Raymond Kelvin Nando — Appeal to Ridicule adalah kekeliruan berpikir yang muncul ketika seseorang mencoba membantah atau melemahkan argumen dengan cara mengejek, menertawakan, atau memperolok-olok ide tersebut, alih-alih memberikan sanggahan logis yang relevan. Dalam praktiknya, jenis fallacy ini berfungsi sebagai serangan psikologis yang mengalihkan perhatian dari substansi argumen menuju reaksi emosional berupa rasa malu atau inferioritas. Karena sifatnya yang persuasif namun tidak rasional, Appeal to Ridicule sering ditemukan dalam debat politik, satire sosial, media daring, hingga percakapan sehari-hari.*
Daftar Isi
Definisi Appeal to Ridicule
Appeal to Ridicule adalah bentuk kekeliruan logis (logical fallacy) yang berusaha mendiskreditkan suatu klaim dengan menggambarkannya sebagai sesuatu yang konyol, bodoh, atau pantas ditertawakan. Alih-alih memberikan argumen tandingan berdasarkan bukti atau premis yang solid, pembicara justru menggunakan humor, ejekan, atau sarkasme untuk membentuk persepsi bahwa kesimpulan lawan tidak masuk akal.
Dalam epistemologi dan teori argumentasi, pola seperti ini dianggap cacat karena bertumpu pada efek psikologis, bukan relevansi logis.
Ciri-Ciri Appeal to Ridicule
Beberapa tanda umum munculnya Appeal to Ridicule antara lain:
- Penggunaan kata-kata merendahkan seperti “konyol”, “kebodohan”, “tertawa saja sudah cukup”.
- Sanggahan berbasis sindiran atau humor, bukan alasan rasional.
- Fokus argumen dialihkan dari substansi ke reaksi emosional audiens.
- Klaim ditertawakan seakan-akan sudah terbukti salah tanpa pembuktian logis.
Ciri-ciri ini membantu mendeteksi manipulasi yang menyaru sebagai humor.
Contoh Appeal to Ridicule
Contoh sederhana:
“Dia bilang bumi mengelilingi matahari? Hahaha, coba dengar teori lucunya itu!”
Tertawanya tidak membuktikan apa pun secara ilmiah.
Contoh lain dalam konteks sosial:
“Mengurangi sampah plastik? Kedengarannya seperti hobi orang yang tidak punya kerjaan!”
Ejekan tersebut tidak menilai argumen tentang dampak lingkungan secara objektif.
Mengapa Appeal to Ridicule Merupakan Kekeliruan?
Appeal to Ridicule merupakan kekeliruan karena:
- Ejekan tidak menjawab inti argumen.
- Tawa atau humor tidak memiliki hubungan logis dengan kebenaran.
- Sasaran argumen direndahkan tanpa analisis substantif.
- Pendengar diarahkan untuk menolak ide melalui tekanan sosial atau rasa malu.
Dalam konteks rasionalitas, argumen harus dijawab dengan argumen, bukan cemoohan.
Dampak Sosial dan Epistemologis
Kekeliruan ini memiliki dampak signifikan:
- Membunuh diskusi kritis. Orang enggan berbicara karena takut ditertawakan.
- Menghambat pencarian kebenaran. Ide potensial ditolak sebelum dianalisis.
- Memicu polarisasi. Ejekan memecah kelompok menjadi “yang masuk akal” dan “yang konyol”, padahal penilaian tersebut sering tidak berdasar.
- Mengurangi kualitas debat publik. Retorika menjadi kontes sindiran, bukan evaluasi nalar.
Cara Menghindari Appeal to Ridicule
Untuk menghindarinya:
- Evaluasi substansi argumen, bukan nada ejekannya.
- Tanyakan relevansi. Apakah tertawaan itu menjawab premis?
- Dorong klarifikasi rasional. Ajak untuk mengemukakan alasan yang logis.
- Pisahkan humor dari kebenaran. Humor boleh hadir, tetapi bukan sebagai dasar penarikan kesimpulan.
Kesimpulan
Appeal to Ridicule adalah kekeliruan logis yang menolak argumen melalui ejekan, bukan melalui penalaran. Meski humor dapat menjadi alat retorika yang kuat, ia tidak memiliki nilai epistemik untuk menentukan kebenaran. Memahami kekeliruan ini membantu menjaga kualitas dialog serta menghindari manipulasi yang mengandalkan rasa malu sebagai strategi debat.
FAQ
Bagaimana cara paling cepat mengenali Appeal to Ridicule?
Periksa apakah suatu argumen ditanggapi dengan ejekan atau humor alih-alih alasan yang relevan.
Apakah humor selalu buruk dalam argumen?
Tidak. Humor dapat memperjelas atau meringankan suasana, tetapi tidak boleh menggantikan logika sebagai dasar pembuktian.
Mengapa Appeal to Ridicule sering digunakan dalam politik?
Karena ejekan lebih mudah memengaruhi psikologi massa dibandingkan penjelasan rasional, sehingga menjadi alat retorika yang efektif namun menyesatkan.
Referensi
- Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to Logic (14th ed.). Routledge.
- Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.
- Hurley, P. J. (2021). A Concise Introduction to Logic (13th ed.). Cengage Learning.