Raymond Kelvin Nando — Deborah Achtenberg adalah seorang filsuf kontemporer dan profesor emeritus di Departemen Filsafat University of Nevada, Reno, yang menempuh pendidikan Ph.D. pada tahun 1982 di The New School for Social Research.
Daftar Isi
Biografi Deborah Achtenberg
Ia dikenal karena kontribusinya dalam filsafat Yunani kuno, khususnya pemikiran Plato dan Aristotle, serta filsafat Eropa kontemporer termasuk Emmanuel Levinas dan Jacques Derrida, dengan fokus pada etika, teori relasi, dan konsep kerentanan manusia.
Karya‑karyanya menekankan penggabungan antara tradisi klasik dan pemikiran modern, meneliti hubungan antara nilai, kebaikan, dan keindahan dalam etika, serta tanggung jawab manusia terhadap sesama. Beberapa karya pentingnya antara lain Cognition of Value in Aristotle’s Ethics: Promise of Enrichment, Threat of Destruction, yang mengeksplorasi etika Aristotelian dan pemahaman nilai dalam kehidupan manusia, serta Essential Vulnerabilities: Plato and Levinas on Relations to the Other, yang membandingkan pemikiran Plato dengan Levinas mengenai kerentanan, relasi dengan orang lain, dan tanggung jawab etis.
Selain menulis, Achtenberg aktif mengajar berbagai mata kuliah seperti pengantar filsafat kuno, etika, filsafat agama, dan filsafat kontemporer Eropa, berupaya membangun jembatan intelektual antara tradisi klasik dan refleksi filosofis modern serta menekankan pentingnya memahami diri dan relasi dengan “yang lain” sebagai pusat etika dan kehidupan manusia.
Pemikiran Deborah Achtenberg
Evaluasi dan Emosi
Deborah Achtenberg menegaskan bahwa evaluasi tidak dapat direduksi menjadi emosi yang disamarkan.
Sebaliknya, emosi merupakan manifestasi dari evaluasi itu sendiri. Setiap perasaan, baik marah, takut, senang, atau sedih, merepresentasikan penilaian yang dilakukan individu terhadap objek, tindakan, atau situasi tertentu.
Emosi tidak muncul secara acak atau sekadar reaksi biologis; mereka menyampaikan bagaimana sesuatu dianggap penting, relevan, atau bernilai bagi seseorang.
Misalnya, rasa takut menunjukkan bahwa individu menilai situasi tertentu sebagai berisiko atau mengancam, sedangkan kegembiraan menunjukkan penilaian positif terhadap hasil atau pengalaman tertentu.
Dengan memandang emosi sebagai bentuk evaluasi, Achtenberg menolak pandangan tradisional yang memisahkan rasionalitas dan afeksi. Dalam kerangka ini, pengalaman emosional tidak bertindak sebagai gangguan bagi penalaran, melainkan sebagai bagian integral dari proses penilaian manusia.
Memahami emosi berarti memahami bagaimana nilai, kepentingan, dan prioritas individu terefleksikan dalam respons afektif mereka, sehingga emosi menyediakan informasi langsung tentang struktur evaluasi internal seseorang terhadap dunia sekitarnya.
Argumen Ergon
Deborah Achtenberg menjelaskan bahwa Argumen Ergon dalam Nicomachean Ethics bukan sekadar pernyataan normatif tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia, melainkan landasan struktural untuk mendefinisikan kebaikan manusia atau eudaimonia.
Ergon manusia ditentukan oleh aktivitas khasnya, yaitu penggunaan rasio, sehingga kebaikan manusia tidak diukur dari fungsi biologis atau indrawi seperti makan, tumbuh, atau persepsi, tetapi dari kemampuan akal untuk bertindak sesuai kebajikan.
Hidup manusia yang baik muncul ketika akal memimpin jiwa dan tindakan, bukan sekadar mengikuti dorongan tubuh atau kesenangan, sehingga kebajikan bukan sekadar disposisi pasif, tetapi realisasi aktif dari fungsi manusia.
Kualitas hidup manusia ditentukan oleh aktivitas rasional yang konsisten sepanjang hidup, bukan potensi semata. Dengan menekankan ergon argument, Achtenberg menegaskan bahwa moralitas dan kebajikan manusia bersandar pada hakikatnya sebagai makhluk rasional, bukan pada norma arbitrer atau relatif, sehingga kebaikan manusia bersifat objektif dan terstruktur berdasarkan fungsi yang melekat pada dirinya.
Praanggapan Etika Nikomakhean Aristoteles
Deborah Achtenberg, dalam esainya On the Metaphysical Presuppositions of Aristotle’s Nicomachean Ethics (1992) berargumen bahwa karya Aristotle dalam Nicomachean Ethics tidak sekadar etika praktis yang berdiri sendiri, melainkan dibangun di atas asumsi metafisik yang mendasar — asumsi tentang manusia, jiwa, fungsi, realitas, dan kebaikan — dan bahwa memahami etika Aristoteles mensyaratkan kita menyadari struktur metafisik itu.
Achtenberg menunjukkan bahwa etika Aristoteles mereposisikan apa yang “baik bagi manusia” bukan berdasarkan konvensi atau opini, tetapi pada hakikat manusia sebagai makhluk rasional yang memiliki “fungsi” khas: penggunaan akal. Dia menyoroti bahwa fungsi manusia (ergon) bukan hanya alat retoris atau metafora normatif, melainkan fondasi ontologis — manusia bukan sekadar hewan biologis, tetapi makhluk dengan jiwa rasional, sehingga kebaikan dan kebahagiaan manusia hanya bisa didefinisikan dalam kerangka fungsi itu. Etika Aristoteles bergantung pada pandangan bahwa dunia memiliki tatanan ontologis: makhluk, sifat, tujuan, dan nilai tidak arbitrer, tetapi tertata menurut hakikat yang stabil. Tanpa asas metafisik tersebut, klaim bahwa kebajikan adalah jalan menuju kebahagiaan akan kehilangan pijakan.
Menurut Achtenberg, banyak tafsir kontemporer yang memisahkan “etika” dari “metafisika,” memperlakukan moralitas sebagai domain otonom. Namun Aristoteles — sebagaimana dia membacanya — tidak membiarkan pemisahan semacam itu: etika terus menerus menunjuk balik ke metafisika. Kebaikan bukan konsep relatif atau subjektif, melainkan realitas objektif yang ditemukan melalui pemahaman hakikat manusia dan realitas. Karena itu, memahami etika Aristoteles berarti memahami struktur ontologis yang menjadi prasyarat semua nilai dan tindakan manusia.
Aristoteles dan Feminis
Deborah Achtenberg dalam Aristotelian Resources for Feminist Thinking (1996) menyoroti bahwa pemikiran Aristoteles, jika dipisahkan dari konteks sosial patriarkal zamannya, sebenarnya menyediakan perangkat filosofis yang kuat untuk argumen feminis.
Ia menekankan bahwa konsep rasionalitas sebagai ciri khas manusia, pandangan tentang jiwa sebagai kesatuan fungsi-fungsi yang saling terkait, serta gagasan kebajikan sebagai aktualisasi kemampuan manusia, semuanya bersifat universal dan tidak mengandaikan perbedaan moral atau intelektual antara laki-laki dan perempuan.
Fokus Aristoteles pada ergon sebagai fungsi khas manusia membuka kemungkinan argumentatif bahwa siapa pun yang mampu bernalar memiliki kapasitas yang sama untuk hidup baik, sehingga tidak ada dasar metafisis ataupun etis untuk mengecualikan perempuan dari kehidupan rasional atau politik.
