Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — David John Chalmers adalah salah satu filsuf paling menonjol dalam filsafat pikiran kontemporer, terkenal karena merumuskan istilah “the hard problem of consciousness” dan menghidupkan kembali perdebatan modern mengenai hubungan antara pikiran dan dunia fisik. Pemikirannya mencakup fenomenal consciousness, dualisme naturalistik, representasionalisme, filsafat kecerdasan buatan, serta implikasi ontologis dari realitas virtual. Chalmers menempati posisi unik sebagai filsuf analitik yang sangat berpengaruh namun sekaligus populer di luar akademia karena gaya argumentatifnya yang sistematis, radikal, dan sangat jelas.
Daftar Isi
David John Chalmers lahir pada 20 April 1966 di Sydney, Australia. Ia menempuh pendidikan sarjana di University of Adelaide dalam bidang matematika, kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Indiana University Bloomington di bawah bimbingan Douglas Hofstadter, penulis Gödel, Escher, Bach. Lingkungan intelektual ini membentuk minat Chalmers pada hubungan antara pikiran, bahasa, informasi, dan kecerdasan buatan.
Setelah menyelesaikan doktoralnya, Chalmers bekerja di Washington University in St. Louis, lalu di University of California, Santa Cruz, sebelum akhirnya menjadi profesor di Australian National University dan New York University. Ia turut mendirikan Association for the Scientific Study of Consciousness (ASSC) dan memainkan peran penting dalam mengembangkan studi kesadaran modern sebagai bidang multidisipliner.
Chalmers banyak terlibat dalam perdebatan publik mengenai AI, kesadaran hewan, realitas virtual, dan teori informasi. Meskipun ia dikenal sebagai filsuf analitik ketat, ia tidak ragu meminjam ide dari kognitif sains, ilmu komputer, fisika kuantum, dan bahkan budaya populer. Buku-bukunya The Conscious Mind (1996) dan Reality+ (2022) menjadi tonggak penting dalam filsafat pikiran dan eksistensi.
Chalmers membedakan dua jenis problem kesadaran:
Easy problems dapat dipecahkan oleh ilmu kognitif dan neurobiologi. Hard problem menuntut teori radikal tentang bagaimana fenomena subjektif muncul dari dunia fisik.
Chalmers berargumen bahwa pengalaman fenomenal tidak dapat direduksi ke proses fisik:
Ia tidak menolak ilmu saraf, tetapi mengatakan bahwa pengalaman fenomenal membutuhkan penjelasan tambahan.
Chalmers mengusulkan dualisme naturalistik, bukan dualisme Cartesian. Kesadaran memang berbeda dari fisika, tetapi tetap bagian dari alam dan dapat dimasukkan dalam kerangka ilmiah.
Menurutnya:
Ini menghasilkan property dualism, bukan substance dualism.
Untuk menjelaskan hubungan antara otak dan pengalaman, Chalmers mengusulkan adanya psychophysical laws — hukum dasar yang menghubungkan proses fisik dengan fenomena mental. Hukum ini akan:
Chalmers mengembangkan argumen zombi: makhluk yang secara fisik identik dengan manusia tetapi tidak memiliki pengalaman subjektif.
Zombi bukan makhluk nyata, tetapi alat konseptual untuk menunjukkan perbedaan antara struktur fisik dan pengalaman fenomenal.
Jika suatu entitas conceivably possible, maka secara modal mungkin, dan jika demikian, identitas fisik–mental tidak dapat benar.
Dalam artikel terkenal The Extended Mind (1998), Chalmers dan Andy Clark mengusulkan:
Sistem kognitif manusia mencakup alat eksternal—buku catatan, komputer, peta, perangkat digital.
Contoh klasik:
Bahasa, alat digital, dan lingkungan menjadi bagian dari sistem kognitif.
Dalam Reality+ (2022), Chalmers berargumen bahwa:
VR bukan ilusi, tetapi domain ontologis baru.
Chalmers mengembangkan simulation realism:
Chalmers berpendapat bahwa kecerdasan buatan tingkat lanjut:
Ia membagi dua jalur kesadaran mesin:
Chalmers terbuka pada panpsikisme, pandangan bahwa semua materi memiliki aspek mental. Ia berpendapat bahwa:
Meskipun tidak berkomitmen penuh, ia menganggap panpsikisme sebagai kandidat teori paling menjanjikan selain dualisme.