Dipublikasikan: 24 September 2025
Terakhir diperbarui: 26 Desember 2025
Dipublikasikan: 24 September 2025
Terakhir diperbarui: 26 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Jacques Derrida adalah seorang filsuf Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai pendiri aliran deconstruction (dekonstruksi). Ia merupakan salah satu tokoh sentral dalam filsafat kontinental modern, terutama dalam bidang hermeneutika, semiotika, dan teori sastra. Pemikirannya mengguncang tradisi metafisika Barat dengan menunjukkan bagaimana teks selalu membuka ruang bagi makna-makna baru yang tidak pernah final.
Daftar Isi
Jacques Derrida lahir pada 15 Juli 1930 di El-Biar, Aljazair, ketika wilayah tersebut masih merupakan koloni Prancis. Ia berasal dari keluarga Yahudi Sefardim. Masa kecilnya diwarnai diskriminasi, terutama setelah diberlakukannya hukum Vichy yang mendiskriminasi kaum Yahudi pada masa pendudukan Nazi.
Pada usia muda, Derrida menaruh minat besar pada sastra dan filsafat. Ia kemudian melanjutkan studi di École Normale Supérieure di Paris, di mana ia mendalami karya-karya fenomenolog Jerman seperti Husserl dan Heidegger.
Tahun 1967 menjadi tonggak penting dalam karier Derrida, ketika ia menerbitkan tiga karya monumental: De la grammatologie (Of Grammatology), L’écriture et la différence (Writing and Difference), dan La voix et le phénomène (Speech and Phenomena). Buku-buku ini memperkenalkan konsep dekonstruksi kepada dunia intelektual.
Derrida kemudian menjadi tokoh penting dalam lingkaran intelektual Prancis, berhubungan erat dengan tokoh seperti Michel Foucault dan Roland Barthes. Pemikirannya meluas ke Amerika, di mana ia berpengaruh besar dalam bidang literary theory dan cultural studies.
Ia wafat pada 8 Oktober 2004 di Paris akibat kanker pankreas, meninggalkan warisan pemikiran yang terus diperdebatkan hingga kini.
Derrida memperkenalkan istilah différance, permainan kata dari différence.
Ia menulis:
“La différance est ce qui rend possible l’économie de la langue…” — “Différance adalah yang membuat mungkin ekonomi bahasa.” (De la grammatologie, 1967, hlm. 23)
Menurut Derrida, makna tidak pernah hadir secara penuh. Bahasa bekerja melalui perbedaan antar-tanda, dan makna selalu ditunda karena setiap kata merujuk pada kata lain. Dengan demikian, tidak ada “pusat” makna yang final.
Pemikiran ini meruntuhkan asumsi metafisika Barat tentang kebenaran yang hadir secara langsung, menggantinya dengan pemahaman bahwa makna selalu cair dan terbuka.
“Meaning is always deferred; it never arrives fully at a single moment” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 34).
Konsep makna selalu tertunda menegaskan bahwa makna dalam teks tidak pernah hadir secara penuh pada satu momen pembacaan. Makna muncul secara parsial melalui hubungan, perbedaan, dan konteks kata-kata lain, sehingga selalu menunggu konteks tambahan untuk penegasan lebih lanjut. Pendekatan ini menandai bahwa makna tidak pernah final dan selalu bergantung pada jaringan relasi linguistik yang tak terbatas.
Beberapa poin penting:
Catatan: Makna tidak pernah hadir sepenuhnya pada satu momen, sehingga interpretasi selalu bersifat tertunda dan terbuka.
“Meaning arises only through difference; words gain significance through their relations with other words” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 33).
Konsep makna muncul dari perbedaan menekankan bahwa kata atau konsep hanya memperoleh maknanya melalui relasi dan perbedaan dengan kata lain, bukan dari identitas atau referensi tunggal. Suatu istilah tidak memiliki makna independen yang berdiri sendiri, melainkan selalu ditentukan oleh perbedaan dan konteks jaringan bahasa secara keseluruhan. Dengan demikian, pembacaan teks selalu membuka ruang bagi interpretasi yang bergeser dan berlapis-lapis.