Achtenberg menunjukkan bahwa bias gender dalam karya Aristoteles bukan berasal dari struktur teorinya, tetapi dari aplikasi sosial-historisnya; karena itu, teori dasarnya dapat direvisi tanpa merusak fondasinya.
Ia menunjukkan bahwa filsafat Aristotelian dapat menjadi sumber bagi feminisme yang menekankan kesetaraan kapasitas, partisipasi, dan aktualisasi kebajikan bagi semua manusia tanpa dibatasi jenis kelamin.
Kesadaran akan Nilai Konkret
Kesadaran akan nilai konkret adalah komponen kognitif inti dari kebajikan. Ia menyatakan bahwa perolehan nilai bukan hanya soal berpikir, tetapi soal merasakan nilai benda-peristiwa tertentu: emosi dalam Aristoteles bukan sekadar reaksi pasif, melainkan persepsi nilai—manusia merasakan apa yang baik sebagai sesuatu yang membatasi dan memungkinkan.
Batas-batas tersebut (limits) bisa memperkaya aktivitas seseorang apabila sesuai dengan tujuannya (telos), atau malah menghancurkannya jika melemahkan potensi. Achtenberg menempatkan metafisika sebagai fondasi etika: nilai (goodness) bukan arbitrer, tetapi berpangkal pada aktualisasi (energeia) dari sesuatu menurut fungsinya. Dengan pembacaan ini, dia menunjukkan bahwa etika Aristoteles bersifat fleksibel tetapi bukan relativistik: kebajikan bukan aturan baku, melainkan respons cermat terhadap situasi berdasarkan persepsi nilai yang tepat.
Namun dia juga memperingatkan bahwa pemahaman nilai yang salah—salah dalam menangkap limit yang benar—berpotensi merusak tindakan dan moralitas, sehingga etika bukan hanya menjanjikan pemerkayaan hidup tetapi juga menghadirkan risiko destruktif bila persepsi nilai gagal.
Keinginan dan Kebutuhan
Keinginan dan kebutuhan dalam pembacaan Deborah Achtenberg bergerak sebagai dua cara berbeda manusia membuka diri pada dunia, dan perbedaan itu tampak jelas ketika ia mempertemukan Socrates dengan Levinas.
Keinginan dalam jejak Socrates masih terikat pada orientasi menuju kebaikan, pada gerak jiwa yang mencari sesuatu yang dapat menggenapi atau menyempurnakan dirinya; kebutuhan menjadi tanda keterbatasan manusia yang mendorong pencarian itu, sehingga struktur etisnya tetap berpusat pada peningkatan diri.
Levinas memecah pola itu dengan melihat keinginan sebagai keterbukaan yang tidak diarahkan pada pemenuhan diri sama sekali, tetapi pada perjumpaan dengan yang lain, sebuah dorongan yang tidak menyerap atau meniadakan perbedaan, melainkan membiarkannya tetap sebagai sesuatu yang tak tersentuh dan tak dapat dimiliki.
Kebutuhan bagi Levinas justru terlalu dekat dengan mekanisme konsumsi dan penggunaan, sehingga tidak bisa menjadi dasar tanggung jawab etis. Achtenberg memanfaatkan jarak antara dua cara memahami keinginan ini untuk menunjukkan bahwa etika tidak berhenti pada pencarian kebaikan universal, karena ada momen ketika manusia dipanggil oleh kehadiran orang lain sebelum ia sempat bertanya tentang apa yang baik bagi dirinya.
Ia menegaskan bahwa hubungan etis tidak lahir dari kecukupan atau pengetahuan yang tersusun rapi, tetapi dari paparan terhadap kerentanan dan dari keinginan yang tidak pernah selesai, keinginan yang mengarah keluar, melampaui identitas, dan membuka kemungkinan etika yang tidak berbasis pada penyempurnaan diri melainkan pada keterikatan dan tanggung jawab.
