Double Standard Fallacy

Raymond Kelvin NandoDouble Standard Fallacy adalah kekeliruan berpikir ketika seseorang menerapkan dua standar penilaian yang berbeda terhadap dua kasus yang sebenarnya sebanding, sehingga menghasilkan ketidakadilan logis dalam evaluasi atau argumen.

Pengertian Double Standard Fallacy

Double standard fallacy adalah kesalahan penalaran yang muncul ketika seseorang menilai dua situasi yang setara dengan menggunakan kriteria berbeda tanpa alasan yang sah. Kekeliruan ini biasanya dilakukan untuk menguntungkan pihak tertentu atau merugikan pihak lain, meskipun kondisi objektif keduanya sama. Secara logis, ini merupakan bentuk inkonsistensi internal karena argumen diterapkan secara selektif, bukan berdasarkan prinsip universal. Dalam kajian epistemologis dan etika, double standard sering dikaitkan dengan bias kognitif, kepentingan pribadi, dan manipulasi retorik.

Ciri-ciri Double Standard Fallacy

Ciri-ciri yang menandai terjadinya kekeliruan ini antara lain:

  1. Menggunakan aturan yang berbeda untuk dua pihak dalam kondisi setara.
  2. Tidak memberikan alasan logis mengapa standar berbeda digunakan.
  3. Munculnya keberpihakan tersembunyi yang memengaruhi penalaran.
  4. Inkonsistensi dalam penerapan prinsip moral atau logis.
  5. Argumen tampak kontradiktif ketika dikembalikan kepada prinsip umum.

Contoh Double Standard Fallacy

  1. “Ketika tim saya terlambat memulai pertandingan, itu wajar. Tapi kalau tim lawan terlambat, itu tidak profesional.”
    Padahal kedua kondisi sama.
  2. “Ketika teman saya mengkritik, itu disebut jujur. Tapi ketika orang lain mengkritik, itu disebut menyerang.”
    Standar berbeda digunakan tanpa alasan sah.
  3. “Ketika perusahaan A menaikkan harga, dianggap inovasi bisnis. Tapi ketika perusahaan B melakukan hal yang sama, itu disebut serakah.”
    Penilaian inkonsisten tanpa pembenaran.
  4. “Jika kelompok kita gagal, itu karena keadaan. Jika kelompok mereka gagal, itu karena ketidakmampuan.”
    Bias atribusi yang menguntungkan satu pihak.
Orang lain juga membaca :  Ad Ignorantiam

Cara Menghindari Double Standard Fallacy

Untuk menghindari kekeliruan ini, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

  1. Gunakan standar penilaian yang konsisten untuk semua pihak.
  2. Pastikan perbedaan perlakuan memiliki alasan rasional yang dapat diuji.
  3. Periksa apakah argumen akan tetap logis jika posisinya dibalik (reversal test).
  4. Sadari bias pribadi yang mungkin memengaruhi penilaian.
  5. Gunakan prinsip universal dalam menilai tindakan, bukan preferensi individu.

FAQ

Bagaimana membedakan double standard fallacy dengan perbedaan perlakuan yang sah?

Perbedaan perlakuan sah jika memiliki dasar rasional yang objektif; double standard tidak.

Mengapa manusia rentan pada double standard fallacy?

Karena bias kognitif seperti ingroup bias, rasionalisasi, dan kebutuhan mempertahankan citra diri.

Apakah semua sikap pilih kasih termasuk double standard fallacy?

Tidak. Hanya ketika pilihan itu muncul dalam argumen yang mengklaim objektivitas tanpa konsistensi.

Referensi

  • Damer, T. E. (2013). Attacking Faulty Reasoning. Wadsworth.
  • Johnson, R. H., & Blair, J. A. (2006). Logical Self-Defense. Idea Publishing.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Division Fallacy

Next Article

Double Bind Fallacy

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *