Appeal to Pity

Raymond Kelvin NandoAppeal to Pity adalah kekeliruan berpikir yang menggunakan belas kasihan sebagai dasar pembenaran suatu klaim, alih-alih menggunakan alasan yang relevan dan logis. Kekeliruan ini sangat umum muncul dalam percakapan sehari-hari, retorika politik, hingga praktik persuasi sosial. Dalam konteks argumentasi, Appeal to Pity menjadi berbahaya karena menggiring audiens untuk menerima suatu kesimpulan bukan karena ia benar, tetapi karena adanya dorongan emosional untuk merasa kasihan kepada pihak tertentu.*

Definisi Appeal to Pity

Appeal to Pity adalah jenis fallacy yang muncul ketika seseorang mencoba memenangkan argumen dengan menarik rasa kasihan, simpati, atau empati, tanpa memberikan bukti yang relevan. Fokusnya digeser dari kebenaran klaim menuju kondisi emosional pihak yang berbicara atau pihak yang dibicarakan.

Dalam logika, strategi ini dianggap cacat karena emosi—meskipun valid secara manusiawi—tidak otomatis menguatkan validitas proposisi. Argumen dapat menyentuh secara moral, tetapi tidak otomatis masuk akal secara epistemik.

Ciri-Ciri Appeal to Pity

Beberapa indikator munculnya Appeal to Pity antara lain:

  1. Argumen menggunakan penderitaan pribadi sebagai sandaran utama.
  2. Klaim tidak didukung data, alasan rasional, atau premis yang relevan.
  3. Fokus argumen dialihkan dari substansi ke emosi pendengar.
  4. Tujuan utama adalah membuat pendengar merasa bersalah atau iba.

Ciri-ciri ini membantu mengidentifikasi kekeliruan secara sistematis, khususnya ketika nilai emosional digunakan untuk menutupi ketiadaan bukti.

Orang lain juga membaca :  Ad Verecundiam

Contoh Appeal to Pity

Contoh umum:
“Saya harus lulus ujian ini karena jika tidak, orang tua saya akan sangat sedih.”
Secara emosional klaim tersebut dapat dipahami, tetapi tidak berkaitan dengan validitas kemampuan akademik seseorang.

Dalam ranah politik, suatu pihak mungkin berkata:
“Kritik kepada saya tidak adil; saya sudah bekerja keras dan melalui banyak kesulitan.”
Kesulitan pribadi tidak membuktikan kualitas kebijakan atau keputusan yang diambil.

Mengapa Appeal to Pity Merupakan Kekeliruan?

Appeal to Pity adalah kekeliruan karena:

  • Emosi tidak menyediakan bukti empiris.
  • Rasa kasihan tidak memiliki hubungan logis dengan kebenaran klaim.
  • Menggunakan empati sebagai bukti dapat memanipulasi pendengar.

Dalam epistemologi, argumen harus dibangun berdasarkan premis yang relevan dan koheren. Ketika pembenaran bergeser ke ranah emosional, kita kehilangan fondasi rasional untuk menilai kebenaran.

Cara Menghindari Appeal to Pity

Untuk menghindarinya:

  1. Pisahkan fakta dari emosi.
  2. Evaluasi relevansi premis. Tanyakan apakah data atau alasan yang diberikan berkaitan langsung dengan kesimpulan.
  3. Tanyakan bukti objektif. Emosi dapat menjadi konteks, tetapi bukan dasar kebenaran.
  4. Gunakan empati secara etis. Empati boleh digunakan untuk pemahaman moral, tetapi tidak sebagai alat pembuktian logis.

Kesimpulan

Appeal to Pity adalah kekeliruan yang memanfaatkan belas kasihan untuk membenarkan klaim. Meskipun rasa kasihan merupakan respons manusiawi, ia tidak relevan untuk menentukan kebenaran suatu argumen. Dengan memahami mekanismenya, kita dapat mengenali manipulasi emosional dan mempertahankan standar penalaran yang sehat.

FAQ

Apa ciri paling kuat dari Appeal to Pity?

Ciri terkuatnya adalah penggunaan penderitaan sebagai pokok pembenaran tanpa argumen relevan yang mendukung klaim.

Bagaimana membedakan empati tulus dan manipulasi emosional?

Dengan mengevaluasi apakah alasan yang diberikan relevan dengan kesimpulan. Jika tidak relevan dan hanya mengandalkan iba, kemungkinan besar itu adalah Appeal to Pity.

Referensi

  • Govier, T. (2018). A Practical Study of Argument (8th ed.). Wadsworth.
  • Hurley, P. J. (2021). A Concise Introduction to Logic (13th ed.). Cengage Learning.
  • Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Appeal to Novelty

Next Article

Appeal to Ridicule

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *