Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025
Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Anaximander adalah seorang filsuf pra-Sokratik asal Miletus yang dikenal sebagai salah satu perintis filsafat alam dan kosmologi ilmiah di Yunani kuno. Ia merupakan murid Thales dan guru Anaximenes, serta dianggap sebagai tokoh pertama yang berusaha menjelaskan asal-usul dunia dan kehidupan dengan prinsip rasional, bukan mitologis.
Daftar Isi
Anaximander lahir sekitar tahun 610 SM di Miletus, Ionia (sekarang Turki bagian barat). Ia hidup pada masa ketika kota-kota Ionia menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan, yang juga melahirkan tradisi berpikir ilmiah dan filosofis.
Sebagai murid Thales, Anaximander mewarisi semangat penyelidikan rasional terhadap alam, namun ia melangkah lebih jauh dengan memperkenalkan prinsip apeiron sebagai asal mula segala sesuatu. Tidak seperti gurunya yang berpendapat bahwa air adalah unsur dasar alam, Anaximander menolak bentuk material tertentu dan menggantinya dengan konsep metafisik yang lebih abstrak.
Ia dikenal pula sebagai ilmuwan dan peneliti awal. Anaximander dikatakan membuat peta dunia pertama yang dikenal di Yunani, memperkenalkan gnomon (alat penunjuk waktu berdasarkan bayangan matahari), serta mempelajari astronomi dan meteorologi. Ia meninggal sekitar tahun 546 SM, tetapi gagasannya meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah pemikiran Barat.
Konsep sentral dalam filsafat Anaximander adalah apeiron, yang berarti “tak terbatas” atau “tak berhingga”. Apeiron adalah prinsip dasar (arkhē) dari segala sesuatu — sesuatu yang tidak memiliki awal maupun akhir, tidak dapat dihancurkan, dan menjadi sumber dari semua yang ada.
Dalam fragmen yang dikutip oleh Simplicius, Anaximander mengatakan:
The origin of existing things is the apeiron. From where things have their birth, to there they return according to necessity. (Fragment 1, Diels–Kranz, hlm. 12)
Melalui kutipan ini, Anaximander menegaskan pandangan kosmologis bahwa segala sesuatu muncul dari yang tak terbatas dan akan kembali kepadanya melalui proses alami. Apeiron bukanlah materi tertentu, melainkan prinsip universal yang tidak terdefinisi — suatu bentuk realitas primordial yang mendasari dan menembus semua hal.
Gagasan ini merupakan salah satu lompatan besar dalam sejarah metafisika: untuk pertama kalinya, prinsip dasar alam tidak dipahami sebagai unsur material (seperti air, udara, atau api), melainkan sebagai entitas abstrak dan transenden.
Anaximander juga memberikan penjelasan sistematis tentang bentuk bumi dan langit. Ia menggambarkan bumi sebagai silinder yang mengambang di pusat kosmos tanpa penopang, dan menjelaskan bahwa benda-benda langit adalah cincin api yang terlihat melalui lubang-lubang kecil (yang kita lihat sebagai bintang, bulan, dan matahari).
Ia menulis:
The earth is held in place because it is equally distant from everything. (Fragment 2, Diels–Kranz, hlm. 13)
Dengan demikian, Anaximander memperkenalkan prinsip kesetimbangan simetris — suatu pandangan yang mendekati konsep gravitasi dan kestabilan sistem tata surya.
Selain itu, ia juga menyatakan bahwa makhluk hidup pertama berasal dari kelembapan yang dipanaskan matahari, dan manusia awal muncul dari makhluk mirip ikan yang beradaptasi ke daratan. Pandangan ini menjadikannya salah satu pemikir paling awal yang mengusulkan teori evolusi alami.
Anaximander mengaitkan kosmos dengan hukum keadilan universal (dike), di mana semua hal tunduk pada keseimbangan yang diatur oleh apeiron. Tidak ada yang kekal secara individual — setiap keberadaan harus “membayar denda” kepada alam semesta karena ketidakseimbangannya.
Ia menyatakan:
They pay penalty and retribution to each other for their injustice according to the ordering of time. (Fragment 1, Diels–Kranz, hlm. 12)
Ungkapan ini mencerminkan pemahaman moral dan kosmologis bahwa alam berjalan dalam siklus keadilan yang abadi. Setiap perubahan — kelahiran, kematian, penciptaan, dan kehancuran — adalah bagian dari ritme kosmos yang dijaga oleh hukum alamiah.
Anaximander merupakan tonggak penting dalam sejarah filsafat alam (physis). Ia menggantikan penjelasan mitos dengan prinsip rasional yang bersifat universal dan abstrak. Dengan konsep apeiron, ia memperkenalkan pemikiran metafisik yang mendasari filsafat Yunani klasik dan bahkan teologi filsafat modern.
Aristoteles dalam Physics (203b6) menulis:
Anaximander of Miletus said that the principle and element of existing things is the apeiron, for from it all things arise and into it they return. (Physics, III.4)
Bagi Aristoteles, pemikiran Anaximander merupakan awal dari metafisika — pencarian tentang prinsip pertama yang melampaui dunia empiris.
Pemikiran Anaximander memengaruhi banyak filsuf setelahnya, termasuk Anaximenes dan Herakleitos. Ia juga menjadi inspirasi bagi Plato dan Aristoteles dalam mengembangkan gagasan tentang prinsip dasar dan keteraturan kosmos.
Dalam konteks modern, konsep apeiron dapat dilihat sebagai cikal bakal pemikiran tentang infinitas, kontinuitas, dan bahkan teori kosmologi ilmiah yang meneliti asal-usul alam semesta dari keadaan tanpa batas.
Anaximander adalah pionir rasionalisme kosmologis. Dengan memperkenalkan apeiron sebagai sumber dari segala yang ada, ia membawa filsafat Yunani keluar dari mitologi dan menapaki jalan menuju metafisika serta ilmu pengetahuan.
Gagasannya tentang keadilan kosmik, keseimbangan alam, dan asal-usul kehidupan menunjukkan kedalaman pemikiran yang jauh melampaui zamannya. Ia adalah bukti bahwa sejak awal, filsafat sudah merupakan upaya untuk memahami dunia dengan rasio dan prinsip universal.
Apeiron berarti “yang tak terbatas” atau “yang tak berhingga”, yaitu prinsip dasar dari segala sesuatu yang tidak memiliki awal atau akhir.
Karena ia adalah orang pertama yang menjelaskan asal-usul alam semesta dan struktur kosmos secara rasional dan sistematis, bukan berdasarkan mitos.
Menurut Anaximander, semua hal yang melampaui keseimbangan harus “membayar denda” kepada alam, sehingga apeiron menjaga keadilan dan keteraturan kosmos secara abadi.