Beberapa poin penting:
Catatan: Makna bahasa terbentuk dari perbedaan dan relasi, sehingga selalu dinamis dan tidak pernah tetap.
Dalam L’écriture et la différence, Derrida menjelaskan:
“Il n’y a pas de hors-texte.” — “Tidak ada sesuatu pun di luar teks.” (De la grammatologie, 1967, hlm. 158)
Pernyataan ini sering disalahpahami. Maksud Derrida bukanlah bahwa dunia tidak ada, melainkan bahwa akses kita ke dunia selalu dimediasi oleh teks dan bahasa. Dekonstruksi adalah upaya untuk mengungkap kontradiksi, asumsi tersembunyi, dan hierarki dalam teks.
Dengan dekonstruksi, filsafat tradisional yang berfokus pada oposisi biner (seperti ucapan/tulisan, hadir/absen, kebenaran/kebohongan) dibongkar untuk menunjukkan bahwa oposisi itu tidak stabil.
“Texts contain internal tensions and contradictions, making meaning unstable and open to multiple interpretations” (Derrida, Writing and Difference, hlm. 55).
Membaca teks untuk kontradiksi menekankan bahwa teks tidak memiliki makna tunggal yang stabil, melainkan mengandung ketegangan internal yang sering tersembunyi di balik bahasa dan asumsi yang tampak koheren. Pendekatan ini mendorong pembaca menelusuri kontradiksi implisit, memahami bagaimana teks menegaskan satu sisi sambil membuka ruang bagi sisi yang berlawanan, serta memperhatikan apa yang ditekan atau disembunyikan.
Beberapa poin penting:
Catatan: Membaca kontradiksi memungkinkan pembaca menyingkap ambiguitas dan ketidakstabilan makna, sehingga interpretasi teks selalu bersifat relatif dan dinamis.
“Texts often establish implicit hierarchies, privileging one concept or value over another” (Derrida, Writing and Difference, hlm. 45).
Konsep ungkap hierarki tersembunyi menekankan pentingnya menelusuri struktur makna dan asumsi yang secara implisit menempatkan satu konsep, nilai, atau pihak lebih dominan dibandingkan yang lain. Teks sering membangun makna melalui oposisi biner, di mana satu sisi diprioritaskan dan sisi lain ditekan atau disingkirkan. Mengungkap hierarki tersembunyi berarti memperhatikan apa yang dianggap wajar atau alami dan bagaimana dominasi muncul melalui bahasa, struktur, atau pengorganisasian argumen.
Beberapa poin penting:
Catatan: Mengungkap hierarki tersembunyi membantu melihat bagaimana teks menegaskan dominasi tertentu dan menyembunyikan ketidakseimbangan makna atau posisi.
“Meaning is never final; it is always subject to reinterpretation” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 27).
Konsep makna tidak final menekankan bahwa teks tidak memiliki satu makna tetap atau final. Makna selalu bersifat dinamis, bergantung pada konteks pembaca, relasi antar kata, dan kondisi sosial-budaya yang melingkupinya. Setiap interpretasi membuka kemungkinan makna lain, dan teks selalu menyisakan ruang bagi ambiguitas, kontradiksi, dan pembacaan alternatif.
Beberapa poin penting:
Catatan: Makna teks bersifat selalu berubah dan terbuka, sehingga interpretasi tidak pernah bersifat final atau tunggal.
Metafisika kehadiran merujuk pada tradisi filsafat Barat yang menempatkan kehadiran sebagai dasar kebenaran dan makna. Filosofi ini cenderung menganggap bahwa makna, identitas, atau realitas hanya valid ketika hadir secara langsung, jelas, dan dapat diakses secara penuh.
