Dipublikasikan: 4 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025
Dipublikasikan: 4 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Anomisme adalah pandangan atau aliran kepercayaan yang menekankan ketidakpastian, kekacauan, atau ketiadaan tatanan tertentu dalam alam semesta maupun kehidupan manusia. Dalam perspektif ini, kehidupan dianggap tidak memiliki struktur moral, kosmik, atau spiritual yang tetap, sehingga manusia harus menghadapi eksistensi dengan kesadaran akan ketidakpastian dan keterbatasan pemahaman. Anomisme sering muncul sebagai respons terhadap krisis sosial, budaya, atau religius, di mana norma-norma tradisional dipertanyakan atau runtuh. Aliran ini menyoroti pengalaman individu dalam menghadapi dunia yang tidak menentu dan menekankan kebebasan personal untuk menentukan makna hidup tanpa bergantung pada dogma atau struktur kepercayaan yang mapan. Konsep anomisme memiliki relevansi dalam filsafat modern, sosiologi, dan kajian teologi kritis, terutama dalam memahami pergeseran nilai, alienasi, dan transformasi identitas dalam masyarakat kontemporer.
Daftar Isi
Ajaran anomisme menekankan beberapa prinsip utama:
Dalam praktiknya, anomisme tidak selalu bersifat negatif atau destruktif. Sebaliknya, pandangan ini dapat mendorong kreativitas, inovasi, dan pembebasan dari norma yang mengekang. Beberapa penganut anomisme juga melihat ketidakpastian sebagai kesempatan untuk membangun etika dan makna secara kontekstual, sesuai pengalaman pribadi dan sosial.
Istilah dan konsep anomisme berkembang terutama dalam konteks filsafat modern dan sosiologi. Sejarawan dan filsuf abad ke-19 hingga abad ke-20, seperti Émile Durkheim, membahas fenomena “anomie” atau kekacauan normatif yang muncul akibat disintegrasi sosial, krisis budaya, atau perubahan nilai yang cepat. Durkheim melihat anomisme sebagai kondisi di mana individu kehilangan pedoman moral yang jelas, sehingga mengalami kebingungan atau alienasi. Konsep ini kemudian diadaptasi dalam kajian teologi, filsafat eksistensial, dan teori sosial untuk memahami bagaimana manusia menghadapi ketidakpastian dan kekosongan nilai.
Selain Durkheim, filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus juga membahas tema serupa, dengan menekankan absurditas kehidupan dan perlunya individu menciptakan makna sendiri. Dalam konteks teologi kontemporer, anomisme digunakan untuk menganalisis situasi ketika struktur keagamaan tradisional gagal memberikan jawaban yang memadai bagi persoalan eksistensial manusia, sehingga menuntut pendekatan reflektif dan personal terhadap iman dan moralitas.