Bagoes Hadikoesoemo

Dipublikasikan: 12 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Bagoes Hadikoesoemo, yang dikenal juga sebagai Ki Bagus Hadikusumo, adalah seorang pemuka agama, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, dan pemikir sosial-agama yang berpengaruh pada masa pra-kemerdekaan dan awal kemerdekaan Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam perumusan dasar negara dan konstitusi melalui keterlibatannya dalam BPUPKI dan PPKI. Pemikirannya berakar pada tradisi Islam, nilai kebangsaan, serta komitmen sosial-politikal untuk membangun tatanan masyarakat yang adil, beradab, dan berlandaskan moralitas tinggi.

Biografi Bagoes Hadikoesoemo

Bagoes Hadikoesoemo lahir dengan nama Raden Hidajat pada 24 November 1890 di Kauman, Yogyakarta. Ia merupakan putra ketiga dari lima bersaudara dalam keluarga yang menekankan pendidikan agama. Pendidikan awalnya mencakup sekolah rakyat dan pesantren Wonokromo, tempat ia mendalami fikih, tasawuf, dan sastra klasik Islam. Kemahirannya dalam berbagai bahasa, termasuk Jawa, Melayu, Belanda, dan Inggris, memperluas wawasan intelektualnya dan memungkinkannya menjadi penghubung antara tradisi Islam klasik dengan wacana modern.

Ia aktif dalam organisasi keagamaan dan sosial: menjadi Ketua Majelis Tabligh, Ketua Majelis Tarjih, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1942–1953. Bagoes Hadikoesoemo juga termasuk anggota BPUPKI dan PPKI yang merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, berperan dalam menetapkan landasan filosofis dasar negara Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional kepadanya pada 2015.

Pemikiran Bagoes Hadikoesoemo

Integrasi Nilai Islam dan Kebangsaan

Bagoes Hadikoesoemo melihat nilai-nilai Islam, seperti keadilan, kemanusiaan, dan ketakwaan, sebagai fondasi moral dan etis yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ia menekankan bahwa ajaran Islam dapat memperkuat persatuan bangsa dan menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa memarginalkan golongan lain. Pandangan ini menunjukkan komitmennya untuk menyatukan nilai agama dengan idealisme kebangsaan dalam kerangka negara plural.

Orang lain juga membaca :  Justus Lipsius

Konsep Negara dan Karakter Sosial

Ia berargumen bahwa negara harus mencerminkan nilai-nilai luhur universal—ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan—yang penting bagi keharmonisan sosial. Pemikirannya memengaruhi perumusan Mukadimah UUD 1945 dan penekanan pada dasar negara yang mencerminkan aspirasi moral bangsa Indonesia yang majemuk. Soepomo menekankan bahwa negara yang baik harus menyeimbangkan kepentingan berbagai golongan masyarakat dan menjadikan hukum sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan umum serta integrasi sosial.

Pendidikan, Kebudayaan, dan Sastra

Bagoes Hadikoesoemo juga menaruh perhatian besar pada peran pendidikan, kebudayaan, dan sastra dalam pembangunan karakter masyarakat. Ia menguasai sastra Jawa, Melayu, dan Belanda, serta menulis karya-karya seperti Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin, Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Tulisan-tulisan ini merupakan refleksi tentang etika, spiritualitas, dan kehidupan sosial yang menjembatani tradisi lokal dengan tuntutan zaman modern.

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Tindakan Sosial

Kepemimpinannya di Muhammadiyah pada masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan menunjukkan penerapan pemikiran moral dan sosial. Ia mempertahankan prinsip keagamaan sekaligus melakukan tindakan sosial praktis untuk kesejahteraan umat. Keberaniannya menolak perintah ritual yang dipaksakan tentara Jepang menunjukkan integritas moral dan keberanian mempertahankan prinsip agama serta kemanusiaan.

Karya-Karya Bagoes Hadikoesoemo

  • Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin
  • Risalah Katresnan Djati (1935)
  • Poestaka Hadi (1936)
  • Poestaka Islam (1940)
  • Poestaka Ichsan (1941)
  • Poestaka Iman (1954)

Referensi

  • Ki Bagoes Hadikoesoemo. (1935–1954). Risalah Katresnan Djati; Poestaka Hadi; Poestaka Islam; Poestaka Ichsan; Poestaka Iman. Yogyakarta: n.p.
  • Ki Bagoes Hadikoesoemo. (n.d.). Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. n.p.
  • Wildan Nurul Fajar. (2018). Pemikiran Ki Bagoes Hadikoesoemo mengenai konsep negara, Khazanah Pendidikan, Vol. XII, No. 1.
  • ANTARA News. (2012). Tiga tokoh nasional dijadikan nama gedung UII: Ki Bagoes Hadikoesoemo.
  • SindoNews. (2023). Profil Ki Bagoes Hadikoesoemo, Ketua Umum Muhammadiyah dan Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia.
Orang lain juga membaca :  Deborah Achtenberg

Citation

Previous Article

Mohammad Hatta

Next Article

Michael Laban Walzer

Citation copied!