Cornel West

Raymond Kelvin Nando — Cornel West adalah filsuf, kritikus budaya, teolog, dan intelektual publik Amerika Serikat yang dikenal karena analisisnya mengenai ras, demokrasi, keadilan sosial, dan kemanusiaan dalam konteks masyarakat kapitalis modern. Ia adalah salah satu suara paling berpengaruh dalam tradisi filsafat Afrika-Amerika, pragmatisme radikal, dan demokrasi profetik.

Biografi Cornel West

Cornel Ronald West lahir pada 2 Juni 1953 di Tulsa, Oklahoma, dan dibesarkan di Sacramento, California. Ia menyelesaikan gelar sarjananya di Harvard University dan kemudian memperoleh gelar doktor dalam filsafat dari Princeton University—menjadikannya mahasiswa Afrika-Amerika pertama yang mendapatkan gelar PhD filsafat dari institusi tersebut.

West menjadi figur utama dalam wacana sosial Amerika melalui tulisannya yang mendalam dan gaya retorika yang kuat, memadukan filsafat, teologi, musik, sejarah, dan kritik budaya. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Race Matters (1993) dan Democracy Matters (2004).

Ia juga dikenal karena keterlibatannya dalam aktivisme politik dan gerakan keadilan sosial, serta kolaborasinya dengan berbagai komunitas akar rumput.

Konsep-Konsep Utama

Demokrasi Profetik

Demokrasi profetik adalah gagasan West tentang demokrasi yang berorientasi pada keadilan, kasih, empati, serta keberanian moral. Ia menggabungkan etika religius, pemikiran radikal Amerika, dan tradisi Afrika-Amerika untuk menekankan bahwa demokrasi sejati menuntut kritik terhadap kekuasaan dan solidaritas dengan yang tertindas.

“Democracy is not just a system but a way of life rooted in love and justice.”
(Democracy Matters, 2004)

Kritik Terhadap Kapitalisme dan Neoliberalisme

West mengkritik kapitalisme sebagai sistem yang meminggirkan warga kelas bawah dan menghilangkan nilai-nilai spiritual-sosial yang penting. Ia menentang neoliberalisme karena dianggap mengorbankan martabat manusia demi profit dan efisiensi ekonomi.

Orang lain juga membaca :  Cornutus (Lucius Annaeus Cornutus)

Bagi West, kapitalisme tidak hanya menciptakan ketimpangan material, tetapi juga kemerosotan moral.

Ras dan Keadilan Sosial

Rasisme struktural menjadi salah satu tema utama pemikiran West. Dalam Race Matters, ia meneliti akar ketidakadilan rasial, krisis moral dalam komunitas kulit hitam, dan bagaimana supremasi kulit putih masih menembus institusi sosial.

Ia menekankan pentingnya solidaritas lintas-rasial yang berbasis pada kejujuran, empati, dan perjuangan melawan ketidakadilan.

Tradisi Pragmatisme Radikal

West menggabungkan pragmatisme Amerika (khususnya William James dan John Dewey) dengan teologi Kristen profetik. Bagi West, filsafat harus terlibat langsung dengan realitas sosial dan menghasilkan transformasi nyata, bukan sekadar spekulasi akademik.

Kritik Budaya dan Peran Intelektual

West menilai bahwa intelektual harus “berbicara kebenaran kepada kekuasaan.” Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk berpihak pada kaum tertindas.

Ia sering mengkritik budaya pop, politik identitas yang dangkal, komersialisasi media, dan turunnya kualitas wacana publik Amerika.

Humanisme Radikal

West membela bentuk humanisme yang memadukan kasih sayang, solidaritas, kesetaraan, dan perhatian terhadap martabat manusia. Ia percaya bahwa perubahan sosial membutuhkan transformasi spiritual dan emosional, bukan hanya reformasi politik.

Dalam Konteks Lain

Aktivisme

West terlibat dalam gerakan Black Lives Matter, protes ketidakadilan rasial, isu Palestina, hak pekerja, dan kampanye politik yang berfokus pada kelas pekerja. West tidak hanya seorang filsuf—ia adalah aktivis yang konsisten hadir di lapangan.

Seni, Musik, dan Kultur

West sering menggabungkan referensi musik jazz, blues, dan hip-hop dalam analisisnya. Ia memandang musik sebagai bentuk ekspresi spiritual dan politik komunitas kulit hitam.

FAQ

Mengapa West sering berselisih dengan institusi akademik?

Karena ia menolak profesionalisme akademik yang dianggapnya menjauhkan intelektual dari rakyat kecil. Ia mengutamakan aktivisme moral dan kerja komunitas.

Apakah Cornel West religius?

Ya. Ia adalah seorang Kristen profetik yang percaya pada kasih, keadilan, dan solidaritas, tetapi juga kritis terhadap institusi agama yang korup.

Referensi

  • West, C. (1993). Race Matters. Beacon Press.
  • West, C. (2004). Democracy Matters. Penguin Books.
  • Hinton, E. (2016). From the War on Poverty to the War on Crime. Harvard University Press.
  • Shelby, T. (2005). We Who Are Dark. Harvard University Press.
  • Dyson, M. E. (2001). Holler If You Hear Me: Searching for Tupac Shakur. Basic Civitas.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Peter Singer

Next Article

Kwame Anthony Appiah

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *