Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — ABI JSON Encoding merupakan mekanisme pengodean yang digunakan untuk merepresentasikan data, struktur, dan instruksi berdasarkan standar ABI dalam format JSON yang mudah dibaca manusia dan tetap konsisten secara mesin. Encoding ini banyak digunakan dalam lingkungan pengembangan perangkat lunak modern yang membutuhkan format interoperabel, transparan, serta mudah diintegrasikan dengan tool, API, otomasi, dan sistem terdistribusi. Dengan mengadaptasi aturan ketat ABI ke dalam bentuk JSON, proses serialisasi data menjadi lebih mudah dikembangkan, diuji, dan dipindahkan antar platform tanpa kehilangan presisi struktural. ABI JSON Encoding menjadi jembatan antara dunia low-level binary dan high-level structured data, khususnya dalam arsitektur modern seperti blockchain, WebAssembly, dan sistem lintas bahasa yang memerlukan determinisme absolut.
Daftar Isi
ABI JSON Encoding adalah format pengodean yang memetakan struktur Application Binary Interface (ABI) ke dalam representasi JSON yang terstandarisasi. Jika ABI tradisional bekerja dalam ranah biner, ABI JSON Encoding membawa konsep tersebut ke format yang dapat dibaca manusia tanpa kehilangan aturan pemetaan tipe data, struktur, fungsi, parameter, dan nilai pengembalian.
Encoding ini berfungsi sebagai lapisan deklaratif yang menjelaskan bagaimana data harus di-encode dan decode menurut spesifikasi ABI. JSON digunakan sebagai medium karena sifatnya yang ringan, fleksibel, dan menjadi standar de facto untuk komunikasi antar sistem modern. ABI JSON Encoding memungkinkan aplikasi, compiler, interpreter, atau contract engine untuk mengetahui cara mentransformasikan nilai input, struktur kompleks, dan instruksi fungsi menjadi representasi biner ABI secara deterministik.
Format ini digunakan secara luas dalam ekosistem blockchain (misalnya Ethereum), sistem modul WebAssembly, protokol lintas bahasa, dan berbagai runtime terdistribusi untuk memastikan integritas data, stabilitas kontrak, serta interoperabilitas antar komponen.
Konsep ABI sudah ada sejak era awal sistem operasi modern, tetapi kebutuhan akan versi JSON-nya muncul jauh lebih belakangan, khususnya sekitar era 2010-an ketika sistem terdistribusi dan arsitektur smart contract mulai berkembang pesat. Para pengembang membutuhkan cara yang lebih mudah, transparan, dan terstruktur untuk mendeskripsikan fungsi, tipe data, dan layout memori yang sebelumnya hanya terdokumentasi dalam spesifikasi biner atau header teknis yang sulit dibaca.
Ketika blockchain seperti Ethereum dirancang, para pengembang membutuhkan cara untuk menjelaskan struktur fungsi kontrak, parameter, event, dan tipe data agar dapat dikonsumsi oleh wallet, library, compiler, dan node tanpa kesalahan interpretasi. Dari sinilah mekanisme ABI dalam format JSON mulai dipopulerkan secara luas. Kebutuhan serupa muncul dalam sistem WebAssembly, modul native, dan berbagai runtime terautomasi.
Seiring berkembangnya ekosistem pengembangan lintas bahasa dan standar interoperabilitas yang lebih tinggi, ABI JSON Encoding menjadi salah satu format utama untuk dokumentasi mesin, otomasi alat pengembang, serta integrasi antar komponen. Format ini terus diadopsi dalam berbagai standar modern yang mengutamakan portabilitas, keamanan, dan determinisme.
ABI JSON Encoding mengikuti prinsip deskriptif dan deterministik, mencakup:
Setiap fungsi, parameter, dan tipe pengembalian direpresentasikan sebagai objek JSON yang berisi nama fungsi, daftar tipe parameter, dan struktur output.
Tipe ABI seperti uint256, bytes32, address, bool, dan array direpresentasikan secara eksplisit dalam JSON sehingga dapat ditransformasi ke encoding biner ABI.
JSON mendeskripsikan urutan field dan tipe-nya secara hierarkis sehingga encoder dapat membuat representasi biner yang konsisten.
ABI JSON sendiri tidak menyimpan biner, namun berfungsi sebagai panduan untuk bagaimana nilai diubah ke ABI binary encoding yang deterministik.
Untuk sistem yang memakai event (misalnya blockchain), ABI JSON mendeskripsikan topik dan parameter log secara detail.
JSON memungkinkan debugging mudah, sementara spesifikasi ABI memastikan encoding tetap tanpa ambigu.
Contoh berikut menggambarkan pola umum representasi JSON yang digunakan untuk encoding ABI:
[
{
"name": "transfer",
"type": "function",
"inputs": [
{ "name": "to", "type": "address" },
{ "name": "value", "type": "uint256" }
],
"outputs": [
{ "name": "success", "type": "bool" }
]
}
]
Input Pemanggilan
transfer("0xA1B2...", 2500)
Output ABI Binary (Representasi Konseptual Hex)
0xa9059cbb
000000000000000000000000A1B2...
00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000009C4
JSON mendeskripsikan struktur, sedangkan encoder mengubahnya ke bentuk biner sesuai ABI spesifikasi.
ABI JSON Encoding adalah format representasi Application Binary Interface (ABI) yang dituliskan dalam bentuk JSON. Format ini umum digunakan dalam ekosistem blockchain, khususnya Ethereum, untuk mendeskripsikan struktur fungsi, event, dan tipe data dalam smart contract agar dapat dipahami oleh aplikasi eksternal.
ABI JSON Encoding berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara smart contract dan aplikasi seperti web, backend, atau wallet. Dengan ABI JSON, aplikasi dapat mengetahui cara memanggil fungsi, mengirim parameter, serta membaca data dan event yang dihasilkan oleh smart contract.
ABI JSON Encoding penting karena memungkinkan interoperabilitas dan otomatisasi dalam interaksi smart contract. Tanpa ABI JSON, aplikasi tidak dapat memahami struktur internal kontrak, sehingga pemanggilan fungsi dan pengolahan data blockchain tidak dapat dilakukan secara tepat.