Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Dewi Sri adalah figur folklor dan mitologis yang sangat penting dalam kebudayaan agraris Nusantara, khususnya di Jawa, Sunda, dan Bali. Ia dikenal sebagai dewi padi, kesuburan, dan kemakmuran yang mengatur siklus kehidupan manusia melalui pertanian. Kisah Dewi Sri hidup dalam tradisi lisan, ritus adat, mitos kosmologis, serta praktik keagamaan rakyat yang berakar kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat petani. Dalam kajian folklor, Dewi Sri dipahami sebagai personifikasi hubungan sakral antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi, sekaligus simbol kesejahteraan kolektif dan keberlangsungan hidup.
Daftar Isi
Folklor Dewi Sri memiliki berbagai versi yang tersebar di Nusantara, namun pada dasarnya mengisahkan asal-usul padi dan tanaman pangan yang menjadi sumber kehidupan manusia. Dalam salah satu versi yang paling dikenal di Jawa, Dewi Sri berasal dari dunia kahyangan dan diturunkan ke bumi sebagai anugerah para dewa untuk menyelamatkan manusia dari kelaparan. Kehadirannya membawa benih padi dan pengetahuan bertani.
Dalam versi lain, Dewi Sri digambarkan meninggal atau mengorbankan dirinya, dan dari bagian-bagian tubuhnya tumbuh berbagai tanaman pangan seperti padi, kelapa, rempah-rempah, dan sayuran. Pengorbanan ini menjadikan Dewi Sri sebagai sumber kehidupan yang abadi, meskipun secara fisik ia tidak lagi hadir di dunia manusia.
Cerita-cerita Dewi Sri menegaskan bahwa kesuburan dan hasil panen bukan semata hasil kerja manusia, melainkan berkaitan erat dengan keharmonisan spiritual, sikap hormat kepada alam, dan kepatuhan terhadap adat. Oleh karena itu, Dewi Sri dipuja melalui berbagai upacara tani, seperti wiwitan, seren taun, dan ritual panen lainnya.
Folklor Dewi Sri termasuk dalam kategori mitos, karena berkaitan dengan dewa, asal-usul kosmos, dan sistem kepercayaan masyarakat. Dalam klasifikasi folklor, Dewi Sri dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai mitos, Dewi Sri berfungsi menjelaskan hubungan manusia dengan alam dan memberikan legitimasi sakral terhadap praktik pertanian tradisional.
Folklor Dewi Sri berkembang dalam masyarakat agraris Nusantara yang sangat bergantung pada siklus tanam dan panen. Dalam konteks budaya Jawa dan Sunda, Dewi Sri menempati posisi sentral sebagai pelindung sawah, lumbung padi, dan rumah tangga. Kepercayaan terhadap Dewi Sri juga menunjukkan sinkretisme antara animisme lokal, Hindu-Buddha, dan kepercayaan rakyat.
Dalam budaya Bali, Dewi Sri diidentikkan dengan sistem subak dan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Kehadirannya mencerminkan pandangan kosmologi bahwa kesuburan adalah hasil keseimbangan spiritual dan sosial. Dengan demikian, folklor Dewi Sri tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga hidup dalam praktik dan ritus sehari-hari.
Folklor Dewi Sri memiliki berbagai makna dan fungsi penting dalam kehidupan budaya masyarakat agraris Nusantara, antara lain:
Dewi Sri adalah tokoh dewi dalam kepercayaan dan folklor Nusantara yang dikenal sebagai dewi padi, kesuburan, dan kemakmuran. Ia sangat dihormati terutama dalam budaya Jawa, Sunda, dan Bali, karena dianggap sebagai pelindung pertanian dan sumber kehidupan masyarakat agraris.
Dalam folklor, Dewi Sri berperan sebagai simbol kesuburan tanah dan keberhasilan panen. Kisah-kisah tentang Dewi Sri sering dikaitkan dengan asal-usul padi dan ritual pertanian, seperti upacara menanam dan panen, yang bertujuan memohon kesejahteraan serta keseimbangan alam.
Dewi Sri penting karena mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam budaya Nusantara. Kepercayaannya menunjukkan penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan dan menegaskan nilai gotong royong, rasa syukur, serta keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat tradisional.