Begging the Question Fallacy

Raymond Kelvin NandoBegging the Question Fallacy atau yang dalam tradisi logika klasik disebut petitio principii adalah sebuah fallacy yang terjadi ketika suatu argumen menjadikan kesimpulannya sendiri sebagai bagian dari premis yang seharusnya membuktikannya. Dalam kesesatan berpikir ini, sebuah klaim yang seharusnya didukung oleh alasan justru diasumsikan benar sejak awal, menciptakan lingkaran penalaran yang tidak menghasilkan bukti baru. Meskipun dapat terdengar logis dan meyakinkan, argumen semacam ini sebenarnya hanya mengulang kembali pernyataan awal tanpa memberikan fondasi yang independen untuk mendukung kebenaran klaim tersebut.

Hakikat dan Struktur Begging the Question Fallacy

Pada dasarnya, Begging the Question muncul ketika premis tidak berdiri sendiri, melainkan mengandung atau mengandaikan kesimpulan. Misalnya, pernyataan seperti “Demokrasi adalah sistem terbaik karena tidak ada sistem lain yang lebih baik” adalah argumen yang secara struktural melingkar. Kesimpulan bahwa demokrasi adalah sistem terbaik dimasukkan kembali ke dalam premis melalui frasa “tidak ada sistem lain yang lebih baik,” tanpa memberikan bukti empiris atau analitis yang terpisah. Akibatnya, argumen tersebut tidak membuka jalan bagi pembuktian yang objektif.

Kesesatan ini juga sering muncul dalam bentuk argumen normatif yang tampak beralasan tetapi tidak memiliki konten informatif. Contoh umum adalah kalimat seperti “Tindakan itu salah karena tidak benar untuk dilakukan.” Di sini, penutur tidak menyajikan alasan moral, hukum, atau empiris untuk mendukung klaimnya, melainkan hanya mengulang gagasan yang sama dalam bentuk berbeda. Struktur seperti ini menyulitkan terjadinya dialog rasional karena tidak meninggalkan ruang bagi kritik dan evaluasi.

Orang lain juga membaca :  Ad Hominem

Variasi dan Manifestasi Begging the Question Fallacy dalam Kehidupan Sehari-Hari

Begging the Question dapat muncul dalam percakapan sehari-hari, diskusi politik, debat moral, maupun penalaran akademik. Bentuk umum lainnya adalah penggunaan definisi yang sudah memuat kesimpulan secara implisit, misalnya: “Ia pemimpin yang baik karena ia memimpin dengan benar.” Di sini, istilah “benar” sudah mengandaikan bahwa ia adalah pemimpin yang baik, sehingga argumen tidak memberikan kriteria atau indikator objektif tentang apa yang dimaksud dengan kepemimpinan yang baik.

Kesesatan ini sering tidak disadari karena manusia cenderung menerima asumsi sendiri sebagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Ketika sebuah masyarakat atau kelompok memiliki pandangan yang telah melekat secara kultural, argumen melingkar menjadi lebih sulit diidentifikasi karena premis dan kesimpulan dianggap “sudah tentu benar.” Dalam konteks seperti itu, Begging the Question dapat memperkuat prasangka atau dogma, menghambat perkembangan pemikiran kritis.

Menghindari Begging the Question Fallacy dalam Argumentasi

Untuk menghindari kesesatan ini, langkah pertama adalah memeriksa apakah premis benar-benar independen dari kesimpulan. Premis seharusnya menjadi dasar yang dapat diuji, diverifikasi, atau dibahas secara rasional tanpa memerlukan penerimaan otomatis terhadap klaim utama. Kedua, perhatikan apakah argumen menggunakan frasa yang bersifat normatif atau ambigu tanpa definisi jelas, karena ini sering menjadi celah bagi munculnya lingkaran penalaran.

Selain itu, penting untuk menguraikan asumsi secara transparan dalam diskusi. Ketika peserta diskusi memahami fondasi argumen masing-masing, ruang untuk membangun penalaran yang terbuka dan non-melingkar menjadi lebih luas.

FAQ

Mengapa Begging the Question Fallacy tidak valid secara logis?

Karena argumen tidak menawarkan bukti independen yang dapat digunakan untuk memeriksa kebenaran klaim.

Bagaimana cara cepat mengidentifikasi Begging the Question Fallacy?

Periksa apakah kesimpulan sudah diandaikan sejak awal dalam premis. Jika ya, argumen tersebut melingkar.

Referensi

  • Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2014). Introduction to logic (14th ed.). Pearson.
  • Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Wadsworth.
  • Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Argument from Silence

Next Article

Black-or-White Fallacy

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *