Raymond Kelvin Nando — Affirming the Consequent adalah salah satu bentuk sesat pikir formal yang tampak sederhana namun memiliki implikasi serius dalam cara manusia menilai hubungan sebab-akibat. Kekeliruan ini terjadi ketika seseorang menyimpulkan bahwa jika suatu konsekuensi benar, maka kondisi yang menjadi penyebabnya juga pasti benar. Dengan kata lain, pola berpikirnya menegaskan akibat untuk membenarkan sebab. Dalam logika deduktif, ini merupakan kesalahan struktural karena kesimpulan tersebut tidak mengikuti premis secara valid. Meskipun demikian, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terjebak dalam pola ini karena kecenderungan kognitif untuk mencari hubungan yang mudah dan intuitif, meskipun tidak akurat. Memahami kekeliruan ini sangat penting terutama dalam diskursus ilmiah, analisis data, dan penalaran filosofis.
Daftar Isi
Struktur Formal Kekeliruan
Secara logis, affirming the consequent mengikuti pola berikut:
- Jika P, maka Q.
- Q benar.
- Maka P benar.
Contohnya:
“Jika seseorang seorang filsuf, maka dia sering membaca buku.
Orang ini sering membaca buku.
Maka dia seorang filsuf.”
Struktur seperti ini keliru karena Q dapat disebabkan oleh banyak faktor lain selain P. Validitas logis hanya terjamin pada modus ponens (“Jika P maka Q; P benar, maka Q benar”), bukan ketika kita membalik prosesnya. Kesalahan terjadi karena menyamakan kondisi cukup (P → Q) dengan kondisi perlu, padahal keduanya tidak identik.
Mengapa Kekeliruan Ini Terjadi
Secara epistemologis dan psikologis, manusia cenderung mengikuti pola inferensi yang intuitif. Ketika melihat dampak tertentu, kita sering ingin langsung menunjuk penyebabnya. Dalam banyak konteks, ini merupakan heuristik bermanfaat, tetapi tidak selalu akurat. Sebab-akibat dalam dunia nyata sering bersifat multipel, kompleks, dan tidak linear. Ketika seseorang menegaskan akibat untuk menyimpulkan sebab, ia mengabaikan kemungkinan alternatif. Kekeliruan ini juga dipengaruhi oleh bias konfirmasi: kita cenderung mencari hubungan yang memperkuat hipotesis awal, bukan memeriksa apakah hubungan tersebut benar secara struktural.
Contoh dalam Ilmu Pengetahuan dan Kehidupan Publik
Dalam sains, kekeliruan ini muncul ketika peneliti menyimpulkan suatu teori benar hanya karena hasil eksperimen sesuai harapan, padahal bisa ada banyak teori lain yang juga menghasilkan prediksi serupa. Dalam politik, seseorang dapat mengatakan: “Jika pemerintah korup, ekonomi menurun; ekonomi menurun, berarti pemerintah korup,” padahal ada banyak faktor lain yang memengaruhi ekonomi. Dalam hukum, menyimpulkan guilt hanya karena suatu tanda cocok dengan hipotesis tertentu juga berbahaya. Kekeliruan affirming the consequent dapat memicu kesalahan besar dalam pengambilan keputusan publik.
Dimensi Filosofis
Dalam filsafat ilmu, kekeliruan ini berhubungan erat dengan masalah induksi dan falsifikasi. Karl Popper menekankan bahwa kebenaran teori tidak bisa ditentukan melalui konfirmasi semata, karena banyak teori dapat menjelaskan fenomena tertentu. Untuk itu, falsifikasi lebih penting daripada verifikasi. Dengan kata lain, fakta bahwa konsekuensi teori sesuai dengan observasi tidak berarti teori itu pasti benar—persis inti dari affirming the consequent. Secara ontologis, kekeliruan ini juga mengingatkan bahwa realitas tidak sesederhana hubungan sebab-akibat satu arah.
Cara Menghindari Kekeliruan
Pertama, bedakan antara kondisi cukup dan kondisi perlu. Kedua, selalu periksa kemungkinan penyebab lain yang dapat menghasilkan akibat yang sama. Ketiga, gunakan metode falsifikasi: tanyakan apa yang dapat membuktikan bahwa hipotesis salah. Keempat, gunakan diagram logika atau tabel kebenaran untuk memeriksa validitas argumen. Kelima, dalam analisis ilmiah, jangan hanya mencari konfirmasi; fokuslah pada mekanisme dan penjelasan kausal yang lebih luas.
FAQ
Apakah affirming the consequent selalu salah?
Ya, dalam logika formal ia selalu salah karena struktur inferensinya tidak valid. Namun dalam induksi, ia dapat memberikan petunjuk awal, bukan kesimpulan final.
Mengapa kekeliruan ini sering muncul dalam sains?
Karena banyak ilmuwan secara intuitif menganggap keberhasilan prediksi sebagai bukti kuat, padahal prediksi benar tidak selalu mengonfirmasi teori secara final.
Apa perbedaan kekeliruan ini dengan modus tollens?
Modus tollens valid (“Jika P maka Q; Q salah; maka P salah”), sementara affirming the consequent tidak valid karena membalik arah inferensi.
Referensi
- Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to Logic. Routledge.
- Popper, K. (2002). The Logic of Scientific Discovery. Routledge.
- Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.