Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 29 Desember 2025
Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 29 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Alasdair Chalmers MacIntyre adalah salah satu filsuf moral dan politik paling berpengaruh dalam tradisi filsafat kontemporer, terutama melalui kritik radikalnya terhadap modernitas, etika liberal, dan proyek Pencerahan. Melalui karya magnum opus-nya After Virtue, MacIntyre menghidupkan kembali etika kebajikan Aristotelian dan menegaskan pentingnya tradisi, komunitas, serta praktik sosial dalam membentuk karakter moral manusia. Pemikirannya menandai kebangkitan besar dalam virtue ethics dan memengaruhi wacana politik-komunitarian, teologi moral, dan teori institusi.
Daftar Isi
Alasdair MacIntyre lahir pada 12 Januari 1929 di Glasgow, Skotlandia. Ia menempuh pendidikan di Queen Mary College London dan University of Manchester. Pada awal kariernya, MacIntyre dipengaruhi oleh Marxisme dan filsafat analitik, serta berkontribusi pada berbagai diskusi mengenai etika, teologi, dan ideologi politik. Namun, selama dekade 1960–1970-an, MacIntyre semakin kritis terhadap positivisme, liberalisme moral, dan bentuk-bentuk modernisme yang dianggapnya gagal menyediakan fondasi normatif yang stabil bagi masyarakat.
Perubahan intelektual besar terjadi ketika MacIntyre mulai mendalami tradisi Aristotelian dan Thomistik. Ia kemudian mengajar di berbagai universitas bergengsi seperti Oxford, Duke, Notre Dame, Boston University, dan Vanderbilt. Karyanya After Virtue (1981) menjadikan MacIntyre figur sentral dalam kebangkitan etika kebajikan. Pada 1980-an, ia secara resmi menjadi pemikir Katolik Thomistik dan meneruskan pekerjaannya dalam filsafat moral, teologi, dan teori institusional. Ia tetap aktif menulis dan mengajar hingga usia lanjut, dan masih dianggap sebagai salah satu intelektual moral paling berpengaruh di dunia.
Dalam After Virtue, MacIntyre mengajukan kritik tajam bahwa proyek moral Pencerahan—yang berusaha membangun etika rasional universal tanpa mengacu pada tradisi atau teleologi manusia—gagal total. Menurutnya:
MacIntyre menilai bahwa masyarakat kontemporer terjebak dalam “emotivisme,” yaitu pandangan bahwa pernyataan moral hanyalah ekspresi preferensi pribadi tanpa rasionalitas objektif.
Emotivisme menyebabkan moralitas berubah menjadi konflik klaim emosional yang tidak dapat diselesaikan secara rasional. Dalam keadaan demikian:
Analisis ini memperlihatkan bagaimana modernitas gagal mempertahankan kohesi moral.
MacIntyre memperkenalkan konsep praktik (practice), yaitu aktivitas sosial kompleks yang memiliki standar keunggulan internal dan membutuhkan partisipasi kolektif. Contoh praktik:
Dalam praktik:
Kebajikan, bagi MacIntyre, bukan sekadar aturan, tetapi karakter yang dibentuk melalui praktik. Kebajikan diperlukan agar seseorang mampu mencapai excellence dalam suatu praktik. Ia menekankan kebajikan seperti:
Kebajikan ini terkait dengan telos manusia.
MacIntyre menolak gagasan bahwa rasionalitas bersifat universal dan bebas konteks. Menurutnya:
Inilah alasan ia berpaling pada Aristotelianisme dan Thomisme.
MacIntyre menghidupkan kembali gagasan Aristoteles bahwa manusia memiliki tujuan (telos) yang melekat dalam kodratnya. Namun ia mengembangkan versi yang diperkaya oleh pemikiran Thomas Aquinas:
Etika kebajikan menjadi jawaban MacIntyre atas kegagalan etika modern.
Berbeda dari liberalisme modern, MacIntyre menekankan bahwa:
Komunitas, bukan negara liberal atau pasar, merupakan fondasi kehidupan moral yang sehat.
MacIntyre mengkritik masyarakat liberal karena:
Menurutnya, masyarakat liberal tidak mampu menyediakan ruang bagi pembentukan kebajikan.
Dalam karya Whose Justice? Which Rationality? (1988), MacIntyre menjelaskan bahwa konflik antar konsep keadilan berasal dari tradisi yang berbeda. Tidak ada teori keadilan yang dapat dipahami tanpa konteks asalnya.
Ia juga menekankan pentingnya institusi untuk menopang praktik, namun institusi selalu rentan terhadap:
Kebajikan diperlukan agar praktik dan institusi tetap selaras.
Alasdair Chalmers MacIntyre adalah seorang filsuf moral asal Skotlandia yang lahir pada tahun 1929. Ia dikenal sebagai salah satu pemikir etika paling berpengaruh pada abad ke-20, terutama melalui kritiknya terhadap filsafat moral modern dan pembelaannya terhadap etika kebajikan.
Gagasan utama MacIntyre menekankan pentingnya tradisi, praktik sosial, dan kebajikan dalam memahami moralitas. Melalui karyanya After Virtue, ia berargumen bahwa etika modern kehilangan kerangka moral yang koheren dan perlu kembali pada pendekatan etika kebajikan yang berakar pada pemikiran Aristoteles.
Pemikiran Alasdair MacIntyre berpengaruh luas karena memberikan kritik mendalam terhadap individualisme dan relativisme moral. Pandangannya memengaruhi diskusi dalam filsafat, teologi, dan ilmu sosial, terutama dalam memahami etika dan kehidupan bermasyarakat.