Derrida menantang asumsi ini dengan menunjukkan bahwa bahasa dan teks selalu menunda, menyembunyikan, atau menggeser makna, sehingga kehadiran sejati tidak pernah dapat dicapai secara mutlak.
Dengan demikian, dekonstruksi berupaya mengungkap bagaimana teks dan pemikiran tradisional secara implisit membangun prioritas pada kehadiran, sementara menyembunyikan keterlambatan, perbedaan, dan ketidakstabilan yang melekat dalam bahasa.
“Meaning is never fully present; it is always mediated through relations and context” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 25).
Konsep makna tidak hadir secara langsung menegaskan bahwa makna teks atau bahasa tidak pernah tersedia secara penuh atau langsung pada pembaca. Makna muncul secara tidak langsung melalui hubungan, perbedaan, dan konteks kata-kata lain, sehingga pembacaan teks selalu bersifat parsial dan sementara. Bahasa selalu menyimpan jarak antara kata dan makna, menjadikan proses interpretasi sebagai praktik yang terus menunda kepastian dan membuka kemungkinan makna baru.
Beberapa poin penting:
Catatan: Makna tidak pernah hadir sepenuhnya pada satu momen, sehingga interpretasi selalu bersifat terbuka dan terus bergeser.
“Meaning is always deferred and never fully present; every reading only reveals a portion of meaning that depends on the relations between words and context” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 25).
Konsep ada penundaan dan ketidakhadiran menekankan bahwa makna dalam teks atau bahasa tidak pernah hadir sepenuhnya pada satu waktu, melainkan selalu mengalami penundaan dan ketidakhadiran sebagian. Bahasa bekerja melalui jaringan relasi antar kata, di mana makna hanya muncul secara relatif dan selalu bergantung pada konteks lain, sehingga ketidakstabilan makna menjadi kondisi intrinsik dari setiap teks. Pembacaan tidak pernah dapat menangkap makna secara total, melainkan selalu menyingkap makna parsial yang menunggu penafsiran lebih lanjut.
Beberapa poin penting yang menjelaskan penundaan dan ketidakhadiran makna:
Catatan: Konsep ini menunjukkan bahwa bahasa selalu menunda makna, sehingga pembacaan teks bersifat prosesual dan tidak pernah mencapai kepastian penuh.
“The trace is that which erases itself in presenting itself, the mark of an absence within presence” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 47).
Konsep trace (jejak) menekankan bahwa setiap tanda atau makna selalu membawa bekas dari sesuatu yang lain, baik yang hadir maupun yang tidak hadir. Jejak adalah tanda ketidakhadiran yang tetap hadir dalam bahasa, sehingga makna tidak pernah murni atau utuh.
Setiap kata mengandung jejak dari kata lain yang mendahuluinya dan dari kemungkinan makna lain yang ditekan. Dengan demikian, jejak memperlihatkan bahwa bahasa adalah medan keterhubungan tanpa asal-usul tunggal.
“Every sign carries within it the trace of other signs; it is never self-sufficient” (Derrida, Margins of Philosophy, hlm. 12).
Konsep kata membawa jejak kata lain menjelaskan bahwa tidak ada kata yang sepenuhnya berdiri sendiri. Setiap kata selalu mengandung jejak dari kata-kata lain yang mendahuluinya, yang berbeda darinya, atau yang mungkin ditekan oleh penggunaannya. Dengan demikian, makna suatu kata tidak dapat dilepaskan dari hubungan dengan kata lain, karena bahasa bekerja sebagai jaringan keterhubungan yang tanpa akhir.
Beberapa poin penting:
Catatan: Setiap kata menyimpan jejak dari kata lain, sehingga makna selalu terbentuk dalam relasi dan tidak pernah murni berdiri sendiri.
“There is nothing outside of the text… meaning is never stable, but constantly shifting within textual play” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 158).
Konsep teks dan instabilitas makna menunjukkan bahwa teks tidak pernah memiliki makna yang tetap dan tertutup. Makna selalu bergeser karena bahasa beroperasi melalui relasi, perbedaan, dan konteks yang berubah-ubah.
Setiap pembacaan membuka kemungkinan penafsiran baru, sekaligus menyingkap kontradiksi dan ketegangan yang membuat teks mustahil dipahami secara final. Dengan demikian, teks dipahami sebagai medan permainan tanda yang terus-menerus menghasilkan makna alternatif.
“The meaning of a text is produced not solely by the author, nor contained entirely within the text itself, but emerges through the interplay between text, author, and reader” (Derrida, Dissemination, hlm. 89).
Konsep makna muncul dari interaksi teks, penulis, dan pembaca menegaskan bahwa makna tidak berasal dari satu sumber tunggal. Penulis tidak sepenuhnya mengendalikan makna, teks tidak menyimpan makna yang statis, dan pembaca tidak menciptakan makna secara absolut.
Sebaliknya, makna lahir dari dinamika relasional antara ketiganya: intensi penulis, struktur teks, dan proses interpretasi pembaca. Hal ini membuat setiap pembacaan selalu bersifat terbuka, bergeser, dan dipengaruhi oleh kondisi historis maupun kultural.
Beberapa poin penting:
Catatan: Makna adalah hasil interaksi kompleks antara teks, penulis, dan pembaca, sehingga selalu bersifat dinamis, terbuka, dan tidak pernah tunggal.
“Logocentrism privileges speech over writing, assuming the presence of meaning in voice as more authentic than the written trace” (Derrida, Of Grammatology, hlm. 11).
Logosentrisme beranggapan bahwa suara menghadirkan makna secara langsung karena diasosiasikan dengan kehadiran subjek, sementara tulisan dianggap sekadar representasi sekunder.
Derrida mengkritik pandangan ini dengan menunjukkan bahwa baik ujaran maupun tulisan sama-sama bergantung pada sistem tanda, perbedaan, dan jejak, sehingga tidak ada yang bisa mengklaim otoritas makna yang lebih asli.
“Deconstruction questions the possibility of absolute truth, showing that every claim is mediated by language and therefore unstable” (Derrida, Positions, hlm. 41).
Setiap klaim kebenaran selalu dikonstruksi melalui bahasa, konteks, dan relasi kuasa tertentu, sehingga bersifat relatif, terbuka, dan dapat dipertanyakan kembali. Dengan dekonstruksi, Derrida menunjukkan bahwa teks atau wacana yang tampak menyampaikan kebenaran justru mengandung kontradiksi, penundaan, dan kemungkinan interpretasi lain.
Beberapa poin penting:
Catatan: Dekonstruksi menolak ide kebenaran mutlak dengan menegaskan bahwa klaim kebenaran selalu bersifat relatif, kontekstual, dan terbuka bagi interpretasi.
“Meaning depends on context, and context itself is never fully determinable” (Derrida, Limited Inc, hlm. 136).
Konsep ketergantungan makna pada konteks menunjukkan bahwa makna suatu teks atau ujaran tidak pernah dapat dipahami secara terpisah dari kondisi di mana ia muncul. Bahasa tidak memiliki arti yang tetap dan universal, melainkan selalu dipengaruhi oleh situasi sosial, historis, kultural, serta posisi pembaca atau pendengar. Karena konteks sendiri tidak pernah bisa ditetapkan secara total, makna senantiasa bersifat terbuka, bergeser, dan tidak final.
Beberapa poin penting:
Catatan: Makna tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu bergantung pada konteks yang tidak dapat diputuskan secara absolut.
“Deconstruction reveals aporia—moments of undecidability where texts cannot resolve their own contradictions” (Derrida, Dissemination, hlm. 65).
Konsep aporia merujuk pada titik-titik dalam teks di mana makna menjadi tidak dapat diputuskan secara pasti. Aporia muncul ketika teks mengandung kontradiksi internal, ambiguitas, atau ketegangan yang membuatnya tidak bisa memberikan jawaban tunggal. Alih-alih menutup ruang makna, aporia justru membuka kemungkinan pembacaan baru dan memperlihatkan bahwa makna selalu terbuka, bergeser, dan tidak final.
“Texts often encounter aporia, points where contradictions or impasses make resolution impossible” (Derrida, Dissemination, hlm. 67).
Konsep kontradiksi atau kebuntuan dalam teks menjelaskan bahwa teks tidak pernah sepenuhnya koheren. Di dalamnya sering muncul pertentangan, ambiguitas, atau kebuntuan (impasse) yang tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Situasi ini memperlihatkan bahwa makna tidak pernah stabil, karena klaim yang tampak konsisten dapat diguncang oleh ketegangan internal teks itu sendiri. Alih-alih dianggap sebagai kelemahan, kontradiksi atau kebuntuan justru membuka peluang bagi pembacaan baru.
Beberapa poin penting:
Catatan: Kontradiksi atau kebuntuan menunjukkan bahwa teks selalu menyimpan ketegangan internal yang menggagalkan kepastian makna, sekaligus membuka ruang interpretasi baru.
“Language bears within itself its own limits; it cannot fully capture presence or absolute meaning” (Derrida, Margins of Philosophy, hlm. 23).
Konsep mengungkap batas bahasa menyoroti bahwa bahasa tidak pernah mampu sepenuhnya merepresentasikan realitas atau makna secara total.
Setiap kata hanya berfungsi sebagai tanda yang menunjuk pada kata lain, sehingga selalu ada celah antara bahasa dan apa yang hendak diungkapkan. Dengan demikian, batas bahasa adalah kondisi struktural yang melekat pada sistem tanda, yang membuat makna selalu terbuka, tidak stabil, dan tidak pernah hadir secara penuh.
Beberapa poin penting:
Catatan: Mengungkap batas bahasa berarti menyadari bahwa bahasa tidak pernah menghadirkan makna absolut, melainkan hanya memungkinkan permainan penundaan dan perbedaan.
Dalam karya Spectres de Marx (1993), Derrida menulis:
“Un spectre hante l’Europe, le spectre du communisme.” — “Sebuah hantu menghantui Eropa, hantu komunisme.” (Spectres de Marx, 1993, hlm. 5)
Dengan menggemakan kalimat Marx, Derrida mengembangkan gagasan tentang hauntology (hantologi), yakni bahwa masa lalu yang belum selesai terus menghantui masa kini. Bagi Derrida, etika dan politik harus terbuka pada yang lain, pada keadilan yang selalu ditunda namun wajib dikejar.
Derrida juga memberi kontribusi pada estetika dengan mengurai konsep écriture (tulisan) sebagai bentuk produksi makna yang tak terbatas. Dalam konteks seni, ia menunjukkan bagaimana karya seni selalu mengandung kelebihan makna yang tak bisa dipatenkan oleh interpretasi tunggal.
Pemikirannya memengaruhi teori sastra post-strukturalis, seni kontemporer, hingga kajian arsitektur postmodern.
Jacques Derrida adalah filsuf Prancis yang mendirikan metode dekonstruksi, memperkenalkan konsep différance, dan mengguncang fondasi metafisika Barat. Ia menolak makna final, membuka jalan bagi pluralitas interpretasi, dan menggarisbawahi pentingnya etika keterbukaan terhadap yang lain. Warisannya tetap hidup dalam filsafat, teori sastra, dan humaniora kontemporer.
Konsep utamanya adalah deconstruction (dekonstruksi) dan différance (perbedaan dan penundaan makna).
Ia bermaksud bahwa realitas selalu dipahami melalui bahasa dan teks, bukan secara langsung.
Ia menginspirasi teori sastra post-strukturalis dengan menunjukkan bahwa makna teks selalu terbuka, tidak pernah final.