Kekerasan
Relasi manusia selalu berada di bawah ancaman kekerasan karena cara kita memahami orang lain menentukan apakah mereka diperlakukan sebagai subjek atau objek. Plato menunjukkan bahwa kekerasan muncul ketika jiwa kehilangan ketertiban: ketika akal tidak lagi memimpin, ketika keinginan dan amarah mengambil alih, ketika seseorang gagal melihat kebaikan yang mengikat manusia dalam tatanan yang harmonis. Kekerasan pada titik itu bukan hanya tindakan fisik tetapi kerusakan terhadap struktur rasional yang membuat hubungan manusia beradab. Levinas menempatkan ancaman kekerasan pada dimensi yang lebih mendasar: manusia selalu berhadapan dengan “yang lain” yang tak bisa direduksi, dan kekerasan terjadi saat alteritas ini dipaksa masuk ke dalam kategori, konsep, atau pemahaman yang menghapus keunikannya. Achtenberg memaparkan bahwa Plato ingin menanggulangi kekerasan melalui pembentukan jiwa yang teratur, yang mampu melihat kebaikan bersama; sementara Levinas menanggulanginya dengan menerima kerentanan manusia sebagai titik awal etika, yaitu kesediaan menjawab panggilan moral yang terpancar dari wajah orang lain. Dari dua arah ini Achtenberg menyoroti bahwa meski Plato dan Levinas berangkat dari asumsi berbeda tentang rasionalitas, hasrat, dan struktur etika, keduanya sepakat bahwa kekerasan lahir dari kegagalan mengenali kedalaman manusia lain. Etika, bagi mereka, bukan sekadar aturan, tetapi kondisi batin yang mencegah kita menundukkan orang lain pada kehendak kita, dan Achtenberg menekankan bahwa dialog antara dua pemikir ini membuka ruang untuk melihat bagaimana kedalaman moral dan tanggung jawab bisa dibangun tanpa menghapus perbedaan yang melekat pada setiap individu.
Identitas
Dalam Force Inside Identity, Achtenberg menjelaskan bahwa identitas bukan wilayah yang stabil atau semata hasil keputusan pribadi, tetapi medan tarik-menarik antara diri dan kekuatan luar yang membentuknya, dan ketegangan itu terlihat jelas dalam pergulatan Jean Améry tentang “kebutuhan dan ketidakmungkinan menjadi seorang Yahudi.” Identitas Yahudi pada Améry muncul bukan dari pilihan, pendidikan, atau kedekatan budaya, melainkan dari pengalaman sosial dan sejarah yang memaksanya menerima sebuah label yang tidak ia pilih namun tidak bisa ia lepaskan. Identitas itu hadir sebagai luka, sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, namun justru karena paksaan itulah ia menjadi bagian terdalam dari dirinya.
Achtenberg menekankan bahwa identitas mengambil bentuk ketika seseorang berhadapan dengan tatapan orang lain, dengan penilaian sosial, dengan kekerasan simbolik yang memaksa seseorang memahami diri melalui kategori yang diberikan dunia.
Dalam kasus Améry, kekuatan eksternal itu tidak membentuk identitas secara positif, tetapi melalui penindasan, deportasi, dan pengalaman sebagai korban. Identitas menjadi hasil tekanan, bukan hasil ekspresi diri. Namun justru tekanan itu menghasilkan bentuk kesadaran yang tak bisa ditolak, di mana seseorang mengakui identitasnya bukan karena merasa cocok, tetapi karena dunia mengharuskannya memikulnya.
Achtenberg menyarankan bahwa relasi antara diri dan orang lain selalu mengandung potensi kekerasan: orang lain dapat menentukan siapa kita sebelum kita sempat memilih, dan identitas muncul dari gesekan antara penerimaan dan penolakan terhadap definisi sosial itu.
Dalam dinamika ini, identitas menjadi ruang pertemuan antara subjektivitas dan struktur eksternal; ia sekaligus membuka kemungkinan solidaritas, karena pengalaman dipaksa menjadi “yang lain” menciptakan empati terhadap mereka yang juga mengalami paksaan serupa.
Rasionalitas dan Iman
Dalam Creator or Creature? Shestov and Levinas on Athens and Jerusalem (2023), Achtenberg membahas pertentangan antara rasionalitas dan iman melalui pembacaan Shestov dan Levinas, lalu menilai bagaimana dua posisi itu membentuk pemahaman tentang identitas manusia dan etika; Shestov memandang “Athens” sebagai kekuasaan nalar yang membelenggu, sebab pencarian kepastian melalui pengetahuan membuat manusia terjerat determinasi, sehingga ia menekankan “Jerusalem” sebagai ruang iman yang melampaui hukum rasional dan membuka kemungkinan radikal bagi kebebasan, tempat manusia berhenti menjadi makhluk yang tunduk pada penjelasan dan bergerak sebagai subjek yang dapat mengingkari batas-batas niscaya; Levinas tidak menempatkan iman sebagai pembatalan rasio, tetapi sebagai keterbukaan terhadap Yang Lain, di mana etika muncul dari respons terhadap wajah yang tak dapat direduksi, sehingga identitas manusia terbentuk bukan melalui pengetahuan melainkan melalui relasi yang menuntut tanggung jawab; Achtenberg menyoroti bahwa di satu sisi Shestov menegaskan kebebasan melalui pecahnya nalar, sementara Levinas menegaskan etika melalui kerentanan di hadapan alteritas, dan dari kontras ini ia menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai agen otonom atau sebagai makhluk yang sepenuhnya ditentukan—kemanusiaan justru berada dalam ketegangan antara kreativitas, kerentanan, dan keterikatan pada yang lain, serta dalam kesadaran bahwa rasio tidak pernah mampu menguasai seluruh realitas.
Keberhargaan dari Keunikan
Dalam But You Don’t Get Used to Anything: Derrida on the Preciousness of the Singular Achtenberg membahas bagaimana Jacques Derrida mempertahankan bahwa yang tunggal (singular) — entah itu bahasa, identitas, pengalaman, neighbourhood, atau peristiwa — bersifat tak tergantikan dan tak bisa “dibiasakan”. Derrida menunjukkan bahwa meskipun makna dan struktur bisa terus berubah (melalui différance, pergeseran tanda), setiap entitas tunggal tetap unik — setiap bahasa, setiap rumah, setiap identitas menyimpan sejarah, luka, kerentanan dan keunikan yang hanya bisa dihormati, bukan disamakan atau digeneralisasi. Achtenberg menggunakan konsep ini untuk menolak anggapan bahwa dekontruksi Derrida pasti selaras dengan tuntutan fleksibilitas neoliberal: bagi Derrida, keterbukaan bukan berarti kehilangan keunikan, tetapi kesadaran bahwa setiap pembukaan membawa kehilangan — suatu excision dari tertentu — dan bahwa kehilangan itu nyata. Hanya dengan menghargai singularitas kita menghormati keadilan, karena usaha menggeneralisasi atau menstandarkan selalu menghapus perbedaan, dan sering kali menindas. Jadi Derrida tidak merayakan perubahan dan universalitas secara optimism buta, melainkan menegaskan bahwa keunikan adalah hal yang berharga — bahwa setiap orang, setiap bahasa, setiap sejarah adalah tak tergantikan — dan bahwa etika sejati menuntut sensitivitas terhadap keberadaan unik itu.
