Cum Hoc Ergo Propter Hoc Fallacy

Raymond Kelvin Nando Cum hoc ergo propter hoc fallacy adalah kekeliruan berpikir ketika seseorang menganggap dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan pasti memiliki hubungan sebab-akibat, padahal keberbersamaan tersebut tidak cukup untuk membuktikan kausalitas yang sebenarnya.

Pengertian Cum Hoc Ergo Propter Hoc Fallacy

Pengertian cum hoc ergo propter hoc fallacy merujuk pada kesalahan penalaran yang menyamakan korelasi dengan kausalitas. Ketika dua fenomena muncul secara simultan, seseorang menyimpulkan bahwa yang satu menyebabkan yang lain tanpa memeriksa variabel lain, hubungan kompleks, atau kebetulan statistik. Dalam epistemologi, kekeliruan ini melemahkan validitas argumen karena mengabaikan prinsip dasar inferensi kausal yang menuntut bukti lebih dari sekadar keserentakan.

Ciri-ciri Cum Hoc Ergo Propter Hoc Fallacy

Ciri-ciri cum hoc ergo propter hoc fallacy ditandai oleh beberapa pola:

  1. Menghubungkan dua fenomena yang terjadi bersamaan tanpa pembuktian kausal.
  2. Mengabaikan kemungkinan adanya variabel ketiga yang memengaruhi keduanya.
  3. Menyimpulkan sebab-akibat berdasarkan pola statistik yang tampak “cocok” tetapi tidak diuji.
  4. Menggunakan kalimat yang mengasumsikan hubungan langsung tanpa argumen pendukung.

Contoh Cum Hoc Ergo Propter Hoc Fallacy

Contoh cum hoc ergo propter hoc fallacy dapat ditemukan dalam banyak wacana publik. Misalnya, “Ketika penggunaan internet meningkat, tingkat stres juga meningkat; jadi internet menyebabkan stres.” Padahal stres dapat dipengaruhi tuntutan pekerjaan, kondisi ekonomi, dan faktor psikologis lain yang meningkat bersamaan dengan perkembangan teknologi. Contoh lain: “Siswa yang banyak membaca sering mendapat nilai tinggi, berarti membaca menyebabkan nilai tinggi.” Kesimpulan ini mengabaikan motivasi belajar, kualitas pengajaran, atau lingkungan akademik yang mendukung.

Orang lain juga membaca :  Appeal to Emotion

Cara Menghindari Cum Hoc Ergo Propter Hoc Fallacy

Cara menghindari cum hoc ergo propter hoc fallacy adalah dengan membedakan korelasi dari kausalitas melalui beberapa langkah:

  1. Memeriksa apakah ada variabel ketiga yang menjelaskan hubungan tersebut.
  2. Memastikan adanya urutan temporal yang logis antara dua fenomena.
  3. Menggunakan bukti empiris dari eksperimen terkontrol atau studi longitudinal.
  4. Mengajukan pertanyaan kritis seperti “Apakah keduanya hanya terjadi secara bersamaan atau benar-benar saling memengaruhi?”

FAQ

Apa penyebab utama orang mudah terjebak dalam cum hoc ergo propter hoc fallacy?

Karena manusia cenderung mencari pola instan dan menyukai penjelasan sederhana, sehingga keserentakan dianggap identik dengan kausalitas.

Apakah korelasi benar-benar tidak berguna?

Korelasi tetap berfungsi sebagai indikasi awal, tetapi tidak boleh langsung dijadikan dasar penarikan kesimpulan kausal tanpa bukti tambahan.

Apakah fallacy ini identik dengan post hoc ergo propter hoc?

Tidak. Post hoc bergantung pada urutan waktu, sedangkan cum hoc bergantung pada dua fenomena yang terjadi secara simultan.

Referensi

  • Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Cengage Learning.
  • Govier, T. (2014). A practical study of argument (8th ed.). Wadsworth.
  • Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Confusing Cause and Effect Fallacy

Next Article

Division Fallacy

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *