Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 17 Desember 2025
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 17 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Aji Saka adalah tokoh legendaris yang menempati posisi fundamental dalam folklor Jawa dan dikenal luas sebagai pembawa peradaban, hukum, serta aksara Jawa. Legenda ini memiliki pengaruh besar dalam pembentukan identitas budaya masyarakat Jawa karena mengandung narasi asal-usul tata kehidupan yang beradab, bermoral, dan berlandaskan aturan. Kisah Aji Saka diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan, naskah kuno seperti babad dan serat, seni pertunjukan tradisional, hingga kurikulum pendidikan. Dalam kajian folklor dan antropologi budaya, Aji Saka dipahami sebagai pahlawan budaya yang merepresentasikan transformasi sosial dari kekacauan menuju keteraturan serta dari kekuasaan tiran menuju kepemimpinan yang adil dan beretika.
Daftar Isi
Folklor Aji Saka bermula dari gambaran Tanah Jawa yang berada di bawah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar, seorang raja lalim yang digambarkan memiliki sifat kejam dan kanibalistik. Ia memerintah dengan kekerasan dan menindas rakyatnya tanpa belas kasihan. Kondisi ini melukiskan keadaan masyarakat yang hidup tanpa hukum, keamanan, dan nilai moral yang jelas, sebuah situasi yang dalam folklor sering diidentikkan dengan masa kegelapan atau pra-peradaban.
Aji Saka datang dari wilayah seberang sebagai sosok asing yang membawa kebijaksanaan, kesaktian, dan pengetahuan. Kedatangannya menandai awal perubahan besar di Tanah Jawa. Dengan kecerdikan dan strategi simbolik, Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar. Kemenangan ini bukan sekadar kemenangan fisik, melainkan kemenangan akal budi, hukum, dan nilai kemanusiaan atas kekuasaan brutal.
Setelah menaklukkan Dewata Cengkar, Aji Saka menata ulang kehidupan masyarakat Jawa dengan memperkenalkan sistem hukum, tata krama, dan tatanan sosial yang lebih manusiawi. Bagian paling terkenal dari cerita ini adalah kisah dua abdi setianya, Dora dan Sembada. Keduanya memegang teguh perintah Aji Saka, namun karena konflik amanat dan kesalahpahaman, mereka bertarung hingga tewas. Tragedi ini kemudian diabadikan dalam rangkaian aksara Jawa Hanacaraka, yang tidak hanya berfungsi sebagai sistem tulisan, tetapi juga sebagai narasi simbolik tentang kesetiaan, pengorbanan, dan konsekuensi moral.
Folklor Aji Saka termasuk dalam kategori legenda, yaitu cerita rakyat yang dipercaya memiliki dasar historis dan berkaitan dengan asal-usul suatu tempat, budaya, atau sistem sosial. Dalam kajian folklor, legenda Aji Saka dapat diklasifikasikan lebih lanjut sebagai:
Sebagai legenda, Aji Saka berperan menjembatani antara mitos dan sejarah, memberikan penjelasan simbolik mengenai asal-usul kebudayaan Jawa dan legitimasi nilai-nilai sosial yang dianut masyarakatnya.
Folklor Aji Saka berkembang dalam konteks budaya Jawa Kuno yang mengalami proses panjang akulturasi dan sinkretisme, terutama dengan pengaruh Hindu-Buddha dari India. Banyak penafsiran akademik melihat Aji Saka sebagai simbol masuknya peradaban tulis, sistem pemerintahan kerajaan, serta konsep hukum formal ke Nusantara.
Dalam pandangan kosmologi Jawa, cerita ini mencerminkan konsep keseimbangan antara kekuatan baik dan buruk, keteraturan dan kekacauan. Dewata Cengkar melambangkan hawa nafsu, kekuasaan absolut, dan kekacauan moral, sementara Aji Saka merepresentasikan keteraturan, hukum, dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, folklor ini berfungsi sebagai narasi legitimasi budaya yang menjelaskan mengapa hukum, bahasa, dan aksara memiliki kedudukan sakral dalam masyarakat Jawa.
Folklor Aji Saka memiliki berbagai makna dan fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, antara lain: