Dipublikasikan: 25 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 29 Desember 2025
Dipublikasikan: 25 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 29 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Albert Camus adalah filsuf, penulis, dan jurnalis Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai salah satu pemikir paling penting dalam refleksi tentang absurditas, pemberontakan, dan kondisi manusia modern. Meskipun sering dikaitkan dengan eksistensialisme, Camus secara tegas menolak label tersebut dan mengembangkan jalur pemikiran sendiri yang berpusat pada pengalaman absurditas, penolakan terhadap nihilisme, serta pembelaan martabat manusia dalam dunia tanpa makna metafisis yang pasti. Karyanya, baik dalam bentuk esai filosofis maupun sastra, memberikan kontribusi besar bagi filsafat moral, filsafat politik, dan sastra modern.
Daftar Isi
Albert Camus lahir pada tahun 1913 di Mondovi, Aljazair, yang saat itu merupakan koloni Prancis. Ia dibesarkan dalam keluarga miskin; ayahnya meninggal dalam Perang Dunia I, dan ibunya bekerja sebagai buruh rumah tangga dengan keterbatasan pendidikan. Latar belakang ini membentuk kepekaan Camus terhadap ketidakadilan sosial, penderitaan, dan pengalaman hidup kaum terpinggirkan.
Camus menempuh pendidikan filsafat di Universitas Algiers, dengan ketertarikan awal pada pemikiran Yunani klasik dan filsafat modern. Ia aktif dalam dunia jurnalistik dan teater, serta terlibat dalam perlawanan intelektual terhadap pendudukan Nazi melalui surat kabar bawah tanah Combat. Pada tahun 1957, Camus dianugerahi Hadiah Nobel Sastra atas kontribusinya yang menyoroti masalah-masalah nurani manusia. Ia meninggal secara tragis pada tahun 1960 akibat kecelakaan mobil.
Konsep paling sentral dalam pemikiran Camus adalah absurditas. Absurditas muncul dari konfrontasi antara pencarian manusia akan makna, kejelasan, dan keteraturan dengan dunia yang bisu, acuh, dan tidak memberikan jawaban metafisis. Absurditas bukan sifat dunia semata atau manusia semata, melainkan hubungan antara keduanya.
Camus menolak dua respons ekstrem terhadap absurditas, yaitu bunuh diri fisik dan bunuh diri filosofis. Yang pertama dianggap sebagai penyerahan diri, sementara yang kedua muncul dalam bentuk lompatan iman atau sistem metafisis yang memaksakan makna palsu atas dunia.
Sebagai alternatif, Camus mengusulkan pemberontakan sebagai sikap eksistensial dan etis. Pemberontakan bukan upaya menghapus absurditas, melainkan kesediaan untuk hidup bersamanya secara sadar dan bermartabat. Dengan memberontak, manusia menegaskan nilai hidup tanpa mengklaim makna absolut.
Pemberontakan, bagi Camus, selalu bersifat terbatas dan manusiawi. Ia menolak pemberontakan yang berubah menjadi teror atau pembenaran kekerasan total.
Camus memahami kebebasan sebagai kondisi yang muncul dari pengakuan absurditas. Tanpa makna metafisis yang memaksa, manusia menjadi bebas untuk menentukan sikap dan tindakan. Namun, kebebasan ini tidak bersifat nihilistik, karena tetap dibatasi oleh solidaritas dengan manusia lain.
Dengan demikian, kebebasan Camus selalu berkaitan dengan tanggung jawab etis.
Dalam karya-karya politiknya, terutama The Rebel, Camus mengkritik ideologi-ideologi modern yang membenarkan kekerasan demi tujuan historis atau utopis. Ia melihat totalitarianisme sebagai konsekuensi ekstrem dari nihilisme yang kehilangan batas moral.
Camus menolak logika sejarah yang mengorbankan manusia konkret demi masa depan abstrak. Baginya, setiap pembenaran kekerasan yang meniadakan martabat manusia adalah bentuk pengkhianatan terhadap pemberontakan sejati.
Meskipun menolak humanisme metafisis, Camus mengembangkan apa yang sering disebut sebagai humanisme tragis. Manusia, meskipun hidup dalam dunia tanpa makna final, tetap dapat membangun solidaritas berdasarkan pengalaman penderitaan bersama.
Solidaritas ini bukan hasil hukum universal, melainkan lahir dari empati dan kesadaran akan keterbatasan bersama.
Camus menaruh perhatian besar pada persoalan keadilan dan hukuman, termasuk kritik terhadap hukuman mati. Ia menilai bahwa negara tidak memiliki legitimasi moral untuk mengambil nyawa manusia, bahkan atas nama hukum atau keadilan.
Pandangan ini memperkuat posisi etis Camus sebagai pembela kehidupan dan martabat manusia.
Camus memandang sastra sebagai medium utama untuk mengekspresikan pengalaman absurditas dan konflik moral. Novel dan drama baginya bukan ilustrasi teori, melainkan cara konkret untuk mengeksplorasi dilema eksistensial.
Tokoh-tokoh dalam karya sastranya sering kali menghadapi situasi ekstrem yang menguji batas kebebasan, tanggung jawab, dan solidaritas.
Pemikiran Camus memengaruhi filsafat eksistensial, etika politik, sastra modern, dan pemikiran hak asasi manusia. Ia sering diposisikan sebagai suara moral yang menolak ekstremisme ideologis dan membela moderasi etis dalam dunia yang penuh kekerasan dan absurditas.
Hingga kini, Camus tetap relevan dalam diskusi tentang makna hidup, keadilan, dan tanggung jawab manusia dalam kondisi krisis global.
Albert Camus adalah seorang filsuf, penulis, dan jurnalis asal Prancis yang hidup pada abad ke-20. Ia dikenal sebagai tokoh penting dalam filsafat eksistensialisme dan absurdisme, serta sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra atas kontribusinya dalam sastra dan pemikiran modern.
Gagasan utama Albert Camus adalah konsep absurditas, yaitu ketegangan antara pencarian manusia akan makna hidup dan ketidakpedulian alam semesta. Melalui karya-karyanya, Camus menekankan sikap pemberontakan, kebebasan, dan tanggung jawab individu dalam menghadapi kehidupan yang absurd.
Pemikiran Albert Camus penting karena membahas persoalan universal tentang makna hidup, penderitaan, dan pilihan moral manusia. Karya-karyanya tetap relevan dalam sastra, filsafat, dan kajian kemanusiaan karena menawarkan refleksi mendalam tentang kondisi manusia modern.