Dipublikasikan: 15 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 26 Desember 2025
Dipublikasikan: 15 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 26 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Arthur Schopenhauer adalah filsuf Jerman abad ke-19 yang dikenal karena filsafat pesimistiknya, analisis metafisik tentang kehendak, dan pemikiran estetika yang mendalam. Ia menempati posisi penting sebagai pemikir yang menjembatani tradisi Kantian dengan pemikiran eksistensial dan psikoanalitik kemudian. Schopenhauer menekankan dominasi kehendak sebagai inti dari pengalaman manusia, melihat penderitaan sebagai kondisi inheren eksistensi, dan menekankan estetika dan kontemplasi sebagai jalan untuk melampaui penderitaan. Pemikirannya memberi pengaruh besar pada filsafat modern, psikologi, seni, dan sastra.
Daftar Isi
Arthur Schopenhauer lahir pada 22 Februari 1788 di Danzig (kini Gdańsk, Polandia) dan wafat pada 21 September 1860 di Frankfurt am Main, Jerman. Ia lahir dalam keluarga kelas menengah yang kaya, namun menghadapi hubungan yang tegang dengan ayahnya dan mengalami kematian ibunya yang memengaruhi pandangan hidupnya secara mendalam.
Schopenhauer menempuh pendidikan di Universitas Göttingen dan Universitas Berlin, di mana ia banyak mempelajari filsafat klasik, terutama karya Immanuel Kant, Plato, dan filsafat India. Ia meraih gelar doktor dengan disertasinya yang menekankan hubungan antara filsafat dan sains. Schopenhauer dikenal sebagai pribadi yang eksentrik dan kontroversial, sering berselisih dengan rekan seprofesinya, namun reputasinya berkembang luas setelah kematiannya melalui pengaruhnya terhadap filsafat eksistensial, psikologi, dan seni modern.
Schopenhauer mengembangkan pandangan bahwa kehendak (Wille) adalah inti dari realitas dan dasar dari semua fenomena. Berbeda dengan pandangan Kantian yang menekankan fenomena sebagai bentuk persepsi, Schopenhauer menegaskan bahwa di balik fenomena yang tampak terdapat kehendak murni—dorongan buta dan tanpa tujuan yang mendasari semua kehidupan dan eksistensi. Kehendak ini tidak rasional dan terus-menerus menghasilkan konflik dan penderitaan, sehingga eksistensi manusia selalu berada dalam ketegangan dan ketidakpuasan.
Dari analisis kehendak, Schopenhauer menarik kesimpulan bahwa hidup manusia secara inheren penuh penderitaan. Kebutuhan dan keinginan manusia tidak pernah sepenuhnya terpenuhi, sehingga ketidakpuasan menjadi kondisi permanen. Penderitaan bukanlah fenomena sesaat, melainkan struktur mendasar dari eksistensi. Oleh karena itu, filsafat Schopenhauer sering dikategorikan sebagai filsafat pesimistik, karena menekankan bahwa penderitaan dan konflik adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan.
Meski hidup dipenuhi penderitaan, Schopenhauer melihat seni dan estetika sebagai jalan untuk sementara melampaui kehendak. Musik, lukisan, dan karya seni lainnya memungkinkan manusia mengalami momen kontemplatif di mana individu mampu mengamati dunia tanpa terikat pada keinginan. Musik, khususnya, dipandang sebagai manifestasi langsung dari kehendak itu sendiri, karena mampu mengekspresikan inti dari realitas yang tidak dapat diungkapkan secara konseptual. Pengalaman estetis memberi jeda dari penderitaan dan membuka wawasan metafisik yang mendalam.
Schopenhauer juga mengembangkan etika berbasis simpati. Ia menekankan bahwa pengalaman penderitaan memungkinkan manusia untuk mengembangkan empati terhadap makhluk lain. Penolakan terhadap egoisme dan pengakuan akan penderitaan universal menjadi dasar moralitas. Dengan memahami kesamaan penderitaan antara manusia dan hewan, ia menekankan perlunya pengendalian diri dan pengurangan keinginan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih etis.
Salah satu ciri khas pemikiran Schopenhauer adalah pengaruh filsafat India, terutama ajaran Upanishad dan Buddhisme. Konsep maya atau ilusi dunia dan penekanan pada pengendalian keinginan resonan dengan filosofi ini. Schopenhauer mengadaptasi gagasan bahwa pelepasan dari keinginan dapat membawa pembebasan sementara dari penderitaan eksistensial. Integrasi ini membuat filsafatnya unik, menggabungkan tradisi Barat dan Timur dengan sintesis yang radikal.
Schopenhauer adalah kritikus tajam optimisme filosofis dan sistem filsafat Hegel yang dominan pada zamannya. Ia menolak klaim teleologis dan idealis yang menekankan kemajuan moral atau sejarah. Baginya, sejarah dan kehidupan manusia bukanlah narasi menuju kesempurnaan, tetapi rangkaian penderitaan dan konflik yang terus-menerus. Kritik ini menempatkan Schopenhauer sebagai figur oposisi penting terhadap idealisme Jerman abad ke-19.
Schopenhauer memandang kematian sebagai pembebasan dari siklus penderitaan yang dihasilkan oleh kehendak. Meski bukan dalam kerangka religius, ia menekankan bahwa melalui pengendalian keinginan, kontemplasi, dan estetika, manusia dapat mencapai keadaan nirvana sementara, yaitu pengurangan penderitaan yang paling tinggi. Pemikiran ini memengaruhi eksistensialisme dan psikologi modern tentang makna hidup dan pengendalian diri.
Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman abad ke-19 yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama filsafat pesimisme. Ia terkenal melalui karyanya Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation), yang memberikan pandangan mendalam tentang hakikat realitas dan penderitaan manusia.
Gagasan utama Schopenhauer adalah konsep kehendak (will) sebagai realitas dasar dunia. Menurutnya, kehendak merupakan dorongan irasional yang menjadi sumber penderitaan manusia, sementara dunia yang kita pahami hanyalah representasi dalam kesadaran.
Pemikiran Arthur Schopenhauer berpengaruh besar karena memberikan kritik tajam terhadap optimisme rasionalisme modern. Gagasannya memengaruhi banyak tokoh besar, termasuk Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, serta perkembangan filsafat, sastra, dan psikologi modern.