Raymond Kelvin Nando — Argument from Silence adalah kekeliruan logis yang muncul ketika seseorang menyimpulkan bahwa suatu klaim benar atau salah hanya karena tidak ada bukti, pernyataan, atau catatan yang mendukung atau menolaknya. Dengan kata lain, ketiadaan informasi diperlakukan sebagai bukti yang menentukan. Kekeliruan ini sering muncul dalam sejarah, debat publik, dan penyelidikan ilmiah, ketika asumsi terbentuk bukan dari apa yang tercatat, tetapi dari apa yang tidak tercatat.*
Daftar Isi
Definisi Argument from Silence
Argument from Silence (argumentum ex silentio) adalah fallacy yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan berdasarkan diamnya suatu sumber atau kurangnya dokumentasi. Dalam epistemologi, “ketiadaan bukti” tidak identik dengan “bukti ketiadaan”. Diamnya suatu teks atau individu tidak dapat digunakan untuk membuat klaim kebenaran tanpa dukungan konteks dan analisis tambahan.
Kekeliruan ini berbahaya karena membuat penalaran bergantung pada spekulasi, bukan data objektif.
Ciri-Ciri Argument from Silence
Beberapa ciri umumnya meliputi:
- Menjadikan kurangnya catatan sebagai bukti konklusif.
- Mengasumsikan bahwa jika sesuatu penting, pasti sudah tercatat.
- Interpretasi bahwa diamnya suatu sumber berarti persetujuan atau penolakan.
- Kesimpulan dibangun berdasarkan kesenjangan, bukan informasi aktual.
Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa logika dipaksakan pada ruang kosong, bukan pada premis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh Argument from Silence
Contoh sederhana:
“Dokumen kuno tidak menyebutkan nama tokoh ini, jadi tokoh itu tidak pernah ada.”
Padahal kemungkinan lain: catatan hilang, tidak dianggap penting, atau tidak dituliskan.
Contoh lain:
“Dia tidak menyangkal tuduhan itu, berarti dia bersalah.”
Diam tidak selalu berarti setuju; bisa karena takut, bingung, atau belum punya kesempatan menjawab.
Mengapa Argument from Silence Merupakan Kekeliruan?
Beberapa alasan utama:
- Ketiadaan bukti bukan bukti ketiadaan.
- Banyak faktor dapat menyebabkan diam atau tidak adanya catatan.
- Kesimpulan tidak boleh dibangun di atas asumsi tanpa konten.
- Dalam penelitian historis maupun ilmiah, data yang hilang tidak boleh dijadikan dasar kesimpulan.
Dalam kerangka epistemik, argumen yang valid membutuhkan premis yang ada, bukan premis yang hilang.
Dampak Sosial dan Epistemologis
Kekeliruan ini memiliki berbagai dampak negatif:
- Distorsi sejarah. Banyak tokoh atau peristiwa dipersepsi secara keliru hanya karena kurangnya catatan.
- Fitnah sosial. Diamnya seseorang dianggap sebagai bukti bersalah.
- Kesimpulan sembrono dalam sains. Fenomena yang belum tercatat dianggap tidak nyata.
- Penyebaran narasi manipulatif. Kekosongan informasi dimanfaatkan untuk membuat cerita spekulatif.
Akhirnya, kualitas penalaran menurun ketika kesimpulan dibuat tanpa basis konkret.
Cara Menghindari Argument from Silence
Untuk menghindari kekeliruan ini:
- Periksa konteks. Mengapa tidak ada catatan? Apakah wajar?
- Jangan menyimpulkan dari ketiadaan data saja.
- Cari sumber lain. Banyak bukti tidak tercatat pada satu tempat, tetapi muncul di tempat lain.
- Gunakan penalaran probabilistik, bukan kepastian.
- Akui batas pengetahuan. Ketidakpastian lebih jujur daripada kesimpulan tanpa fondasi.
Pendekatan ini menjaga integritas dalam penelitian, diskusi, dan analisis kritis.
Kesimpulan
Argument from Silence adalah kekeliruan yang terjadi ketika kesimpulan ditarik dari ketiadaan informasi. Diam atau absennya catatan bukan bukti yang memadai untuk klaim kebenaran. Untuk berpikir secara rasional, kita harus menilai konteks, mempertimbangkan alternatif, dan mengakui bahwa ketidakpastian lebih baik daripada kesimpulan yang tidak berdasar.
FAQ
Apakah diam selalu tidak berarti apa-apa?
Tidak. Diam perlu ditafsirkan berdasarkan konteks. Namun, ia tidak bisa langsung menjadi bukti konklusif.
Mengapa kekeliruan ini sering muncul dalam sejarah?
Karena banyak catatan yang hilang atau tidak lengkap, sehingga ruang hening sering diisi dengan spekulasi.
Bagaimana membedakan argumen valid dan Argument from Silence?
Argumen valid bertumpu pada premis positif. Argument from Silence bertumpu pada apa yang tidak ada.
Referensi
- Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to Logic (14th ed.). Routledge.
- Walton, D. (1996). Argument from Ignorance. Penn State University Press.
- Hurley, P. J. (2021). A Concise Introduction to Logic (13th ed.). Cengage Learning.