik menuntut bahwa hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah bagian dari hak asasi manusia dan tanggung jawab kolektif global.
Tidak sepenuhnya. Ekologisme adalah kerangka ideologis dan filosofis yang mencakup perubahan nilai, struktur sosial, dan ekonomi, bukan sekadar gerakan praktis penyelamatan alam.
Sebagian besar arus ekologisme bersifat anti-kapitalis karena menilai sistem ekonomi kapitalis berbasis pertumbuhan tak terbatas sebagai penyebab utama degradasi ekologis.
Tidak. Ekologisme mendukung teknologi berkelanjutan yang memperkuat keseimbangan ekologis dan keadilan sosial, seperti energi terbarukan dan desain ramah lingkungan.