Anarkisme Pemberontakan

Raymond Kelvin Nando — Anarkisme Pemberontakan adalah bentuk anarkisme yang menekankan tindakan langsung, spontanitas individu, dan perlawanan konfrontatif terhadap otoritas. Ideologi ini lahir sebagai kritik terhadap kecenderungan gerakan anarkis yang dianggap terlalu terorganisir, birokratis, atau menunggu “waktu yang tepat” untuk revolusi. Bagi penganut anarkisme pemberontakan, pembebasan tidak datang dari proses bertahap atau struktur kolektif, tetapi dari tindakan revolusioner yang langsung menantang kekuasaan.

Pengertian Anarkisme Pemberontakan

Anarkisme Pemberontakan (Insurrectionary Anarchism) adalah aliran dalam anarkisme yang berfokus pada aksi pemberontakan spontan dan otonomi individu dalam melawan struktur kekuasaan, baik negara, kapitalisme, maupun institusi sosial lainnya.

Gerakan ini menolak hierarki, organisasi formal, dan pendekatan politik berbasis partai atau serikat yang cenderung kompromistis. Ia berakar pada keyakinan bahwa kebebasan tidak bisa “diperjuangkan nanti” setelah revolusi besar, melainkan harus diwujudkan di sini dan sekarang melalui tindakan nyata melawan dominasi.

Anarkisme pemberontakan menekankan aksi langsung (direct action) — tindakan yang tidak melalui perantara hukum atau politik — seperti sabotase, okupasi, penyebaran informasi, hingga pembentukan komunitas otonom sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang menindas.

Tokoh Anarkisme Pemberontakan

Errico Malatesta adalah salah satu tokoh awal yang menginspirasi arah pemikiran anarkisme pemberontakan. Dalam Between Peasants (1884), ia menulis bahwa revolusi sejati adalah hasil dari tindakan rakyat sendiri, bukan dari struktur organisasi besar yang mengklaim mewakili mereka.

“Kita tidak menunggu revolusi; kita menciptakannya melalui tindakan kita sehari-hari.”
— Errico Malatesta, Between Peasants, hlm. 42

Luigi Galleani, tokoh Italia yang menulis La Fine dell’Anarchismo? (1925), menolak organisasi formal dan mendorong “propaganda melalui tindakan” (propaganda by the deed) — konsep bahwa tindakan revolusioner individual dapat membangkitkan kesadaran dan keberanian kolektif.

Orang lain juga membaca :  Anarko-Feminisme

Tokoh kontemporer seperti Alfredo M. Bonanno, dalam esainya The Anarchist Tension (1998), memperbarui ide pemberontakan dengan menekankan pentingnya praktik desentralistik, jaringan otonom, dan perjuangan permanen melawan semua bentuk dominasi, baik ekonomi maupun ideologis.

“Pemberontakan bukanlah momen tunggal, tetapi proses terus-menerus melawan struktur kekuasaan yang tak henti berubah.”
— Alfredo M. Bonanno, The Anarchist Tension, hlm. 19

Prinsip dan Gagasan Utama Anarkisme Pemberontakan

Aksi Langsung dan Otonomi Individu

Anarkisme pemberontakan menolak gagasan bahwa kebebasan dapat dicapai melalui lembaga politik atau reformasi. Setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk melawan ketidakadilan secara langsung, tanpa menunggu persetujuan atau koordinasi dari otoritas.

“Setiap tindakan melawan kekuasaan, sekecil apa pun, adalah benih revolusi.”
— Luigi Galleani, The End of Anarchism?, hlm. 56

Bagi para pemberontak, tindakan pribadi adalah politik. Pembakaran simbol kekuasaan, sabotase ekonomi, atau pendirian komunitas bebas adalah bentuk nyata dari penolakan terhadap sistem dominasi.

Anti-Organisasi dan Kritik terhadap Struktur Formal

Berbeda dari anarkisme sosial yang menekankan organisasi kolektif, anarkisme pemberontakan menganggap struktur besar — bahkan yang disebut “revolusioner” — berpotensi mereproduksi kekuasaan baru. Oleh karena itu, perjuangan harus dilakukan melalui jaringan kecil, fleksibel, dan otonom.

“Organisasi adalah kuburan kebebasan ketika menjadi tujuan itu sendiri.”
— Errico Malatesta, Anarchy, hlm. 76

Tujuannya bukan membangun struktur kekuasaan baru, tetapi menghancurkan yang lama dan menjaga agar bentuk kehidupan sosial tetap cair, bebas dari hierarki permanen.

Revolusi sebagai Proses, Bukan Peristiwa

Dalam anarkisme pemberontakan, revolusi bukan peristiwa tunggal yang terjadi sekali dan selesai, melainkan proses berkelanjutan dari pembebasan diri dan masyarakat.

“Revolusi bukan masa depan yang kita tunggu, tetapi masa kini yang kita ciptakan.”
— Alfredo M. Bonanno, Armed Joy, hlm. 27

Pandangan ini menolak narasi historis bahwa revolusi harus besar, serentak, dan terencana. Sebaliknya, perubahan sejati lahir dari keberanian individu dan kelompok kecil yang menolak tunduk pada sistem.

Orang lain juga membaca :  Ekofeminisme

FAQ

Apakah anarkisme pemberontakan mendukung kekerasan?

Tidak secara mutlak. Aksi langsung bisa berupa sabotase, perlawanan pasif, atau pembangkangan sipil. Namun, beberapa pengikutnya tidak menolak penggunaan kekerasan sebagai bentuk pertahanan diri terhadap kekuasaan represif.

Apa perbedaan anarkisme pemberontakan dengan anarkisme sosial?

Anarkisme sosial menekankan organisasi kolektif dan solidaritas kelas, sedangkan anarkisme pemberontakan menekankan otonomi individu dan aksi langsung spontan. Keduanya sama-sama menolak negara dan kapitalisme, tetapi berbeda dalam strategi perjuangan.

Apakah anarkisme pemberontakan masih relevan saat ini?

Sangat relevan. Dalam era pengawasan digital dan konsentrasi kekuasaan global, anarkisme pemberontakan menginspirasi gerakan otonom, hacker-aktivis, dan komunitas alternatif yang menolak kontrol negara dan korporasi atas kehidupan individu.

Referensi

  • Bonanno, A. M. (1998). The Anarchist Tension. London: Elephant Editions.
  • Bonanno, A. M. (1977). Armed Joy. Milan: Bruttium Press.
  • Galleani, L. (1925). La Fine dell’Anarchismo? Turin: Edizioni Anarchiche.
  • Malatesta, E. (1884). Between Peasants. Geneva: Jura Federation Press.
  • Malatesta, E. (1891). Anarchy. London: Freedom Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Anarkisme Ekonomi

Next Article

Anarkisme Magonisme