Dipublikasikan: 4 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025
Dipublikasikan: 4 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Animisme adalah pandangan kepercayaan kuno yang menekankan bahwa semua benda, baik hidup maupun mati, memiliki roh atau kesadaran. Dalam perspektif animisme, alam semesta tidak dipandang sebagai objek mati yang pasif, tetapi sebagai jaringan makhluk hidup yang saling berinteraksi secara spiritual. Sungai, gunung, pohon, batu, hewan, dan bahkan fenomena alam seperti angin atau hujan diyakini memiliki roh atau jiwa sendiri. Kepercayaan ini muncul di berbagai budaya di seluruh dunia, termasuk Afrika, Asia, Oseania, dan Amerika Pribumi, dan sering menjadi dasar praktik ritual, etika, dan sistem sosial masyarakat yang menganutnya. Animisme bukan sekadar bentuk religi, tetapi juga kerangka pemahaman yang menghubungkan manusia dengan lingkungan melalui hubungan spiritual, penghormatan, dan tanggung jawab ekologis.
Daftar Isi
Ajaran animisme menekankan bahwa setiap entitas, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda mati, memiliki roh yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Roh ini bisa bersifat pelindung, jahat, atau netral, dan manusia harus menjaga hubungan yang harmonis dengan roh tersebut melalui ritual, persembahan, dan doa. Praktik ini mencerminkan pandangan bahwa alam dan manusia saling bergantung secara spiritual.
Beberapa prinsip utama dalam animisme meliputi:
Animisme bukan ajaran tunggal, melainkan istilah umum untuk berbagai praktik dan kepercayaan lokal. Misalnya, di Afrika Barat terdapat kepercayaan pada leluhur dan roh hutan, sementara masyarakat Inuit di Arktik percaya bahwa hewan buruan memiliki jiwa yang harus dihormati untuk memastikan keberhasilan berburu.
Animisme diyakini sebagai bentuk religiositas tertua yang dimiliki manusia. Konsep ini muncul dalam bentuk primitif sejak manusia berburu dan meramu, ketika mereka mengamati alam dan mengaitkan kejadian alam dengan entitas spiritual. E. B. Tylor, antropolog abad ke-19, mempopulerkan istilah “animisme” dalam bukunya Primitive Culture (1871), mendefinisikannya sebagai keyakinan bahwa roh ada dalam semua benda.
Seiring waktu, animisme berkembang menjadi sistem kepercayaan yang kompleks di berbagai wilayah dunia. Di Asia Tenggara, kepercayaan roh leluhur dan roh alam menjadi bagian dari ritual pertanian. Di Afrika, animisme menyatu dengan praktik penyembuhan tradisional dan sistem sosial klan. Sementara di Oseania, kepercayaan pada roh laut dan hutan menjadi pusat dalam kegiatan ritual dan navigasi. Animisme juga membentuk dasar bagi agama-agama lokal sebelum masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, atau Islam, dan banyak praktik animistik tetap bertahan hingga kini.
Animisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu—manusia, hewan, tumbuhan, dan benda—memiliki roh atau jiwa. Dinamisme adalah kepercayaan bahwa kekuatan gaib atau energi ada dalam benda atau alam, yang dapat memengaruhi kehidupan manusia.
Animisme adalah kepercayaan bahwa semua makhluk hidup, benda, atau fenomena alam memiliki roh atau jiwa, sehingga alam dan lingkungan dianggap hidup dan penuh kekuatan spiritual.
Contoh animisme termasuk: menghormati pohon atau batu sebagai tempat bersemayamnya roh, memberikan sesaji pada sungai atau gunung, dan percaya bahwa hewan atau benda memiliki jiwa yang bisa memengaruhi manusia.