Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025
Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Ekofasisme merupakan ideologi yang menggabungkan otoritarianisme politik dengan prinsip-prinsip lingkungan ekstrem, di mana perlindungan terhadap alam dijadikan alasan untuk menjustifikasi kontrol sosial, pembatasan populasi, atau bahkan tindakan kekerasan terhadap kelompok tertentu. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan pandangan yang menempatkan ekosistem di atas nilai kemanusiaan universal, sehingga ideologi ini menjadi kontroversial dalam diskursus politik ekologi modern.
Daftar Isi
Ekofasisme dapat didefinisikan sebagai varian ideologi fasis yang menggunakan isu lingkungan dan konservasi alam sebagai dasar legitimasi bagi struktur sosial otoritarian dan nasionalis.
Istilah ini muncul pada paruh kedua abad ke-20, namun akarnya dapat ditelusuri ke awal abad ke-20, ketika gagasan tentang kemurnian alam sering disandingkan dengan konsep kemurnian rasial dalam ideologi nasionalis ekstrem.
“We recognize that separating humanity from nature, from the whole of life, leads to humankind’s destruction.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 25
Pemikir seperti Pentti Linkola, seorang ekolog radikal asal Finlandia, sering dikaitkan dengan pandangan ekofasis karena keyakinannya bahwa pelestarian bumi memerlukan tindakan keras dan pembatasan terhadap populasi manusia.
Tokoh-tokoh yang sering dikaitkan dengan ideologi ini bukanlah pendiri gerakan politik formal, melainkan pemikir atau aktivis lingkungan ekstrem yang menolak demokrasi liberal sebagai solusi bagi krisis ekologis.
“The preservation of the forests, the purity of the race, and the strength of the nation are one and the same.”
— Madison Grant, The Passing of the Great Race, p. 89
Ekofasisme menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai moral lebih tinggi daripada manusia. Pandangan ini menolak antroposentrisme (pusat manusia) yang dianggap sebagai penyebab utama krisis lingkungan.
“Human suffering is not more important than the suffering of the planet.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 42
Dalam logika ini, manusia yang merusak ekosistem dapat dianggap musuh alam, sehingga tindakan represif untuk mengendalikan populasi atau perilaku mereka dipandang sah.
Ekofasisme menolak pendekatan demokratis terhadap krisis lingkungan. Menurut pandangan ini, hanya sistem politik otoritarian yang dapat mengambil keputusan tegas untuk mengatasi eksploitasi alam.
“Only authoritarian rule can save the world from the human plague.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 77
Pemerintah dalam model ekofasis dianggap berhak mengatur konsumsi, pembatasan kelahiran, dan pengendalian populasi demi keberlanjutan ekologis.
Ekofasisme sering berkelindan dengan nasionalisme ekstrem — menganggap lingkungan sebagai bagian integral dari identitas nasional.
“Our land, our forests, our rivers — they define who we are as a people.”
— Anonymous eco-nationalist tract, 1990s
Konsep ini berpotensi menjustifikasi eksklusi terhadap “orang luar” atau imigran, dengan dalih menjaga kelestarian sumber daya alam nasional.
Banyak penganut ekofasis menilai modernitas, industrialisasi, dan globalisasi sebagai sumber utama kehancuran ekologis. Solusi mereka bersifat regresif — kembali pada gaya hidup sederhana dan sistem sosial yang tertutup.
“Industrial civilization is incompatible with life.”
— Pentti Linkola, Can Life Prevail?, p. 33
Pandangan ini mengandung paradoks: di satu sisi menolak eksploitasi industri, namun di sisi lain mendukung sistem politik represif yang menggunakan kekuasaan ekstrem untuk mengatur manusia.
Tidak. Ekologi radikal menekankan tanggung jawab manusia terhadap alam melalui kesadaran moral dan transformasi sosial, sedangkan ekofasisme menjustifikasi kekuasaan otoritarian atas nama pelestarian lingkungan.
Tidak ada negara yang secara resmi menganut ekofasisme. Namun, beberapa kelompok ekstrem kanan kontemporer menggunakan narasi lingkungan untuk memperkuat agenda nasionalis mereka.
Ya, terutama ketika isu lingkungan dipolitisasi oleh kelompok ekstrem yang menggunakan retorika “penyelamatan bumi” untuk membenarkan kekerasan atau diskriminasi.