Ekofasisme

Raymond Kelvin Nando — Ekofasisme merupakan ideologi yang menggabungkan otoritarianisme politik dengan prinsip-prinsip lingkungan ekstrem, di mana perlindungan terhadap alam dijadikan alasan untuk menjustifikasi kontrol sosial, pembatasan populasi, atau bahkan tindakan kekerasan terhadap kelompok tertentu. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan pandangan yang menempatkan ekosistem di atas nilai kemanusiaan universal, sehingga ideologi ini menjadi kontroversial dalam diskursus politik ekologi modern.

Pengertian Ekofasisme

Ekofasisme dapat didefinisikan sebagai varian ideologi fasis yang menggunakan isu lingkungan dan konservasi alam sebagai dasar legitimasi bagi struktur sosial otoritarian dan nasionalis.

Istilah ini muncul pada paruh kedua abad ke-20, namun akarnya dapat ditelusuri ke awal abad ke-20, ketika gagasan tentang kemurnian alam sering disandingkan dengan konsep kemurnian rasial dalam ideologi nasionalis ekstrem.

“We recognize that separating humanity from nature, from the whole of life, leads to humankind’s destruction.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 25

Pemikir seperti Pentti Linkola, seorang ekolog radikal asal Finlandia, sering dikaitkan dengan pandangan ekofasis karena keyakinannya bahwa pelestarian bumi memerlukan tindakan keras dan pembatasan terhadap populasi manusia.

Tokoh Ekofasisme

Tokoh-tokoh yang sering dikaitkan dengan ideologi ini bukanlah pendiri gerakan politik formal, melainkan pemikir atau aktivis lingkungan ekstrem yang menolak demokrasi liberal sebagai solusi bagi krisis ekologis.

  • Pentti Linkola, yang dalam Can Life Prevail? (2004) berargumen bahwa manusia harus “dikendalikan” demi kelestarian bumi.
  • Madison Grant, seorang konservasionis Amerika awal abad ke-20, yang menulis The Passing of the Great Race (1916), menghubungkan pelestarian alam dengan eugenika dan supremasi rasial.
  • Beberapa kelompok ekstremis kontemporer, seperti eco-nationalist movements, juga menggunakan narasi ekofasis untuk menjustifikasi xenofobia atau penolakan terhadap imigrasi dengan alasan “perlindungan sumber daya alam nasional.”

“The preservation of the forests, the purity of the race, and the strength of the nation are one and the same.”
— Madison Grant, The Passing of the Great Race, p. 89

Prinsip dan Gagasan Utama Ekofasisme

Ekosentrisme Radikal dan Penolakan terhadap Humanisme

Ekofasisme menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai moral lebih tinggi daripada manusia. Pandangan ini menolak antroposentrisme (pusat manusia) yang dianggap sebagai penyebab utama krisis lingkungan.

“Human suffering is not more important than the suffering of the planet.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 42

Dalam logika ini, manusia yang merusak ekosistem dapat dianggap musuh alam, sehingga tindakan represif untuk mengendalikan populasi atau perilaku mereka dipandang sah.

Orang lain juga membaca :  Blanquisme

Otoritarianisme Hijau

Ekofasisme menolak pendekatan demokratis terhadap krisis lingkungan. Menurut pandangan ini, hanya sistem politik otoritarian yang dapat mengambil keputusan tegas untuk mengatasi eksploitasi alam.

“Only authoritarian rule can save the world from the human plague.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 77

Pemerintah dalam model ekofasis dianggap berhak mengatur konsumsi, pembatasan kelahiran, dan pengendalian populasi demi keberlanjutan ekologis.

Nasionalisme Ekologis

Ekofasisme sering berkelindan dengan nasionalisme ekstrem — menganggap lingkungan sebagai bagian integral dari identitas nasional.

“Our land, our forests, our rivers — they define who we are as a people.”
— Anonymous eco-nationalist tract, 1990s

Konsep ini berpotensi menjustifikasi eksklusi terhadap “orang luar” atau imigran, dengan dalih menjaga kelestarian sumber daya alam nasional.

Anti-Modernisme dan Penolakan terhadap Teknologi

Banyak penganut ekofasis menilai modernitas, industrialisasi, dan globalisasi sebagai sumber utama kehancuran ekologis. Solusi mereka bersifat regresif — kembali pada gaya hidup sederhana dan sistem sosial yang tertutup.

“Industrial civilization is incompatible with life.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 33

Pandangan ini mengandung paradoks: di satu sisi menolak eksploitasi industri, namun di sisi lain mendukung sistem politik represif yang menggunakan kekuasaan ekstrem untuk mengatur manusia.

FAQ

Apakah ekofasisme sama dengan ekologi radikal?

Tidak. Ekologi radikal menekankan tanggung jawab manusia terhadap alam melalui kesadaran moral dan transformasi sosial, sedangkan ekofasisme menjustifikasi kekuasaan otoritarian atas nama pelestarian lingkungan.

Apakah ada negara atau gerakan yang menganut ekofasisme secara resmi?

Tidak ada negara yang secara resmi menganut ekofasisme. Namun, beberapa kelompok ekstrem kanan kontemporer menggunakan narasi lingkungan untuk memperkuat agenda nasionalis mereka.

Referensi

  • Linkola, P. (2004). Can Life Prevail? A Radical Approach to the Environmental Crisis. Helsinki: Tammi.
  • Grant, M. (1916). The Passing of the Great Race. New York: Charles Scribner’s Sons.
  • Staudenmaier, P. (2011). Fascist Ecology: The “Green Wing” of the Nazi Party and Its Historical Antecedents. Communal Societies, 31(1), 1–23.
  • Biehl, J., & Staudenmaier, P. (1995). Ecofascism: Lessons from the German Experience. Edinburgh: AK Press.
  • Forchtner, B. (2019). The Far Right and the Environment: Politics, Discourse and Communication. London: Routledge.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Fasisme

Next Article

Etnofasisme