Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Anaxagoras adalah seorang filsuf pra-Sokratik asal Clazomenae, Ionia (kini bagian dari Turki modern), yang dikenal sebagai pelopor gagasan tentang Nous (Pikiran Kosmis) sebagai prinsip pengatur alam semesta. Ia merupakan salah satu tokoh awal yang mengaitkan tatanan dunia dengan kekuatan rasional dan menolak penjelasan mitologis tentang asal-usul kosmos.
Daftar Isi
Anaxagoras lahir sekitar tahun 500 SM di Clazomenae, sebuah kota di Asia Kecil yang merupakan pusat perdagangan dan kebudayaan Yunani kuno. Ia berasal dari keluarga kaya, tetapi memilih meninggalkan kehidupan nyaman demi mengejar pengetahuan dan penelitian tentang hakikat realitas.
Pada masa mudanya, Anaxagoras pindah ke Athena — yang saat itu sedang berkembang menjadi pusat intelektual Yunani — dan di sana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh besar seperti Perikles dan Euripides. Pengaruhnya terhadap Perikles sangat besar, terutama dalam membentuk pandangan rasional dan ilmiah terhadap alam serta kehidupan politik.
Namun, pandangannya yang menentang mitos tradisional menimbulkan kontroversi. Ia dituduh tidak menghormati para dewa karena menyatakan bahwa matahari adalah “batu pijar besar” dan bulan memiliki tanah seperti bumi. Akibatnya, ia diadili atas tuduhan asebeia (kafir) dan akhirnya diasingkan ke Lampsacus, tempat ia meninggal sekitar tahun 428 SM.
Warisan intelektual Anaxagoras hidup melalui gagasan rasional tentang Nous, yang menjadi dasar bagi banyak pemikiran metafisika dan kosmologi setelahnya, termasuk dalam sistem filsafat Plato dan Aristoteles.
Konsep paling terkenal dari Anaxagoras adalah Nous — prinsip rasional atau pikiran kosmis yang mengatur segala sesuatu di alam semesta. Ia menolak gagasan bahwa alam tercipta dari kekacauan atau kebetulan belaka, melainkan dari tatanan yang diatur oleh suatu intelegensi yang sadar.
Dalam fragmen yang dikutip oleh Simplicius, Anaxagoras mengatakan:
All things were together; then Mind (Nous) came and arranged them. (Fragment 12, Diels–Kranz, hlm. 59)
Bagi Anaxagoras, Nous bukan sekadar entitas spiritual, tetapi kekuatan intelektual murni yang menjadi sebab pertama dari keteraturan kosmos. Ia tidak bercampur dengan benda-benda fisik, tetapi mampu menggerakkan dan mengatur semuanya dengan pengetahuan dan kehendak.
Interpretasi metafisik ini menandai pergeseran penting dalam sejarah filsafat: dari materialisme murni ala Thales dan Anaximenes menuju gagasan rasionalisme kosmologis. Nous menjadi model awal bagi ide tentang Tuhan sebagai intelek pengatur, yang kemudian disempurnakan oleh Plato dan Aristoteles.
Selain Nous, Anaxagoras juga memperkenalkan konsep homeomeries — yaitu bahwa segala sesuatu tersusun dari bagian-bagian kecil yang memiliki sifat sama dengan keseluruhannya. Tidak ada penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo nihil fit), melainkan perubahan terjadi karena penggabungan atau pemisahan unsur-unsur yang sudah ada.
Ia menulis:
There is a portion of everything in everything. (Fragment 11, Diels–Kranz, hlm. 57)
Dengan kata lain, segala materi di alam semesta mengandung benih dari segala hal lain. Misalnya, dalam makanan terdapat bagian yang menjadi daging, tulang, atau darah, tergantung pada proses penyusunan alamiah yang diatur oleh Nous.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Anaxagoras menolak atomisme murni, namun tetap berusaha menjelaskan perubahan dan diferensiasi dalam alam tanpa mengandalkan mitos atau intervensi ilahi.
Bagi Anaxagoras, alam semesta bermula dari keadaan di mana semua unsur bercampur menjadi satu. Nous kemudian menyebabkan gerakan awal — gerakan rotasional yang memisahkan benda-benda dan membentuk dunia sebagaimana kita lihat sekarang.
Ia menggambarkan proses itu sebagai berikut:
Mind set in order all that was in chaos and began the revolution. (Fragment 13, Diels–Kranz, hlm. 60)
Melalui pandangan ini, Anaxagoras menjadi salah satu filsuf pertama yang menjelaskan kosmos dengan hukum rasional dan mekanisme gerak, bukan melalui kehendak dewa-dewa.
Anaxagoras memainkan peran penting dalam perkembangan filsafat alam (physis). Ia memadukan pemikiran materialis Ionia dengan gagasan rasional tentang sebab dan keteraturan. Dengan menempatkan Nous sebagai penyebab akhir dari segala perubahan, ia memperkenalkan prinsip teleologis awal dalam filsafat Yunani.
Aristoteles dalam Metaphysics (I.3) mengakui pentingnya peran Anaxagoras:
Anaxagoras appears like a sober man among those who talk at random, when he says that Mind is the cause of all things. (Metaphysics, 984b15)
Namun, Aristoteles juga mengkritiknya karena Nous hanya digunakan sebagai penjelasan awal, tidak untuk seluruh fenomena alam. Meski demikian, pengaruh Anaxagoras tetap besar dalam membentuk cara berpikir ilmiah — bahwa dunia memiliki struktur yang dapat dipahami oleh akal.
Pemikiran Anaxagoras tentang Nous menjadi inspirasi bagi Plato dalam Phaedo, di mana Socrates memuji idenya sebagai langkah besar menuju penjelasan rasional tentang alam. Namun, Plato mengembangkan konsep itu menjadi lebih idealistis, menjadikan Nous sebagai bentuk tertinggi dari ide kebaikan.
Sementara itu, Aristoteles mengadaptasi konsep Nous menjadi Nous poietikos (akal aktif) — prinsip penggerak yang tidak berubah dan abadi. Melalui dua tokoh besar ini, warisan Anaxagoras menjalar hingga filsafat skolastik dan bahkan metafisika modern.
Anaxagoras adalah jembatan antara materialisme pra-Sokratik dan rasionalisme klasik. Dengan memperkenalkan Nous sebagai prinsip pengatur kosmos, ia menggeser filsafat dari mitos ke logos — dari kepercayaan terhadap dewa-dewa menuju penjelasan berbasis akal.
Pemikirannya membuka jalan bagi kosmologi ilmiah dan metafisika rasional, menjadikan dirinya sebagai salah satu pelopor pandangan dunia yang logis dan terstruktur.
Nous adalah pikiran kosmis atau intelek universal yang mengatur dan menggerakkan segala sesuatu di alam semesta.
Homeomeries berarti bahwa segala benda tersusun dari bagian-bagian kecil yang memiliki sifat yang sama dengan keseluruhannya, dan tidak ada penciptaan dari ketiadaan.
Karena ia memperkenalkan prinsip rasional (Nous) sebagai sebab pertama alam semesta, menandai peralihan dari penjelasan mitologis menuju penjelasan filosofis dan ilmiah.