Agnostisisme

Dipublikasikan: 4 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Agnostisisme adalah pandangan filosofis dan teologis yang menekankan keterbatasan pengetahuan manusia mengenai eksistensi Tuhan, realitas transenden, atau hal-hal gaib. Bagi penganut agnostisisme, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan atau realitas supranatural tidak dapat dibuktikan maupun dibantah dengan kepastian rasional atau empiris. Dengan kata lain, posisi ini menolak klaim dogmatis baik terhadap teisme maupun ateisme, menempatkan pengetahuan manusia dalam kerangka keterbatasan epistemologis. Agnostisisme sering dipahami bukan sekadar sebagai sikap skeptis, tetapi sebagai pendekatan kritis terhadap klaim-klaim metafisik dan religius, yang menuntut bukti yang memadai sebelum menerima keyakinan tertentu. Sikap ini muncul dalam berbagai konteks, dari filsafat Yunani kuno hingga pemikiran modern, dan memiliki implikasi signifikan terhadap etika, sains, dan dialog antaragama.

Ajaran Agnostisisme

Agnostisisme menekankan bahwa manusia tidak memiliki kapasitas epistemik untuk mengetahui hal-hal yang bersifat ilahi atau transenden dengan kepastian mutlak. Istilah “agnostik” sendiri diperkenalkan oleh Thomas Henry Huxley pada abad ke-19 untuk menggambarkan sikap ilmiah yang menolak klaim yang tidak dapat diuji atau diverifikasi secara empiris. Dalam kerangka ini, keyakinan pada Tuhan atau penyangkalan terhadap Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang bersifat spekulatif, bukan pengetahuan yang dapat dipastikan.

Secara teoretis, agnostisisme dapat dibagi menjadi beberapa kategori. Agnostisisme teoretis menekankan keterbatasan pengetahuan manusia dan menegaskan bahwa kebenaran metafisik berada di luar jangkauan rasio. Agnostisisme praktis, di sisi lain, menekankan sikap hidup yang tidak mengandalkan dogma agama, tetapi tetap membuka kemungkinan adanya realitas transenden. Beberapa agnostik modern juga menekankan perlunya toleransi epistemik, menghargai bahwa keyakinan orang lain bisa berbeda-beda dan bahwa tidak ada cara definitif untuk membuktikan atau membantah klaim religius.

Orang lain juga membaca :  Adopsionisme

Agnostisisme berbeda dari ateisme. Ateisme menolak eksistensi Tuhan secara eksplisit, sementara agnostisisme menekankan ketidakmampuan manusia untuk mengetahui atau membuktikan hal tersebut. Dengan demikian, agnostisisme menekankan kerendahan epistemik dan sikap kritis, bukan penolakan dogmatis terhadap kepercayaan religius.

Sejarah Perkembangan Agnostisisme

Meskipun istilah formal “agnostik” muncul pada abad ke-19, gagasan yang serupa sudah ada sejak filsuf Yunani kuno seperti Socrates, yang menekankan kesadaran atas ketidaktahuan diri sendiri (gnōthi seauton). Skeptisisme Pyrrhonis juga menekankan ketidakpastian pengetahuan manusia, khususnya mengenai hal-hal metafisik. Pada Abad Pertengahan, beberapa filsuf muslim dan Yahudi, seperti Al-Ghazali dan Maimonides, membahas keterbatasan rasio manusia dalam memahami Tuhan, yang menunjukkan kesadaran epistemik serupa dengan agnostisisme modern.

Agnostisisme modern mulai populer pada abad ke-19 melalui pemikiran Thomas Huxley, yang menekankan pentingnya sikap ilmiah dan empiris dalam menghadapi klaim religius. Pemikiran ini berkembang seiring kemajuan sains dan kritik terhadap dogma keagamaan tradisional. Di abad ke-20 dan 21, agnostisisme mendapat tempat dalam diskusi filsafat analitik, epistemologi, dan perdebatan publik mengenai sains dan agama, di mana ia menekankan pentingnya bukti dan penalaran kritis dalam membentuk pandangan dunia.

Agnostisisme juga memengaruhi perkembangan sekularisme, pluralisme, dan humanisme, dengan menekankan sikap terbuka terhadap berbagai kemungkinan, serta menolak klaim absolut tanpa dasar bukti. Hal ini menjadikannya perspektif penting dalam dialog antaragama dan debat etika modern.

Tokoh-Tokoh Agnostisisme

  1. Thomas Henry Huxley – Ilmuwan Inggris abad ke-19 yang mencetuskan istilah “agnostik” dan menekankan sikap ilmiah terhadap klaim religius.
  2. Bertrand Russell – Filsuf Inggris yang dikenal karena tulisan-tulisannya tentang skeptisisme agama dan penekanan pada rasio sebagai basis keyakinan.
  3. Socrates – Filsuf Yunani kuno yang menekankan kesadaran akan ketidaktahuan diri sendiri dan mendorong skeptisisme epistemik.
  4. David Hume – Filsuf Skotlandia yang menyoroti keterbatasan pengetahuan manusia mengenai hal-hal metafisik dan supernatural.
  5. Richard Dawkins – Ilmuwan dan penulis kontemporer yang mendukung pendekatan rasional dan empiris dalam menilai klaim religius, sering menekankan sikap agnostik terhadap metafisika yang tidak dapat dibuktikan.

Apa bedanya atheis dan agnostik?

Atheis menolak atau tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan agnostik ragu atau yakin bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui. Singkatnya, atheis menolak, agnostik mempertanyakan atau mengaku tidak tahu.

Apakah orang agnostik percaya Tuhan?

Orang agnostik tidak secara pasti percaya atau tidak percaya pada Tuhan. Mereka berpendapat bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui atau dibuktikan secara pasti, sehingga bersikap skeptis atau netral.

Bagaimana menjelaskan agnostisisme?

Agnostisisme adalah pandangan bahwa keberadaan Tuhan atau hal gaib tidak dapat diketahui secara pasti. Agnostik tidak menegaskan atau menolak Tuhan, melainkan menekankan keterbatasan pengetahuan manusia dalam hal spiritual atau metafisis.

Referensi

  • Huxley, T. H. (1889). Agonsticism and scientific thinking. Macmillan.
  • Russell, B. (1948). Human Knowledge: Its Scope and Limits. George Allen & Unwin.
  • Copleston, F. (1993). A History of Philosophy, Volume I: Greece and Rome. Image Books.
  • Grayling, A. C. (2015). The God Argument: The Case Against Religion and for Humanism. Bloomsbury.
  • Shermer, M. (2002). Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time. Holt Paperbacks.

Citation

Previous Article

Adopsionisme

Next Article

Animisme

Citation copied!