Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Appeal to Pity adalah kekeliruan berpikir yang menggunakan belas kasihan sebagai dasar pembenaran suatu klaim, alih-alih menggunakan alasan yang relevan dan logis. Kekeliruan ini sangat umum muncul dalam percakapan sehari-hari, retorika politik, hingga praktik persuasi sosial. Dalam konteks argumentasi, Appeal to Pity menjadi berbahaya karena menggiring audiens untuk menerima suatu kesimpulan bukan karena ia benar, tetapi karena adanya dorongan emosional untuk merasa kasihan kepada pihak tertentu.*
Daftar Isi
Appeal to Pity adalah jenis fallacy yang muncul ketika seseorang mencoba memenangkan argumen dengan menarik rasa kasihan, simpati, atau empati, tanpa memberikan bukti yang relevan. Fokusnya digeser dari kebenaran klaim menuju kondisi emosional pihak yang berbicara atau pihak yang dibicarakan.
Dalam logika, strategi ini dianggap cacat karena emosi—meskipun valid secara manusiawi—tidak otomatis menguatkan validitas proposisi. Argumen dapat menyentuh secara moral, tetapi tidak otomatis masuk akal secara epistemik.
Beberapa indikator munculnya Appeal to Pity antara lain:
Ciri-ciri ini membantu mengidentifikasi kekeliruan secara sistematis, khususnya ketika nilai emosional digunakan untuk menutupi ketiadaan bukti.
Contoh umum:
“Saya harus lulus ujian ini karena jika tidak, orang tua saya akan sangat sedih.”
Secara emosional klaim tersebut dapat dipahami, tetapi tidak berkaitan dengan validitas kemampuan akademik seseorang.
Dalam ranah politik, suatu pihak mungkin berkata:
“Kritik kepada saya tidak adil; saya sudah bekerja keras dan melalui banyak kesulitan.”
Kesulitan pribadi tidak membuktikan kualitas kebijakan atau keputusan yang diambil.
Appeal to Pity adalah kekeliruan karena:
Dalam epistemologi, argumen harus dibangun berdasarkan premis yang relevan dan koheren. Ketika pembenaran bergeser ke ranah emosional, kita kehilangan fondasi rasional untuk menilai kebenaran.
Untuk menghindarinya:
Appeal to Pity adalah kekeliruan yang memanfaatkan belas kasihan untuk membenarkan klaim. Meskipun rasa kasihan merupakan respons manusiawi, ia tidak relevan untuk menentukan kebenaran suatu argumen. Dengan memahami mekanismenya, kita dapat mengenali manipulasi emosional dan mempertahankan standar penalaran yang sehat.
Ciri terkuatnya adalah penggunaan penderitaan sebagai pokok pembenaran tanpa argumen relevan yang mendukung klaim.
Emosi dapat digunakan dalam konteks moral atau retorika, tetapi tidak boleh dijadikan dasar logis dari sebuah klaim kebenaran.
Dengan mengevaluasi apakah alasan yang diberikan relevan dengan kesimpulan. Jika tidak relevan dan hanya mengandalkan iba, kemungkinan besar itu adalah Appeal to Pity.