Binitarianisme

Dipublikasikan: 7 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Binitarianisme adalah pandangan teologis Kristen yang menekankan keberadaan dua pribadi ilahi dalam satu esensi Tuhan, biasanya Allah Bapa dan Yesus Kristus sebagai Anak. Dalam kerangka ini, Roh Kudus dipahami bukan sebagai pribadi yang terpisah, melainkan sebagai manifestasi kuasa atau kehadiran Allah. Binitarianisme menekankan hubungan yang erat antara Bapa dan Anak dalam karya keselamatan dan wahyu, berbeda dengan doktrin Trinitas ortodoks yang menegaskan tiga pribadi yang setara dalam satu hakikat. Aliran ini muncul di beberapa kelompok Kristen awal dan modern sebagai respons terhadap kontroversi kristologi dan usaha menegaskan keilahian Yesus tanpa sepenuhnya menolak monoteisme.

Ajaran Binitarianisme

Ajaran utama Binitarianisme meliputi:

  1. Dua pribadi ilahi – Allah Bapa dan Anak (Yesus Kristus) memiliki keilahian penuh dan bekerja dalam kesatuan untuk tujuan keselamatan manusia.
  2. Roh Kudus sebagai manifestasi – Roh Kudus dipandang sebagai kuasa, hikmat, atau hadirat Allah, bukan pribadi yang terpisah.
  3. Penekanan pada kesatuan dan kolaborasi ilahi – Bapa dan Anak bekerja bersama dalam karya penciptaan, wahyu, dan penebusan.
  4. Kepenuhan keilahian Yesus – Yesus dianggap sepenuhnya ilahi dan menjadi pusat wahyu Allah, meskipun tidak menekankan Trinitas tiga pribadi.
  5. Monoteisme yang dijaga – Kepercayaan ini menekankan bahwa meskipun ada dua pribadi, Allah tetap satu hakikat.

Binitarianisme menekankan keseimbangan antara pengakuan keilahian Yesus dan ketauhidan Allah Bapa, menghindari dualisme atau pemisahan yang absolut.

Sejarah Perkembangan Binitarianisme

Binitarianisme muncul dalam sejarah gereja awal sebagai salah satu alternatif terhadap kontroversi Trinitas, termasuk pada abad ke-2 hingga ke-4. Beberapa kelompok Kristen awal, seperti beberapa pengikut Arius yang lebih moderat atau kelompok Ebionit, menekankan hubungan khusus antara Bapa dan Anak, tanpa menekankan Roh Kudus sebagai pribadi terpisah.

Orang lain juga membaca :  Internasionalisme

Pada era modern, Binitarianisme dianut oleh beberapa denominasi Kristen tertentu, termasuk Gereja Yesus Kristus dari Orang Suci Zaman Akhir (beberapa ajaran awal) dan beberapa kelompok Protestan yang menolak Trinitas penuh namun tetap mengakui keilahian Yesus. Ajaran ini sering muncul sebagai upaya mempertahankan monoteisme sambil menekankan keilahian Anak dalam wahyu dan keselamatan.

Tokoh-Tokoh Binitarianisme

  1. Ebionitisme (abad ke-2) – Kelompok Kristen Yahudi yang menekankan keilahian Yesus sebagai Mesias, tetapi menolak doktrin Trinitas.
  2. James Strong (1822–1894) – Teolog dan penginjil yang mendukung pandangan binitarian dalam beberapa tulisannya.
  3. Samuel Prideaux Tregelles (1813–1875) – Sarjana Alkitab yang menekankan hubungan antara Bapa dan Anak dalam wahyu.
  4. Beberapa pemimpin gereja Protestan modern – Mengadopsi perspektif binitarian sebagai alternatif Trinitas ortodoks.
  5. Gereja Yesus Kristus dari Orang Suci Zaman Akhir (versi awal) – Beberapa ajaran awal menekankan Bapa dan Anak sebagai fokus ilahi, dengan Roh Kudus sebagai manifestasi.

Referensi

  • Bowman, R. R. (2001). Binitarianism in Early Christianity. T&T Clark.
  • Ehrman, B. D. (2003). Lost Christianities: The Battles for Scripture and the Faiths We Never Knew. Oxford University Press.
  • Kelly, J. N. D. (1978). Early Christian Doctrines. HarperCollins.
  • Pagels, E. (1979). The Gnostic Gospels. Vintage Books.
  • Reeve, R. (1992). Early Christian Theology: A Binitarian Perspective. Eerdmans.

Citation

Previous Article

Sistem Full Page Caching Website - Script Code PHP

Next Article

Buddhisme

Citation copied!