Raymond Kelvin Nando — Appeal to Novelty adalah kekeliruan logika yang berasumsi bahwa sesuatu lebih baik, lebih benar, atau lebih unggul hanya karena ia baru. Dalam budaya modern yang bergerak cepat, pandangan bahwa “yang baru pasti lebih baik” sering menjadi bias kognitif yang memengaruhi cara kita menilai pengetahuan, teknologi, tren sosial, hingga keputusan etis. Kekeliruan ini tidak hanya berbahaya bagi proses berpikir kritis, tetapi juga mengaburkan evaluasi faktual dengan asumsi bahwa perubahan selalu identik dengan kemajuan.
Daftar Isi
Pengertian Appeal to Novelty
Appeal to Novelty atau argumentum ad novitatem adalah fallacy yang terjadi ketika seseorang menerima kesimpulan hanya karena ide atau produk tersebut dianggap lebih baru. Dalam struktur penalaran, “kebaruan” dijadikan premis tanpa menguji apakah ada bukti empiris atau alasan logis yang mendukung klaim tersebut. Padahal, sesuatu yang baru belum tentu lebih baik, sama seperti sesuatu yang lama tidak otomatis lebih buruk.
Akar Filosofis dan Kritik Epistemologis
Dalam filsafat, gagasan bahwa yang baru lebih unggul sering muncul dalam tradisi modernisme yang mengagungkan kemajuan. Namun, filsafat kritis menunjukkan bahwa kemajuan tidak berarti semua hal yang baru lebih benar; ia hanya berarti transformasi terjadi. Sejalan dengan peringatan klasik dari David Hume dan Karl Popper, perubahan tidak dapat dijadikan bukti kualitas tanpa pengujian empiris. Secara epistemologis, fallacy ini mengaburkan tuntutan justifikasi rasional dengan euforia psikologis terhadap kebaruan.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam pemasaran, slogan seperti “versi terbaru adalah yang terbaik” menjadi strategi umum meskipun peningkatannya minim atau tidak relevan. Dalam teknologi, publik sering terpikat oleh perangkat baru meskipun fitur lamanya sudah mencukupi kebutuhan. Dalam dunia ide, seseorang dapat berkata “teori ini benar karena lebih modern”, padahal modernitas tidak menjamin kebenaran. Bahkan dalam pendidikan, kurikulum baru dianggap lebih baik hanya karena terbaru, meskipun implementasinya belum terbukti efektif.
Bias Psikologis terhadap Kebaruan
Fenomena ini berkaitan dengan novelty bias, kecenderungan otak manusia untuk lebih memperhatikan hal-hal baru karena dianggap lebih menarik atau menawarkan potensi keuntungan. Bias ini dapat menurunkan kemampuan evaluatif dan menimbulkan ilusi nilai. Hal baru sering dianggap sebagai solusi, namun persepsi tersebut tidak berdasar pada data, melainkan pada stimulasi emosional yang menggiring pikiran untuk mengasosiasikan kebaruan dengan keunggulan.
Cara Mengidentifikasi dan Menghindarinya
Untuk menghindari Appeal to Novelty, seseorang harus mempertanyakan apakah sebuah klaim benar karena ia baru atau karena ia memiliki bukti yang kuat. Pertanyaan kritis seperti “Apa kelebihannya yang terukur?”, “Apakah data mendukung peningkatan ini?”, dan “Apakah kebaruan ini relevan dengan masalahnya?” dapat membantu membongkar bias. Mengedepankan validitas dan koherensi argumen adalah cara tepat untuk menghindari jebakan retorika kebaruan.
Kesimpulan
Appeal to Novelty adalah kekeliruan logika yang menjadikan “yang baru” sebagai standar kebenaran tanpa evaluasi kritis. Meskipun inovasi penting dalam perkembangan manusia, kebaruan tidak boleh dijadikan dasar penilaian tanpa bukti. Dengan memahami dan mengenali fallacy ini, kita dapat menjaga integritas berpikir dan tidak terjebak dalam bias yang memuja perubahan tanpa menilai substansinya.
FAQ
Apakah semua hal baru tidak dapat dipercaya?
Tidak. Namun hal baru harus dinilai berdasarkan bukti, bukan semata karena statusnya yang baru.
Mengapa manusia mudah terjebak dalam Appeal to Novelty?
Karena otak memiliki kecenderungan alami untuk menyukai kebaruan, yang sering dikaitkan dengan peluang atau peningkatan.
Apakah Appeal to Novelty hanya muncul dalam teknologi?
Tidak. Fallacy ini muncul dalam politik, pendidikan, pemasaran, teori sosial, dan berbagai ranah yang mengagungkan perubahan.
Referensi
- Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Wadsworth.
- Govier, T. (2010). A practical study of argument (7th ed.). Wadsworth.
- Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.