Raymond Kelvin Nando — Composition fallacy adalah kekeliruan penalaran ketika seseorang berasumsi bahwa apa yang benar bagi bagian-bagian suatu keseluruhan pasti benar pula bagi keseluruhannya, sebuah lompatan logis yang tampak intuitif tetapi secara epistemologis tidak sah karena karakteristik bagian tidak selalu identik dengan karakteristik sistem secara utuh.
Daftar Isi
Hakikat Composition Fallacy dalam Penalaran
Composition fallacy muncul dari penggunaan inferensi yang keliru: seseorang mengamati sifat tertentu pada elemen kecil, kemudian menyimpulkan bahwa keseluruhan juga memiliki sifat yang sama tanpa melalui pembuktian yang memadai. Misalnya, jika setiap anggota tim adalah individu cerdas, tidak otomatis tim tersebut menghasilkan keputusan paling rasional. Dalam banyak konteks, interaksi antarelemen menciptakan dinamika baru yang tidak dapat direduksi menjadi sifat-sifat bagian. Pada tataran filosofis, kekeliruan ini sering terkait dengan persoalan reduksionisme serta hubungan antara bagian dan keseluruhan dalam ontologi.
Kompleksitas antara Bagian dan Keseluruhan
Kesalahan komposisi menunjukkan bahwa dunia tidak bekerja secara linear. Sistem sosial, organisme biologis, bahkan struktur logis memiliki sifat emergen—yakni kualitas yang muncul dari interaksi, bukan dari elemen individual. Misalnya, sebutir garam tidak terasa asin jika natrium dan klorida dilihat secara terpisah; keasinan muncul sebagai sifat baru dari komposisi keduanya. Dalam wacana sosial-politik, seseorang dapat keliru ketika berasumsi: “Jika setiap individu bermoral baik, maka masyarakat otomatis bermoral baik.” Padahal moralitas kolektif bergantung pada institusi, struktur kekuasaan, dan norma bersama. Di sini tampak bahwa composition fallacy sering bersembunyi di balik anggapan sederhana tentang kesatuan dan homogenitas.
Dampak dalam Argumen Publik dan Ilmu Pengetahuan
Dalam diskursus publik, composition fallacy memperlihatkan bagaimana retorika dapat menyesatkan. Contohnya dalam ekonomi: “Setiap rumah tangga harus menabung untuk stabil; maka jika seluruh masyarakat menabung, ekonomi akan stabil.” Padahal secara makro ekonomi, jika semua orang menabung, konsumsi menurun drastis dan justru menimbulkan resesi. Dalam ilmu alam, kekeliruan ini dapat menghambat pemahaman terhadap fenomena kompleks karena membatasi analisis pada sifat-sifat bagian saja. Dalam kajian filsafat ilmu, ini dikenal sebagai salah satu hambatan utama untuk memahami sistem yang bersifat non-linear dan multidimensi.
Menghindari Composition Fallacy
Untuk menghindari kekeliruan ini, penting untuk membedakan antara sifat yang additive—yang memang dapat dijumlahkan dari bagian-bagian—dan sifat emergent—yang tidak muncul kecuali dari interaksi. Strategi lain ialah memeriksa apakah ada bukti empiris tentang hubungan antarelemen dalam suatu sistem. Evaluasi kritis atas dinamika keseluruhan menjadi langkah wajib sebelum menarik kesimpulan. Mengajukan pertanyaan klarifikasi seperti “Apakah sifat bagian secara logis dan empiris dapat ditransfer ke keseluruhan?” dapat membantu menjaga integritas argumen.
FAQ
Apa ciri utama dari composition fallacy?
Ciri utamanya adalah penarikan kesimpulan bahwa sifat bagian pasti berlaku pada keseluruhan tanpa pembuktian tambahan.
Mengapa composition fallacy sering tidak disadari?
Karena secara intuitif manusia cenderung menganggap bagian dan keseluruhan bersifat identik, padahal banyak fenomena memiliki sifat emergen.
Apakah kebalikan dari composition fallacy juga ada?
Ada, yaitu division fallacy, ketika seseorang menganggap sifat keseluruhan pasti berlaku bagi bagian-bagiannya.
Referensi
- Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Cengage Learning.
- Govier, T. (2014). A practical study of argument (8th ed.). Wadsworth.
- Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.