Raymond Kelvin Nando — Burden of proof fallacy adalah kekeliruan berpikir ketika seseorang meletakkan tanggung jawab pembuktian kepada pihak lain, padahal dialah yang mengajukan klaim sehingga wajib menyediakan dasar argumentatif yang memadai; mekanisme ini sering muncul dalam debat publik, wacana agama, hingga diskusi ilmiah, dan menjadi berbahaya karena dapat memindahkan beban intelektual secara tidak adil sehingga membiarkan klaim yang tidak berdasar tampak seolah-olah benar hanya karena tidak dapat langsung dibantah oleh lawan bicara.
Daftar Isi
Hakikat Burden of Proof Fallacy dalam Argumen
Kekeliruan ini berakar dari prinsip epistemologis dasar: siapa yang membuat klaim, dialah yang bertanggung jawab membuktikannya. Dalam konteks ini, burden of proof fallacy muncul ketika pembuat klaim menolak memberikan bukti dan malah menuntut pihak lain untuk membantah klaim tersebut. Secara logis, tindakan ini mengabaikan standar rasionalitas karena tidak semua klaim dapat dibantah, sementara setiap klaim tetap membutuhkan dukungan yang positif. Misalnya, seseorang berkata: “Makhluk gaib X pasti ada, buktikan kalau itu salah.” Pernyataan tersebut memindahkan beban pembuktian secara tidak tepat, sebab tidak adanya bantahan bukanlah bukti bagi kebenarannya.
Dampak Epistemologis dan Sosial
Jika dibiarkan, kekeliruan ini menimbulkan konsekuensi serius terhadap kualitas wacana publik. Ia membuat klaim tidak berdasar tampak setara dengan klaim berbasis bukti, menciptakan relativisme epistemik yang membahayakan. Dalam ranah politik, burden of proof fallacy sering dipakai untuk mengukuhkan opini tanpa data dengan memaksa pihak lawan membuktikan sebaliknya. Dalam ranah sains, ia menghambat literasi ilmiah karena mendorong publik untuk memperlakukan setiap klaim sebagai benar sampai dibantah, bukan sebaliknya. Secara psikologis, taktik ini memanfaatkan bias kognitif manusia yang cenderung menghindari kerja intelektual berat, sehingga klaim kosong dapat terasa meyakinkan.
Cara Mengidentifikasi dan Menghindari Kekeliruan
Untuk menghindari burden of proof fallacy, penting memahami prinsip: klaim positif membutuhkan bukti positif. Ketika suatu argumen melemparkan tanggung jawab pembuktian kepada lawan, kita dapat menanggapi dengan menegaskan bahwa klaim tersebut belum memenuhi syarat rasionalitas. Strategi lain adalah meminta klarifikasi terkait premis utama: apa bukti yang mendukung klaim tersebut, bukan apa bukti yang membantahnya. Dengan menegaskan standar epistemik ini, diskusi menjadi lebih jernih dan mencegah manipulasi retorika yang menyesatkan.
FAQ
Apa tanda paling jelas dari burden of proof fallacy?
Tandanya adalah ketika pembuat klaim menolak memberi bukti dan justru menuntut orang lain membuktikan bahwa klaimnya salah.
Mengapa burden of proof fallacy sering muncul dalam debat publik?
Karena ia mudah digunakan untuk memenangkan argumen tanpa kerja intelektual berat, terutama ketika audiens tidak kritis terhadap struktur logis.
Apakah setiap permintaan bukti merupakan burden of proof fallacy?
Tidak. Ia menjadi fallacy hanya jika pembuat klaim tidak memberikan bukti dan malah memaksa pihak lain menyangkal klaim tersebut.
Referensi
- Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2018). Introduction to logic (15th ed.). Routledge.
- Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Cengage Learning.
- van Eemeren, F. H., & Grootendorst, R. (2004). A systematic theory of argumentation: The pragma-dialectical approach. Cambridge University Press.