Calvinisme

Dipublikasikan: 7 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Calvinisme adalah aliran teologi dalam Kekristenan Protestan yang berakar pada ajaran Yohanes Calvin (1509–1564), seorang reformator dari masa Reformasi Protestan. Calvinisme menekankan kedaulatan mutlak Allah, ketergantungan total manusia pada anugerah ilahi, dan pemahaman bahwa keselamatan adalah karya Allah sepenuhnya, bukan usaha manusia. Teologi ini berkembang luas di Eropa, terutama di Swiss, Belanda, Prancis, Skotlandia, dan Inggris, serta membentuk dasar bagi banyak gereja Reformed dan Presbiterian. Calvinisme juga memberikan pengaruh signifikan pada etika kerja, politik, dan perkembangan masyarakat Barat melalui penekanannya pada disiplin rohani, tanggung jawab, dan penatalayanan.

Ajaran Calvinisme

Ajaran Calvinisme dikenal luas melalui lima pokok pikiran yang disarikan dalam akronim TULIP, meskipun konsep ini dirumuskan setelah masa Calvin:

  1. Total Depravity (Kerusakan Total) – Manusia telah jatuh ke dalam dosa secara total sehingga tidak mampu menyelamatkan diri atau mendekati Allah tanpa anugerah.
  2. Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Syarat) – Allah memilih orang tertentu untuk diselamatkan berdasarkan kehendak-Nya sendiri, bukan karena usaha manusia.
  3. Limited Atonement (Pendamaian Terbatas) – Kristus mati secara efektif untuk menebus orang-orang yang dipilih, memastikan keselamatan mereka.
  4. Irresistible Grace (Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak) – Anugerah Allah bekerja secara efektif dalam diri orang pilihan sehingga mereka pasti datang kepada iman.
  5. Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang Kudus) – Orang yang benar-benar dipilih dan diselamatkan akan bertahan dalam iman sampai akhir melalui pemeliharaan Allah.

Selain lima poin ini, Calvinisme juga menekankan kedaulatan Allah dalam seluruh aspek hidup, otoritas Alkitab, kesucian hidup, dan pentingnya komunitas gereja sebagai sarana pertumbuhan rohani.

Orang lain juga membaca :  Sufisme

Sejarah Perkembangan Calvinisme

Calvinisme bermula di Swiss pada abad ke-16 melalui pelayanan Yohanes Calvin di Jenewa. Dari pusat ini, ajaran Calvin menyebar ke berbagai wilayah Eropa melalui jaringan reformator dan sekolah teologi.

Di Belanda, Calvinisme berkembang pesat dan menjadi dasar bagi Gereja Reformed Belanda serta memicu Sinode Dordrecht (1618–1619), yang merumuskan doktrin TULIP sebagai respons terhadap Arminianisme. Di Skotlandia, John Knox mengadopsi ajaran Calvin dan mendirikan Gereja Presbiterian.

Pada abad ke-17 dan 18, Calvinisme turut memengaruhi Puritan di Inggris dan koloni Amerika, berkontribusi pada perkembangan identitas keagamaan dan etika politik di dunia Barat. Pada abad ke-20, Neo-Calvinisme melalui tokoh seperti Abraham Kuyper mendorong penerapan teologi Reformed pada budaya, politik, dan pendidikan. Saat ini, Calvinisme tetap menjadi salah satu tradisi teologi paling berpengaruh dalam Protestanisme global.

Tokoh-Tokoh Calvinisme

  1. Yohanes Calvin (1509–1564) – Pendiri utama teologi Reformed dan penulis Institutes of the Christian Religion.
  2. John Knox (1514–1572) – Pemimpin Reformasi Skotlandia dan pendiri Gereja Presbiterian.
  3. Theodore Beza (1519–1605) – Penerus Calvin di Jenewa yang memperkuat sistem teologi Reformed.
  4. Jonathan Edwards (1703–1758) – Teolog Amerika yang memadukan Calvinisme dengan gerakan kebangunan rohani.
  5. Abraham Kuyper (1837–1920) – Tokoh Neo-Calvinis Belanda yang mengembangkan pemikiran tentang kedaulatan Allah atas seluruh aspek kehidupan.

Referensi

  • Calvin, J. (1559/2008). Institutes of the Christian Religion. Westminster John Knox Press.
  • McGrath, A. (1990). A Life of John Calvin. Baker Books.
  • Horton, M. (2011). The Christian Faith: A Systematic Theology for Pilgrims on the Way. Zondervan.
  • Helm, P. (2006). Calvin and the Calvinists. Banner of Truth.
  • Kuyper, A. (2011). Lectures on Calvinism. Hendrickson Publishers.
Orang lain juga membaca :  Korporatisme

Citation

Previous Article

Vajrayanisme

Next Article

Chiliasme

Citation copied!