Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — ABI Encoding merupakan salah satu metode pengodean yang dirancang untuk memberikan struktur representasi data yang efisien, stabil, serta mudah dipindahkan antar sistem dengan standar interoperabilitas yang konsisten. Dalam banyak konteks teknis, ABI Encoding digunakan untuk menggambarkan cara nilai, tipe data, struktur, dan instruksi dipetakan secara deterministik agar dapat diproses oleh modul atau perangkat yang berbeda—baik dalam arsitektur perangkat lunak, jaringan, maupun sistem terdistribusi. Pendekatan encoding ini mengutamakan standar pemetaan data yang ketat sehingga setiap unit informasi dapat ditafsirkan dengan benar, terlepas dari perbedaan lingkungan operasional. ABI Encoding menjadi komponen penting dalam proses pertukaran data antar sistem karena fokusnya pada kompatibilitas, stabilitas format, serta kemampuan untuk mempertahankan representasi yang presisi pada berbagai platform.
Daftar Isi
ABI (Application Binary Interface) Encoding adalah mekanisme encoding yang mendefinisikan bagaimana data, struktur memori, fungsi, dan parameter direpresentasikan dalam bentuk biner agar dapat dijalankan secara konsisten di berbagai lingkungan komputasi. Berbeda dengan API yang bekerja dalam ranah komunikasi antarmuka perangkat lunak, ABI bekerja pada level lebih rendah, yaitu cara data dikemas, dikirimkan, dan diproses oleh mesin yang berbeda, termasuk prosesor, compiler, runtime, dan modul biner eksternal.
Encoding yang dilakukan oleh ABI mencakup metode untuk merepresentasikan tipe data (integer, float, boolean, array, pointer, struktur kompleks), aturan alignment memori, pemanggilan fungsi (calling convention), tata letak struktur, dan format pengembalian nilai. Semua elemen tersebut ditransformasikan dalam bentuk biner dengan aturan ketat sehingga dapat diterjemahkan tanpa ambigu oleh sistem apa pun yang mengikuti ABI yang sama.
ABI Encoding dipakai luas dalam berbagai platform—seperti POSIX, ELF, WebAssembly ABI, Ethereum ABI, hingga format encoding lintas bahasa pemrograman—karena memberikan dasar interoperabilitas antara kode yang dikompilasi dan lingkungan eksekusi.
Konsep ABI muncul pada era awal sistem operasi dan compiler ketika kebutuhan untuk berbagi modul biner meningkat. Pada tahun 1970–1980-an, perkembangan arsitektur UNIX dan kompatibilitas antar varian hardware menciptakan kebutuhan mendesak akan standar representasi biner yang konsisten. Compiler yang berbeda menghasilkan kode biner yang tidak kompatibel satu sama lain, sehingga modul eksternal tidak bisa saling memanggil meskipun ditulis dalam bahasa yang sama.
Ketika standar POSIX mulai terbentuk, ABI menjadi salah satu fondasi interoperabilitas yang ditetapkan untuk memastikan setiap objek biner, library, atau executable dapat diproses secara seragam. Pada dekade 1990-an, format ELF mempertegas peran ABI Encoding sebagai standar lintas compiler di sistem berbasis UNIX.
Kemunculan bahasa pemrograman modern seperti Java, C#, Rust, dan Go memperluas kebutuhan standar ABI, karena dunia komputasi semakin mengandalkan interoperabilitas antar modul dan mesin virtual. Selanjutnya, teknologi seperti WebAssembly dan smart contract blockchain (misalnya Ethereum) mengadopsi ABI Encoding sebagai format utama untuk interaksi data yang deterministik dan dapat diverifikasi.
Dengan meningkatnya kebutuhan integrasi sistem lintas lingkungan—cloud, edge computing, embedded systems—ABI Encoding terus berkembang sebagai salah satu komponen paling krusial dalam desain arsitektur perangkat lunak dan perangkat keras.
ABI Encoding beroperasi dengan prinsip struktur biner deterministik, yang meliputi:
ABI menentukan bagaimana tipe data primitif dan kompleks direpresentasikan dalam biner, termasuk panjang, alignment, dan endianess.
Setiap elemen struktur diurutkan dengan ketentuan alignment tertentu agar dapat diproses optimal oleh CPU.
ABI mendefinisikan cara parameter fungsi dikirim—melalui register, stack, atau kombinasi keduanya—serta bagaimana nilai dikembalikan.
Nilai-nilai fungsi di-encode dalam format yang konsisten sehingga modul biner dapat memanggil satu sama lain tanpa misinterpretasi.
Encoding yang sama harus selalu menghasilkan urutan biner yang sama, memungkinkan pemeriksaan integritas dan kompatibilitas otomatis.
ABI memastikan kode biner dapat dipindahkan atau dijalankan pada platform yang mendukung ABI tersebut tanpa perlu dikompilasi ulang.
Metode encoding dapat bervariasi menurut platform, namun prinsip inti di atas selalu diterapkan pada setiap implementasi ABI.
Contoh berikut menunjukkan pola encoding berbasis ABI untuk beberapa tipe data:
| Input | Tipe | Output ABI (Hex Representasi Konseptual) |
|---|---|---|
| 42 | uint32 | 0x00 00 00 2A |
| “Test” | string | 0x00 00 00 04 54 65 73 74 |
| [10, 20] | array uint16 | 0x00 02 00 0A 00 14 |
| Struct { id:1, flag:1 } | struct | 0x00 00 00 01 01 |
| Fungsi foo(5, 9) | call encoding | 0x02 args: 00 00 00 05 00 00 00 09 |
Encoding dapat berbeda tergantung jenis ABI (ELF ABI, EVM ABI, System V ABI), tetapi tabel ini menggambarkan pola dasar representasinya.
ABI Encoding adalah metode pengkodean data yang digunakan dalam Application Binary Interface (ABI), khususnya dalam konteks blockchain seperti Ethereum. ABI Encoding berfungsi untuk mengubah data—seperti parameter fungsi dan nilai kembalian—ke dalam format biner standar agar dapat dipahami dan diproses oleh mesin virtual, seperti Ethereum Virtual Machine (EVM).
ABI Encoding penting karena memungkinkan komunikasi yang konsisten antara smart contract dan aplikasi eksternal, seperti wallet atau decentralized application (dApp). Dengan ABI Encoding, pemanggilan fungsi smart contract dapat dilakukan secara tepat, termasuk pengiriman argumen dan pembacaan hasil eksekusi.
Secara umum, ABI Encoding bekerja dengan menyusun data ke dalam blok berukuran tetap sesuai aturan tertentu, seperti tipe data, urutan parameter, dan padding. Proses ini memastikan bahwa setiap data memiliki struktur yang dapat diprediksi, sehingga kontrak pintar dan aplikasi lain dapat saling memahami tanpa ambiguitas.