Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Byung-Chul Han adalah seorang filsuf kontemporer Korea Selatan-Jerman, dikenal karena analisisnya tentang masyarakat neoliberal, budaya performativitas, krisis psikologis, dan fenomena digital dalam era modern. Tulisan-tulisannya yang ringkas namun tajam menjadikannya salah satu pemikir paling berpengaruh dalam kajian filsafat media, psikopolitik, dan teori budaya.
Daftar Isi
Byung-Chul Han lahir pada tahun 1959 di Seoul, Korea Selatan. Awalnya ia belajar metalurgi, tetapi segera meninggalkan bidang tersebut untuk mempelajari filsafat, teologi, dan sastra Jerman. Han pindah ke Jerman pada usia pertengahan dua puluhan, di mana ia menempuh studi filsafat di Freiburg dan München.
Di Jerman, Han terpengaruh oleh pemikir seperti Martin Heidegger, Michel Foucault, Walter Benjamin, dan tradisi fenomenologi. Ia kemudian mengajar di Hochschule für Gestaltung Karlsruhe (HfG Karlsruhe) dan menjadi salah satu suara paling penting dalam analisis budaya kontemporer.
Karakternya yang tertutup dan enggan tampil di media justru memperkuat pesonanya sebagai filsuf modern. Meski menolak popularitas, karya-karyanya tersebar luas dalam berbagai bahasa dan menjadi referensi utama dalam kajian teori kritis baru.
Han terus menulis mengenai masyarakat performativitas, budaya transparansi, digitalisasi, psikopolitik, dan eros di abad ke-21.
Dalam era neoliberal, menurut Han, kekuasaan tidak lagi bekerja melalui paksaan eksternal, tetapi melalui pengendalian diri yang dipaksakan secara internal. Individu menjadi “budak diri sendiri,” termotivasi untuk bekerja lebih keras demi ideal performa yang ditanamkan sistem.
Neoliberalism makes the exploited into the very agents of their own exploitation. (Psychopolitics, 2017, hlm. 8)
Kekuasaan modern bersifat halus: ia menembus ke dalam psikis individu, membentuk keinginan, kepercayaan diri, dan identitas.
Han menggambarkan dunia modern sebagai masyarakat yang dipenuhi rasa lelah kronis. Alih-alih ditekan oleh larangan, manusia modern ditekan oleh tuntutan produktivitas dan kinerja.
The tiredness of the neoliberal subject comes from the compulsion of achievement. (The Burnout Society, 2015, hlm. 21)
Kelelahan ini bukan sekadar fisik, tetapi eksistensial: hilangnya makna, orientasi, dan relasi manusiawi.
Baginya, obsesi terhadap transparansi bukanlah kebebasan, melainkan bentuk baru pengawasan. Semua hal yang terlihat dianggap benar, padahal yang terlihat dapat menjadi alat kontrol.
Transparency is an ideology that levels the world into data and eliminates mystery and trust. (The Transparency Society, 2012, hlm. 14)
Transparansi menghilangkan kedalaman emosional dan kerahasiaan sebagai bagian dari relasi manusia.
Han percaya bahwa masyarakat modern kekurangan negativitas, yaitu kemampuan untuk jarak, diam, kontemplasi, dan misteri. Tanpa negativitas, eros—kerinduan akan yang lain—menjadi tumpul.
Without negativity, eros becomes impossible. (The Agony of Eros, 2017, hlm. 5)
Hubungan manusia menjadi datar, dangkal, dan konsumtif.
Han mengkritik budaya digital yang mereduksi manusia menjadi data, dan interaksi menjadi komunikasi cepat tanpa kedalaman.
Digital communication abolishes the otherness necessary for genuine dialogue. (In the Swarm, 2017, hlm. 32)
Ia menggambarkan dunia digital sebagai “gerombolan” (Schwarm) tanpa arah, tanpa ruang kontemplatif, dan tanpa stabilitas makna.
Han meneruskan tradisi teori kritis Jerman, tetapi dengan gaya pendek dan puitis yang berbeda dari Adorno atau Horkheimer. Ia menggabungkan fenomenologi, psikoanalisis, dan analisis budaya.
Power today is smart; it operates through freedom, not against it. (Psychopolitics, 2017, hlm. 16)
Ia memperluas gagasan Foucault tentang biopolitik dan memperkenalkan analisis baru mengenai subjektivitas neoliberal.
Dalam masyarakat performativitas, individu menjadi “proyek diri” tanpa akhir: harus unggul, harus positif, harus produktif. Han menegaskan bahwa logika ini menghasilkan burnout kolektif dan hilangnya ruang untuk diam serta relasi autentik.
Karya Han sangat relevan untuk memahami fenomena modern seperti:
Karena menurutnya, sistem neoliberal mendorong individu untuk mengeksploitasi diri sendiri demi produktivitas tanpa batas.
Han memperluas tradisi teori kritis dengan fokus pada subjektivitas, digitalisasi, dan psikopolitik.
Tidak sepenuhnya. Ia mengkritik dampak antropologis teknologi digital, bukan teknologinya itu sendiri.