Batu Menangis

Dipublikasikan: 17 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025

Raymond Kelvin NandoBatu Menangis adalah folklor Nusantara yang berasal dari Kalimantan Barat dan dikenal luas sebagai legenda moral tentang hubungan antara anak dan orang tua. Cerita ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat Melayu dan Dayak pesisir, serta diwariskan sebagai sarana pendidikan etika, khususnya mengenai sikap hormat, bakti, dan tanggung jawab anak terhadap ibu. Dalam kajian folklor, Batu Menangis dipahami sebagai legenda etiologis sekaligus legenda moral yang menjelaskan asal-usul suatu batu atau tempat tertentu melalui narasi simbolik tentang dosa, penyesalan, dan hukuman kosmis.

Ringkasan Cerita Folklor Batu Menangis

Folklor Batu Menangis berkisah tentang seorang gadis cantik yang hidup bersama ibunya yang miskin dan renta. Sang ibu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sombong, malas, dan malu mengakui ibunya di hadapan orang lain. Setiap kali mereka pergi ke pasar atau ke desa, sang gadis selalu berjalan di depan dan berpura-pura tidak mengenal ibunya.

Ketika orang-orang bertanya tentang hubungan mereka, sang gadis dengan angkuh mengaku bahwa perempuan tua itu hanyalah pembantunya. Hati sang ibu hancur mendengar perlakuan anaknya, namun ia tetap bersabar dan menyimpan kesedihannya. Puncak konflik terjadi ketika sang ibu akhirnya tidak mampu lagi menahan rasa sakit batin dan berdoa kepada Tuhan agar anaknya diberi pelajaran.

Orang lain juga membaca :  Epos Ramayana

Doa tersebut dikabulkan. Langit mendung, hujan turun deras, dan petir menyambar. Sang gadis tiba-tiba merasakan tubuhnya kaku dan perlahan berubah menjadi batu. Dalam versi cerita tertentu, batu tersebut digambarkan mengeluarkan air seperti air mata, sehingga disebut Batu Menangis. Peristiwa ini menjadi peringatan abadi tentang akibat durhaka kepada orang tua.

Kategori Folklor Batu Menangis

Folklor Batu Menangis termasuk dalam kategori legenda, khususnya legenda asal-usul alam yang sarat pesan moral. Dalam klasifikasi folklor, cerita ini dapat dikelompokkan sebagai:

  • Legenda etiologis tentang asal-usul batu
  • Legenda moral dan didaktik
  • Legenda keluarga dan hubungan orang tua–anak

Cerita ini dipercaya pernah terjadi oleh pendukung tradisinya dan sering dikaitkan dengan lokasi geografis tertentu yang dianggap sakral atau bermakna simbolik.

Latar dan Konteks Budaya Folklor Batu Menangis

Folklor Batu Menangis berkembang dalam konteks budaya masyarakat Kalimantan Barat yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, hormat kepada orang tua, dan kepatuhan terhadap norma sosial. Dalam budaya Melayu dan Dayak, ibu dipandang sebagai figur sentral yang memiliki kedudukan moral dan spiritual tinggi. Melukai hati ibu diyakini dapat mendatangkan bencana atau kutukan.

Cerita ini juga mencerminkan pandangan kosmologis tradisional bahwa alam memiliki peran aktif dalam menegakkan keadilan moral. Batu, hujan, dan petir tidak sekadar fenomena alam, melainkan instrumen kekuatan adikodrati yang memberi hukuman atas pelanggaran nilai etika. Oleh karena itu, Batu Menangis berfungsi sebagai pengingat kolektif tentang konsekuensi sosial dan spiritual dari perilaku durhaka.

Tokoh-Tokoh Utama Folklor Batu Menangis

  • Gadis durhaka — Tokoh utama yang sombong dan tidak mengakui ibunya.
  • Ibu — Sosok penuh kesabaran dan pengorbanan, simbol kasih sayang tanpa syarat.
  • Masyarakat sekitar — Representasi penilaian sosial dan norma komunitas.
  • Kekuatan ilahi atau alam — Entitas yang menegakkan keadilan moral melalui hukuman.
Orang lain juga membaca :  Gatotkaca

Makna dan Fungsi Folklor Batu Menangis

Folklor Batu Menangis mengandung berbagai makna dan fungsi penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Nusantara, antara lain:

  • Media pendidikan moral tentang kewajiban berbakti kepada orang tua
  • Sarana penanaman nilai rendah hati dan empati
  • Alat kontrol sosial terhadap perilaku anak dalam keluarga
  • Legitimasi budaya terhadap situs atau fenomena alam tertentu

Simbol dan Unsur Penting

  • Batu — Simbol kekakuan hati, hukuman, dan keabadian konsekuensi moral.
  • Air mata batu — Representasi penyesalan yang datang terlambat.
  • Ibu — Lambang kasih sayang, pengorbanan, dan kekuatan doa.
  • Hujan dan petir — Simbol intervensi kosmis dan keadilan ilahi.

Referensi

  • Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  • Bascom, W. R. (1965). The forms of folklore: Prose narratives. Journal of American Folklore, 78(307), 3–20.
  • Dundes, A. (1980). Interpreting Folklore. Bloomington: Indiana University Press.
  • Finnegan, R. (2012). Oral Literature in Africa. Cambridge: Open Book Publishers.
  • Thompson, S. (1955). The Folktale. Berkeley: University of California Press.
  • Vansina, J. (1985). Oral Tradition as History. Madison: University of Wisconsin Press.

FAQ

Apa itu cerita rakyat Batu Menangis?

Batu Menangis adalah cerita rakyat yang berasal dari Kalimantan Barat. Folklor ini mengisahkan tentang seorang gadis yang durhaka kepada ibunya dan akhirnya mendapat kutukan hingga berubah menjadi batu, sebagai simbol akibat dari sikap tidak hormat kepada orang tua.

Mengapa cerita Batu Menangis penting dalam tradisi folklor Indonesia?

Cerita Batu Menangis penting karena berfungsi sebagai sarana pendidikan moral yang diwariskan secara turun-temurun. Folklor ini mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia, seperti penghormatan kepada orang tua dan konsekuensi dari perbuatan manusia.

Citation

Previous Article

Barong

Next Article

Cinderella

Citation copied!