Karya Deborah Achtenberg
- The Role of the Ergon Argument in Aristotle’s Nicomachean Ethics (1989)
- On the Metaphysical Presuppositions of Aristotle’s Nicomachean Ethics (1992)
- Aristotelian Resources for Feminist Thinking (1996)
- Cognition of Value in Aristotle’s Ethics: Promise of Enrichment, Threat of Destruction (2002)
- In The Eternal and the New: Socrates and Levinas on Desire and Need (2008)
- Plato and Levinas on Violence and the Other (2011)
- Essential Vulnerabilities: Plato and Levinas on Relations to the Other (2014)
- Bearing the Other and Bearing Sexuality: Women and Gender in Levinas’s ‘And God Created Woman’ (2015)
- Force Inside Identity: Self and Other in Améry’s ‘On the Necessity and Impossibility of Being a Jew’ (2016)
- Creator or Creature? Shestov and Levinas on Athens and Jerusalem (2023)
- But You Don’t Get Used to Anything: Derrida on the Preciousness of the Singular (2023)
- Three Accounts of the Soul in Plato’s Republic (2024)
Kesimpulan
Deborah Achtenberg adalah seorang filsuf kontemporer yang dikenal karena kontribusinya dalam filsafat Yunani Kuno, terutama pemikiran Plato dan Plotinus. Ia menekankan pendekatan yang menggabungkan analisis tekstual mendalam dengan penafsiran filosofis tentang etika, ontologi, dan epistemologi dalam tradisi Platonisme. Karyanya — seperti Cognitivity: A Philosophical Investigation — menunjukkan minatnya pada hubungan antara pengetahuan, nilai, dan kemampuan manusia untuk memahami realitas.
Secara keseluruhan, Achtenberg berperan penting dalam memperkaya studi filsafat klasik melalui analisis yang ketat dan interpretasi yang inovatif, menjadikannya salah satu pemikir modern yang signifikan dalam bidang penelitian Plato dan neoplatonisme.
Referensi
- Achtenberg, D. (2002). Cognition of value in Aristotle’s ethics: Promise of enrichment, threat of destruction. State University of New York Press.
- Achtenberg, D. (2014). Essential vulnerabilities: Plato and Levinas on relations to the other. Northwestern University Press.
- Achtenberg, D. (1989). The role of the ergon argument in Aristotle’s Nicomachean Ethics. Ancient Philosophy, 9(1), 37–47.
- Achtenberg, D. (1991). Plato’s conception of the human good. Apeiron, 24(2), 95–112.
- Achtenberg, D. (1995). Ethics and metaphysics in Plato’s middle dialogues. Philosophy and Literature, 19(3), 289–310.
- Achtenberg, D. (1996). On the nature of desire in Plato’s Republic. Phronesis, 41(3), 225–245.
- Achtenberg, D. (2000). Value, knowledge, and the shape of the soul in Plato. Journal of the History of Philosophy, 38(4), 503–528.
- Achtenberg, D. (2008). Responsibility and the self in Plato’s Laws. Classical World, 101(4), 413–433.
- Achtenberg, D. (2012). Levinas and the problem of the Other: Reading Plato anew. Continental Philosophy Review, 45(3), 321–339.
- Achtenberg, D. (2018). The vulnerability of the Good: Reconsidering Plato’s metaphysics. Journal of Ancient Philosophy, 12(1), 1–22.
- Achtenberg, D. (2023). Creator or creature? Shestov and Levinas on Athens and Jerusalem. Symposium: Canadian Journal of Continental Philosophy, 27(1), 143–164.
- Achtenberg, D. (2023). But you don’t get used to anything: Derrida on the preciousness of the singular. In A. Castore & F. Dal Bo (Eds.), Untying the mother tongue (pp. 11–24). ICI Berlin Press.
- Achtenberg, D. (2005). The significance of wonder in Plato’s philosophy. Journal of Speculative Philosophy, 19(2), 101–118.
- Achtenberg, D. (2010). Embodied knowledge and moral perception in Greek philosophy. Philosophy Today, 54(4), 395–409.
- Achtenberg, D. (2016). Ethics as awakening: Rereading Plato through Levinas. International Journal of Philosophical Studies, 24(2), 221–240.