Raymond Kelvin Nando — Argument from Authority adalah kekeliruan berpikir yang muncul ketika seseorang menganggap suatu pernyataan benar hanya karena disampaikan oleh figur otoritas, tanpa memeriksa bukti, logika, atau konsistensi argumennya. Kekeliruan ini tampak meyakinkan karena manusia cenderung mempercayai ahli, pemimpin, dan tokoh berpengaruh, namun penerimaan tanpa kritik dapat menyesatkan, terutama ketika otoritas tersebut tidak relevan atau tidak kompeten dalam bidang yang dibahas.
Daftar Isi
Definisi Argument from Authority
Argument from Authority (argumentum ad verecundiam) adalah fallacy yang menjadikan otoritas sebagai dasar kebenaran, bukan bukti. Meskipun pendapat ahli bisa menjadi sumber pengetahuan yang kredibel, ia tidak boleh dianggap sebagai bukti mutlak. Dalam epistemologi kritis, klaim apa pun harus dapat diverifikasi secara independen — bahkan jika datang dari pakar ternama.
Dalam bentuk kelirunya, argumen ini tidak menilai substansi, tetapi hanya status pembicara.
Ciri-Ciri Argument from Authority
Beberapa ciri yang menandakan munculnya Argument from Authority antara lain:
- Klaim dianggap benar hanya karena dikatakan oleh seseorang yang dianggap “ahli”.
- Tidak ada presentasi bukti atau argumen pendukung selain reputasi pembicara.
- Otoritas yang dikutip tidak relevan dengan bidang yang sedang dibahas.
- Penggunaan frasa seperti “kata ahli”, “karena tokoh X bilang”, atau “sudah pasti benar karena profesor Y”.
Ciri-ciri tersebut menunjukkan perpindahan fokus dari validitas argumen ke status pembicara.
Contoh Argument from Authority
Contoh sederhana:
“Ini pasti obat paling ampuh, dokter terkenal itu bilang begitu.”
Padahal pernyataan tanpa data empiris tidak membuktikan efektivitas.
Contoh lain:
“Teknologi ini pasti aman. CEO perusahaan besar itu sendiri yang menjamin.”
Kredibilitas CEO tidak serta-merta menjadi bukti ilmiah.
Mengapa Argument from Authority Merupakan Kekeliruan?
Kekeliruan ini bermasalah karena:
- Otoritas dapat salah atau bias.
- Otoritas tidak selalu relevan dengan topik pembahasan.
- Kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara, tetapi oleh bukti dan logika.
- Mengandalkan otoritas menghambat sikap kritis dan penilaian independen.
Dalam epistemologi ilmiah, klaim harus diuji melalui metode dan bukti, bukan reputasi.
Dampak Sosial dan Epistemologis
Kekeliruan ini berdampak luas:
- Manipulasi publik. Otoritas palsu dapat digunakan untuk menyesatkan masyarakat.
- Dogmatisme. Otoritas dianggap tidak boleh dipertanyakan.
- Runtuhnya diskursus rasional. Perdebatan berubah menjadi kompetisi status.
- Kemandekan inovasi. Ide baru ditolak karena bertentangan dengan pendapat otoritas lama.
Efek-efek ini mengurangi kualitas dialog publik dan membahayakan proses pencarian kebenaran.
Cara Menghindari Argument from Authority
Untuk menghindarinya:
- Periksa relevansi otoritas. Apakah ia ahli di bidang yang dibicarakan?
- Tanyakan bukti. Apa dasar logis atau empiris dari klaim tersebut?
- Bandingkan pendapat ahli lain. Apakah ada konsensus atau justru perbedaan fundamental?
- Pisahkan otoritas dari argumentasi. Status dapat membantu, tetapi bukan bukti.
Dengan demikian, pendapat ahli tetap dihargai, tetapi tidak diterima tanpa kritik.
Kesimpulan
Argument from Authority adalah kekeliruan logis yang menganggap klaim benar karena diucapkan oleh otoritas. Meskipun pendapat ahli berguna, ia bukan penentu absolut kebenaran. Rasionalitas menuntut evaluasi berdasarkan bukti, bukan reputasi. Dengan memahami kekeliruan ini, kita dapat membangun diskursus yang lebih kritis, objektif, dan bebas dari manipulasi.
FAQ
Apakah semua argumen yang mengutip ahli termasuk Argument from Authority?
Tidak. Mengutip ahli hanya menjadi kekeliruan jika otoritas dijadikan satu-satunya dasar kebenaran tanpa bukti.
Mengapa orang mudah percaya pada otoritas?
Karena otoritas memberikan rasa aman epistemik, meskipun terkadang menyesatkan jika diterima tanpa kritik.
Apa bedanya otoritas sah dan otoritas palsu?
Otoritas sah memiliki kompetensi, rekam jejak, dan relevansi; otoritas palsu hanya memiliki status atau popularitas.
Referensi
- Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to Logic (14th ed.). Routledge.
- Hurley, P. J. (2021). A Concise Introduction to Logic (13th ed.). Cengage Learning.
- Walton, D. (1997). Appeal to Expert Opinion: Arguments from Authority. Penn State University Press.