Atheisme

Dipublikasikan: 4 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Atheisme adalah pandangan filosofis atau sikap yang menolak keberadaan Tuhan atau dewa-dewa. Dalam kerangka ini, tidak ada entitas ilahi yang mengatur alam semesta atau kehidupan manusia. Atheisme bukan sekadar penolakan agama tertentu, tetapi posisi epistemik dan metafisik yang menekankan bahwa klaim tentang eksistensi Tuhan atau makhluk supranatural tidak dapat dibuktikan atau diterima secara rasional. Atheisme muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari skeptisisme kritis terhadap agama hingga penolakan tegas terhadap semua bentuk keyakinan religius. Pandangan ini memiliki implikasi penting dalam etika, filsafat, sains, dan kebudayaan, karena menekankan tanggung jawab manusia untuk menemukan makna, moralitas, dan tujuan hidup tanpa merujuk pada entitas ilahi.

Ajaran Atheisme

Ajaran atau prinsip utama atheisme meliputi:

  1. Penolakan eksistensi Tuhan atau makhluk supranatural – Tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung keberadaan entitas ilahi.
  2. Ketergantungan pada rasio dan empirisme – Pengetahuan dan etika dibangun berdasarkan akal, pengalaman, dan observasi, bukan wahyu atau doktrin.
  3. Otonomi moral manusia – Moralitas dan tanggung jawab etis bersifat manusiawi dan dapat ditentukan tanpa intervensi ilahi.
  4. Skeptisisme terhadap klaim metafisik – Klaim tentang dunia supernatural atau kehidupan setelah kematian dianggap tidak dapat diverifikasi.
  5. Pencarian makna hidup secara rasional – Individu bertanggung jawab menciptakan makna, tujuan, dan nilai dalam hidupnya.

Atheisme sering dibedakan dari agnostisisme. Agnostisisme menekankan ketidakpastian mengenai eksistensi Tuhan, sedangkan atheisme mengambil sikap penolakan, baik secara implisit maupun eksplisit.

Sejarah Perkembangan Atheisme

Meskipun istilah “atheisme” baru populer pada era modern, gagasan serupa sudah muncul sejak filsafat Yunani kuno. Filsuf seperti Epicurus dan Protagoras menekankan penjelasan naturalistik dan skeptisisme terhadap campur tangan ilahi. Di abad ke-17 dan ke-18, atheisme berkembang seiring dengan munculnya pencerahan (Enlightenment), ketika tokoh-tokoh seperti David Hume dan Baron d’Holbach menekankan rasio, sains, dan kritik terhadap agama sebagai dasar pengetahuan.

Orang lain juga membaca :  Hyper-Calvinisme

Di era kontemporer, atheisme mendapatkan pengakuan luas sebagai posisi intelektual dan sosial, terutama dalam sains modern, filsafat analitik, dan gerakan sekularisme. Perkembangan ini juga mendorong munculnya diskusi tentang etika sekuler, hak asasi manusia, dan pluralisme sosial.

Tokoh-Tokoh Atheisme

  1. Epicurus – Filsuf Yunani kuno yang menekankan penjelasan naturalistik terhadap alam semesta.
  2. David Hume – Filsuf Skotlandia yang menyoroti keterbatasan pengetahuan manusia mengenai hal-hal metafisik dan ilahi.
  3. Baron d’Holbach – Pemikir pencerahan yang menulis karya tentang ateisme dan materialisme.
  4. Richard Dawkins – Ilmuwan kontemporer dan penulis yang mempromosikan rasionalisme dan skeptisisme terhadap agama.
  5. Christopher Hitchens – Penulis dan jurnalis yang terkenal dengan kritik terhadap agama dan promosi humanisme sekuler.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan atheisme?

Atheisme adalah pandangan atau sikap yang tidak percaya atau menolak adanya Tuhan atau dewa. Ateis menolak klaim-klaim teistik dan menganggap dunia dapat dijelaskan tanpa campur tangan makhluk ilahi.

Apa bedanya atheis dan agnostik?

Atheis menolak atau tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan agnostik ragu atau yakin bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui. Singkatnya, atheis menolak, agnostik mempertanyakan atau mengaku tidak tahu.

Referensi

  • Dawkins, R. (2006). The God Delusion. Bantam Books.
  • Hitchens, C. (2007). God Is Not Great: How Religion Poisons Everything. Twelve.
  • Hume, D. (1779). Dialogues Concerning Natural Religion. Oxford University Press.
  • Holbach, P. H. (1770). The System of Nature. Open Court.
  • Flew, A. (2007). There Is a God: How the World’s Most Notorious Atheist Changed His Mind. HarperOne.

Citation

Previous Article

Arianisme

Next Article

Baháʼí

Citation copied!